Ketahui Penyebab Rematik di Usia Muda

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Ketahui Penyebab Rematik di Usia Muda

Halodoc, Jakarta – Rematik terjadi ketika otot atau persendian mengalami peradangan dan juga pembengkakan. Rematik biasanya terjadi di usia paruh baya, tetapi anak muda bisa juga terkena penyakit ini. Menurut penelitian 8 dari 100.000 orang yang berada di rentang usia 18-34 tahun mengidap rematik.

Menurut data kesehatan yang dipublikasikan oleh Arthritis Foundation, faktor lingkungan dan genetik dapat menempatkan anak muda pada risiko rematik. Ingin tahu lebih jelas mengenai informasi ini, baca selengkapnya pada uraian berikut!

Rematik Dini Memicu Komplikasi di Usia Tua

Ketika kamu mengalami rematik di usia muda dengan gejala peradangan pada persendian kecil, seperti jari-jari tangan dan kaki besar kemungkinan kamu bisa mengalami gejala yang lebih parah di usia tua nanti.

Baca juga: Mengenal Lebih Jauh Jenis-Jenis Rematik

Seperti yang diungkapnya sebelumnya, mengidap rematik di usia muda erat kaitannya dengan kondisi genetik. Terkadang orang dengan genetik tertentu sistem kekebalan tubuhnya punya kecenderungan melepaskan tingkat protein tertentu lebih tinggi. Kondisi ini membuat dia lebih rentan mengalami rematik.

Kalau ingin tahu lebih detail mengenai penyebab rematik di usia muda, tanyakan langsung saja di Halodoc. Dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat kapan dan di mana saja

Usia tua tidak hanya menjadi satu-satunya penyebab seseorang mengalami rematik. Ada beberapa faktor lain yang menjadi pemicu seperti:

  1. Jenis Kelamin

Ternyata, perempuan lebih cenderung mengalami rematik ketimbang laki-laki. Ini dikarenakan perempuan memiliki hormon estrogen. Hormon ini terkadang bisa menyebabkan fluktuasi pada sistem imun.

Gangguan pada sistem imunitas bisa membuat imun tubuh salah mengenai jaringan tubuhnya sendiri, sehingga menyerang sistemnya sendiri. Salah satu dampak dari kesalahan ini adalah timbulnya radang sendi.

2. Genetika

Tadi sudah dijelaskan bahwa kondisi genetik tertentu dapat menyebabkan seseorang lebih rentan mengalami rematik. Ketika salah seorang anggota keluarga mengalami rematik, besar kemungkinan kamu juga akan mengalami rematik. Segera periksakan diri ke dokter untuk mendapatkan informasi lebih jelas mengenai hal ini.

3. Obesitas

Orang yang memiliki berat badan berlebih (obesitas) lebih rentan terkena berbagai macam penyakit, salah satunya penyakit radang sendi. Perlu diketahui, sendi seperti lutut dan pinggul bekerja untuk menopang berat badan. Sendi di bagian ini akan merasakan tekanan lebih besar ketika seseorang sedang beraktivitas.

Obesitas bisa menyebabkan sakit atau radang pada sendi karena adanya beban atau tekanan berlebihan yang harus ditahan oleh sendi.

Gaya Hidup Sehat untuk Pengidap Rematik

Kamu juga sangat bisa menjalankan pola hidup sehat untuk mengelola rematikmu. Ini bisa dilakukan dengan cara menjaga pola makan sehat. Menghindari ataupun mengurangi daging-dagingan dan memperbanyak konsumsi sayur serta buah-buahan.

Untuk melatih persendian, lakukanlah olahraga intens, tetapi aman dan tidak ada kontak fisik. Kamu bisa menjalani olahraga yang cenderung “aman” seperti berenang, yoga, ataupun peregangan yang melatih fleksibilitas tubuh.

Baca juga: 5 Makanan yang Baik untuk Atasi Nyeri Sendi

Ketika rematikmu sedang kumat, sebaiknya jangan melakukan pergerakan yang memberikan hentakan pada bantalan sendi. Pergerakan ini disinyalir dapat memicu nyeri sendi lebih lagi. Kemudian, bangunlah lebih pagi untuk mendapatkan sinar matahari baik yang bagus untuk tulangmu.

Jangan melakukan gerakan tiba-tiba, jalankan aktivitasmu dengan sewajarnya, tidak berlebihan, dan pahami kapan-kapan saja biasanya gejala kumat supaya kamu bisa mengatur apa yang boleh dan tidak boleh untuk dilakukan.

Referensi:
Kids Health.org. Diakses pada 2020. What is Arthritis.
WebMD. Diakses pada 2020. Young Adults Live with RA.