Jenis Pemeriksaan untuk Deteksi Inkontinensia Alvi

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Jenis Pemeriksaan untuk Deteksi Inkontinensia Alvi

Halodoc, Jakarta – Sulit menahan keluarnya tinja adalah salah satu tanda dari inkontinensia alvi. Inkontinensia alvi merupakan kondisi medis akibat ketidakmampuan untuk mengontrol pergerakan usus. Ini menjadi kondisi yang sering dialami oleh lansia. Meski sering diidap oleh lansia,  tetapi inkontinensia alvi juga bisa diidap oleh seluruh kalangan usia, tidak terkecuali bayi. 

Baca Juga: Anak Alami Inkontinensia Alvi, Apa Sebabnya?

Ada banyak kondisi yang bisa memicu terjadinya inkontinensia alvi. Seringkali kondisi ini disebabkan oleh beberapa kombinasi masalah medis. Konstipasi parah, irritable bowel syndrome, wasir, penyakit Crohn merupakan beberapa kondisi yang bisa memicu inkontinensia alvi. Untuk mendiagnosis kondisi ini, dokter perlu melakukan pemeriksaan fisik yang didukung oleh beberapa tes. Berikut ini tes medis yang bekerja untuk deteksi inkontinensia alvi

Jenis Pemeriksaan untuk Deteksi Inkontinensia Alvi

Ada beberapa opsi tes yang tersedia untuk membantu mendeteksi dan menentukan penyebab inkontinensia alvi :

1. Pemeriksaan Rektum

Opsi pemeriksaan pertama adalah pemeriksaan rektal atau dubur. Dokter akan menggunakan sarung tangan dan melumasi dubur sebelum memasukan jarinya. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengevaluasi kekuatan otot-otot sfingter dan memeriksa ketidaknormalan di daerah dubur. Selama pemeriksaan, dokter akan meminta pengidap untuk menungging agar dokter lebih mudah memeriksa rektum. 

2. Balloon Expulsion Test

Melalui balloon expulsion test, balon kecil yang telah diisi air akan dimasukkan ke dalam rektum. Setelah itu, dokter akan meminta pengidap pergi ke toilet untuk mengeluarkan balon. Pengidap bisa dikatakan mengidap gangguan buang air besar apabila membutuhkan waktu lebih dari satu hingga tiga menit untuk mengeluarkan balon.

3. Manometri Anal

Manometri anal dilakukan dengan bantuan tabung sempit dan fleksibel yang dimasukkan ke dalam dubur. Ukuran tabung ini kemudian bisa diperluas. Melalui tes ini, dokter dapat mengukur seberapa sempit dan sensitif sfingter dubur serta seberapa baik fungsi rektum bekerja.

Baca Juga: 5 Faktor yang Tingkatkan Risiko Inkontinensia Alvi

4. Ultrasonografi Anorektal

Ultrasonografi anorektal dilakukan dengan menggunakan instrumen sempit, seperti tongkat yang dimasukkan ke dalam rektum. Instrumen ini akan menghasilkan gambar video yang memungkinkan dokter mengevaluasi struktur sphincter pengidap.

5. Proktografi

Tes ini bertujuan untuk mengukur seberapa banyak tinja yang dapat disimpan oleh rektum dan mengevaluasi seberapa baik tubuh bisa mengeluarkan tinja. Ini bisa diketahui melalui gambar video X-ray yang dibuat saat pengidap buang air besar di toilet yang telah dilengkapi alat proktografi.

6. Kolonoskopi

Kolonoskopi adalah prosedur pemeriksaan untuk mendeteksi kondisi usus besar dan rektum. Kolonoskopi dilakukan dengan bantuan alat kolonoskop, yaitu selang lentur yang berdiameter kurang lebih 1,5 sentimeter dan dilengkapi dengan kamera 

7. Magnetic Resonance Imaging (MRI)

Melalui MRI, dokter dapat melihat kondisi sfingter melalui gambar yang jelas. Melalui pemeriksaan ini, dokter bisa menentukan apakah otot-otot sfingter masih bekerja dengan baik.  

Kalau kamu punya pertanyaan lain terkait cara diagnosis kondisi ini, tanya saja pada pakarnya lewat aplikasi Halodoc. Yuk, download aplikasinya di sini. Sebelum diagnosis dimulai, dokter mungkin akan bertanya seputar gejala-gejala yang timbul. Berikut ini gejala inkontinensia alvi pada umumnya. 

Gejala Umum dari Inkontinensia Alvi

Selain sulit untuk menahan keluarnya tinja, gejala umum dari inkontinensia alvi dapat berupa :

  • Tidak sadar bahwa tinja telah keluar

  • Tinja bisa keluar setiap waktu tanpa disadari

  • Mengalami diare berkepanjangan atau sembelit

  • Perut kembung

Baca Juga: Latihan Kegel untuk Cegah Inkontinensia Alvi, Benarkah?

Gejala-gejala ini mungkin memengaruhi aktivitas sosial sebagian besar pengidapnya. Sebab, keluarnya tinja tanpa disadari mungkin dapat mengganggu aktivitas orang lain maupun pengidapnya sendiri.