Inilah Dampak Kesehatan dari 64 Hektar Longsoran Krakatau

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
dampak kesehatan longsor krakatau

Halodoc, Jakarta - Beberapa waktu lalu, Ibu Pertiwi dikejutkan dengan musibah yang datang dari sisi Barat kepulauan Jawa secara tiba-tiba. Tsunami yang terjadi di wilayah Selat Sunda tersebut diakibatkan karena adanya 64 hektar longsoran dari Gunung Anak Krakatau. Saat ini, Gunung Anak Krakatau berada dalam status level II, atau waspada.

Baca juga: Anak Krakatau Erupsi, Waspada Bahaya Abu Vulkanik Bagi Kesehatan

Sejak Juni 2018, Gunung Anak Krakatau memang sudah meningkat aktivitasnya dengan mengeluarkan abu vulkanik dan letusan setiap harinya. Setelah kejadian tsunami beberapa waktu lalu, masyarakat memang menjadi lebih waspada. Meski begitu, masyarakat masih diperbolehkan untuk melakukan aktivitas seperti biasa. Nah, berikut ini adalah penjelasan dari dampak kesehatan dari longsor Gunung Anak Krakatau. Yuk, simak penjelasan selengkapnya berikut ini!

Baca juga: Gunung Anak Krakatau Meletus, Kilas Balik Dampaknya

1. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)

Infeksi saluran pernapasan akut bisa disebut juga dengan ISPA. Kondisi ini merupakan infeksi yang dapat mengganggu proses pernapasan seseorang. Infeksi ini umumnya disebabkan oleh virus yang menyerang hidung, pipa pernapasan, atau paru-paru.

Jika kamu tinggal di daerah pegunungan yang aktivitasnya meningkat dengan mengeluarkan abu vulkanik, kamu wajib berhati-hati, ya! Pasalnya, ISPA dapat menyebabkan fungsi pernapasan terganggu, dan infeksi ini dapat menyebar ke seluruh sistem pernapasan. Selain itu, jika kondisi ini tidak segera ditangani, bisa berakibat fatal.

2. Diare

Diare merupakan suatu penyakit yang dapat dialami oleh semua orang tanpa terkecuali. Termasuk juga sebagai dampak kesehatan longsor krakatau Kondisi ini dapat terjadi karena adanya infeksi bakteri, virus atau parasit. Selain itu, diare juga dapat terjadi karena adanya alergi dari makanan, atau efek samping dari obat-obatan tertentu.

3. Leptospirosis

Leptospirosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira Interrogans yang dapat tersebar melalui urine atau darah hewan yang terinfeksi bakteri ini. Penyakit ini dapat menyerang manusia melalui paparan air atau tanah yang telah terkontaminasi urine hewan yang terkontaminasi bakteri tersebut. Infeksi ini merupakan satu-satunya infeksi rawan epidemi wabah yang dapat ditularkan secara langsung melalui air yang tercemar.

4. Demam Tifoid (Tipes)

Demam tifoid dapat muncul dalam tingkat keparahan yang ringan sampai parah, tergantung dari beberapa faktor, seperti usia, riwayat vaksinasi, dan kesehatan. Demam tifoid yang muncul, biasanya diikuti dengan beberapa gejala, seperti diare, sembelit, sakit perut, muntah, lemah, lesu, ruam, demam tinggi 40 derajat, sakit kepala, nyeri pada otot, dan kehilangan nafsu makan.

5. Malaria

Genangan air yang bisa diakibatkan tsunami yang terjadi beberapa waktu lalu, dapat dijadikan tempat berkembangbiak oleh nyamuk malaria. Penyakit yang ditularkan oleh nyamuk ini sulit untuk dicegah, terutama pasca bencana alam terjadi. Kondisi ini meningkatkan potensi paparan terhadap korban-korban bencana alam, hingga relawan yang berdatangan untuk menolong.

Malaria yang terjadi dapat menimbulkan gejala seperti demam, menggigil, dan kelelahan. Jika tidak segera ditangani, malaria dapat mengganggu aliran darah ke dalam organ-organ vital.

Saat ini, Gunung Anak Krakatau masih ditutupi oleh kabut dan lava panas yang mengalir ke laut. Tinggi kepulan awan panas mencapai 300-600 meter di atas kawah Gunung Anak Krakatau. Jangan lupa untuk selalu berhati-hati di mana pun kamu berada, ya!

Baca juga: Waspada, Abu Vulkanik bisa Berdampak pada Kesehatan

Jika ada yang ingin kamu tanyakan seputar masalah kesehatan kamu, Halodoc bisa jadi solusinya. Dengan aplikasi Halodoc, kamu bisa ngobrol langsung dengan psikiater atau psikolog di mana pun dan kapan pun via Chat atau Voice/Video Call. Setelah berdiskusi, kamu bisa langsung membeli obat yang telah diresepkan oleh dokter di sini, dan pesanan kamu akan diantar dalam waktu satu jam. Yuk, download aplikasinya di Google Play atau App Store!