Jangan Menikah karena Tuntutan, Kesehatan Mental Terancam

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Jangan Menikah karena Tuntutan, Kesehatan Mental Terancam

Halodoc, Jakarta – Sebelum memutuskan untuk menikah kamu perlu bertanya kepada diri sendiri, “Apa tujuan saya menikah?” Menikah tidak serta merta karena sudah saling cinta, tuntutan orang tua atau melihat teman-teman yang lain sudah menikah. Kehidupan pernikahan adalah hal yang lebih besar dari itu semua dan ini merupakan pekerjaan seumur hidup. Alasan menikah yang tidak tepat berisiko menimbulkan berbagai masalah di masa mendatang.

Baca Juga: Pentingnya Ketahui Golongan Darah Pasangan Sebelum Menikah

Pernikahan adalah hal besar yang mengubah hidup seseorang. Namun, beberapa perubahan mungkin terasa mengejutkan, sehingga kamu dan pasangan harus menerimanya. Untuk itu, kamu dan pasangan perlu mempersiapkan kesehatan mental terhadap perubahan hidup di masa mendatang. Kesehatan mental yang tidak dipersiapkan sejak dini berisiko menimbulkan masalah di dalam pernikahan.

Hal yang Wajib Dipersiapkan Sebelum Menikah

Untuk menciptakan pernikahan yang langgeng dan harmonis, kedua pasangan wajib memiliki motivasi dan kemauan mencapai hubungan yang sukses tanpa perlu melihat latar belakang, sejarah pribadi, kepribadian, atau kecenderungan masing-masing. pengembangan sifat, keterampilan tertentu dan motivasi diperlukan untuk mencapai hubungan harmonis. 

  1. Pengembangan Sifat

Jadi, apa sebenarnya pekerjaan yang perlu dilakukan untuk menciptakan pernikahan yang langgeng dan harmonis? Tumbuhkan sifat-sifat di dalam diri kamu dan pasangan untuk hidup dengan penuh hormat, damai, dan penuh cinta. Contoh kualitas termasuk kesabaran, ketekunan, komitmen, kesetiaan, tanggung jawab, ketahanan, keberanian, kejujuran, pengampunan, kedermawanan, dan niat baik. Sifat-sifat tersebut membantu setiap pasangan menjadi dewasa dan mampu menciptakan pernikahan yang harmonis.

  1. Keterampilan

Keterampilan yang dibutuhkan melibatkan komunikasi yang efektif, termasuk berbicara dengan penuh hormat dan mendengarkan tanpa reaktif. Komunikasi terjadi secara non-verbal maupun verbal, contohnya seperti ekspresi wajah, gerakan, kontak fisik dan bahasa tubuh. Keahlian lain adalah partisipasi aktif dan kerja sama, bernegosiasi untuk kebutuhan diri sendiri, menetapkan batasan, mengelola konflik dan kejujuran emosional, termasuk sering menyatakan penghargaan dan terima kasih.

Baca Juga: Ini Frekuensi Berhubungan Intim bagi Pasangan yang Bahagia

  1. Motivasi

Sebenarnya, bukan perbedaan antara kamu dan pasangan yang mengikis suatu hubungan, tetapi bagaimana kamu dan pasangan bisa saling bekerja sama untuk mencapai kesepakatan meski perbedaan yang ada. Ketika masalah tidak diatasi, masalah yang muncul dari masalah yang belum diselesaikan menyebabkan ketegangan yang tidak terhindarkan. Ketegangan ini dapat memicu stres yang dapat mengancam kesehatan mental.

Pada kasus-kasus yang ekstrem, ketika banyak perbedaan yang tidak terselesaikan dari waktu ke waktu, situasi ini bisa melunturkan motivasi dan kepercayaan dari pernikahan. Itulah mengapa kehilangan motivasi berisiko mengikis hubungan pernikahan. Kalau kamu mengalami stres berat akibat masalah dalam pernikahan, kamu bisa berbicara dengan psikolog melalui aplikasi Halodoc. Hubungi psikolog kapan saja dan di mana saja via Chat, dan Voice/Video Call.

Di dalam pernikahan, kamu dan pasangan akan menemukan berbagai macam perbedaan. Kamu dan pasangan tidak perlu atau mungkin untuk sepenuhnya menyelesaikan perbedaan-perbedaan ini sebelum menikah. Kamu atau pasangan cuuku introspeksi, mengakuinya dan mendiskusikannya bersama-sama.

Memilih orang yang tepat adalah bagian penting untuk mencapai pernikahan harmonis, tetapi faktor yang lebih penting adalah berkembang menjadi orang yang tepat bersama-sama. Daripada mencari pasangan impian kita, kita harus menjadi mitra impian kita.

Baca Juga: Awas, 5 Problematika Ini Bisa Merusak Pernikahan

Jika kamu dan pasangan dapat mengembangkan kekuatan diri untuk menjadi komunikator dan negosiator yang terampil dapat dipastikan hubungan pernikahan yang kamu jalani lebih matang dan terhindar dari banyak masalah di masa mendatang.

Referensi :

Psychology Today. Diakses pada 2019. The Best Preparation for Marriage.

Happy Marriages. Diakses pada 2019. How to Mentally Prepare for Marriage.