Inilah 3 Jenis Filariasis yang Perlu Diketahui

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Inilah 3 Jenis Filariasis yang Perlu Diketahui

Halodoc, Jakarta - Bila berbicara penyakit yang ditularkan oleh nyamuk, umumnya demam berdarah dan malaria yang banyak terbesit di kepala banyak orang. Padahal, ada beberapa penyakit lainnya yang bisa ditularkan oleh nyamuk, lho. Salah satunya adalah filariasis.   

Penyakit ini disebabkan oleh cacing filaria. Kata ahli, penyakit ini bisa menyerang hewan maupun manusia. Tapi yang perlu diawasi, penyakit ini bisa berakibat panjang bagi kesehatan. Sebabnya, bisa menimbulkan nyeri atau pembengkakan bagian tubuh pada waktu yang lama. Bahkan, juga dapat menghilangkan kemampuan seksual.

Hidup di Dalam Jaringan

Filariasis umumnya dikelompokkan berdasarkan lokasi habitat cacing dewasa dalam tubuh manusia. Jenisnya meliputi filariasis kulit, limfatik, dan rongga tubuh. Namun, filariasis limfatik merupakan jenis yang cukup banyak dialami orang-orang. Di negara kita, jenis yang satu ini lebih sering dikenal dengan sebutan kaki gajah. Setidaknya, menurut WHO sekitar 120 juta orang di dunia mengidap kaki gajah pada tahun 2000.

Biang keladi kaki gajah bisa disebabkan karena parasit Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, dan Brugia timori. Namun kata ahli, Wuchereria bancrofti merupakan parasit yang paling sering menyerang manusia. Kira-kira 9 dari 10 pengidap kaki gajah disebabkan oleh parasit ini.

Nah, parasit filaria ini bisa masuk ke tubuh melalui gigitan nyamuk yang sudah terinfeksi. Nantinya parasit ini akan tumbuh dewasa dan berbentuk cacing. Tapi yang bikin resah, cacing ini bisa bertahan hidup selama 6—8 tahun, dan terus berkembang biak dalam jaringan limfa manusia. Tuh, ngeri kan?

Menurut studi, penyakit kaki gajah amat umum terjadi di negara-negara tropis dan subtropis. Misalnya, Asia, Pasifik Barat, dan Afrika. Ingat, kondisi medis ini bisa menyerang orang di segala usia, lho.

Tak Hanya Satu Jenis

Bila dikelompokkan berdasarkan gejalanya, kaki gajah dibagi menjadi tiga kategori, yaitu tanpa gejala, akut, dan kronis. Berikut penjelasannya:

1. Tanpa Gejala

Kata ahli, kebanyakan infeksi kaki gajah terjadi tanpa menunjukkan gejala apapun. Meski begitu, infeksi kaki gajah kategori ini tetap bisa menyebabkan kerusakan pada jaringan limfa dan ginjal. Parahnya lagi, infeksi ini juga dapat memengaruhi sistem kekebalan tubuh.

2. Filariasis Limfatik Akut

Kategori ini dibagi menjadi dua jenis, yaitu adenolimfangitis akut (ADL) dan limfangitis filaria akut (AFL). Pengidap ADL akan menunjukkan gejala demam, pembengkakan noda limfa atau kelenjar getah bening, dan rasa sakit, bengkak, atau merah pada bagian tubuh yang terinfeksi.

ADL sendiri bisa kambuh dari satu kali dalam setahun, terutama di musim hujan. Kata ahli, cairan yang menumpuk nantinya bisa memicu infeksi jamur dan merusak kulit. Sementara AFL lain lagi. Biang keladi jenis ini disebabkan oleh cacing-cacing dewasa yang sekarat. Nantinya mereka akan memicu gejala yang sedikit berbeda dari ADL.

Pengidap AFL biasanya tak disertai gejala demam atau infeksi lain. Namun, gejala AFL memicu munculnya benjolan-benjolan kecil pada bagian tubuh tempat cacing-cacing sekarat berkumpul. Contohnya, pada sistem getah bening atau dalam skrotum.

3. Kronis

Pada kategori ini, penumpukkan cairan menyebabkan pembengkakan pada kaki dan lengan. Infeksi dan penumpukkan cairan karena buruknya sistem imun ini bisa berujung pada kerusakan dan penebalan lapisan kulit. Dalam dunia medis, kondisi ini disebut dengan elefantiasis. Dampak dari penumpukkan cairan tak hanya itu. Sebabnya, penumpukkan cairan ini juga bisa berdampak pada testis, payudara, dan rongga perut.

Punya masalah kesehatan seperti di atas? Jangan tunda untuk segera bertanya kepada dokter untuk meminta saran dan penanganan yang tepat. Kamu bisa lho, bertanya langsung kepada dokter ahli melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Baca juga: