• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Kampanye #141CekTBC sebagai Cara Skrining TBC secara Mandiri
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Kampanye #141CekTBC sebagai Cara Skrining TBC secara Mandiri

Kampanye #141CekTBC sebagai Cara Skrining TBC secara Mandiri

5 menit
Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli : 21 April 2022

“Tuberkulosis atau TBC adalah penyakit yang berbahaya dan perlu diwaspadai. Seseorang yang terkena batuk dalam jangka waktu 14 hari dapat melakukan skrining awal mandiri untuk mengelola gejala TBC dengan fitur Chatbot.”

Kampanye #141CekTBC sebagai Cara Skrining TBC secara Mandiri

Halodoc, Jakarta – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa Indonesia menjadi negara peringkat ketiga di dunia yang menyumbang 824.000 orang dengan TBC pada tahun 2020. 

Di antara 824.000 orang dengan TBC, kurang dari 50 persen atau hanya 385.295 yang terlaporkan dan diobati pada tahun 2020. Ini menunjukkan merosotnya dari temuan di tahun 2019, di mana ada 559.847 orang ternotifikasi dengan TBC.

Maka dari itu, ada baiknya memahami pencegahan TBC yang tepat dan menyadari gejala yang mungkin ditimbulkan dari TBC.

Baca juga: Mengidap Tuberkulosis saat Hamil, Apa yang Perlu Dilakukan?

TBC, Penyakit Berbahaya yang Perlu Diwaspadai

Tuberkulosis disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menyerang paru-paru. Penyebarannya sangat mudah, yaitu dengan menghirup air liur pasien ketika batuk, bersin, atau meludah.

Setengah dari total keseluruhan orang dengan TBC di dunia banyak ditemukan di delapan negara, termasuk Indonesia.

Di awal tahun 2022, Stop TB Partnership Indonesia (STPI) memulai kampanye komunikasi digital sebagai strategi promosi kesehatan untuk mengurangi risiko berat dari penyakit Tuberkulosis.

Kampanye ini adalah #141CekTBC, yang merupakan bagian dari #TOSSTBC (Temukan Tuberkulosis Obati Sampai Sembuh) yang telah dikampanyekan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Kampanye #141CekTBC, 14 Hari Batuk Tak Reda? 1 Solusi, Cek Dokter Segera!. Bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kepekaan masyarakat Indonesia terhadap gejala-gejala TBC yang mungkin sudah diidapnya.

Gejala yang dimaksud seperti batuk terus-menerus sampai 14 hari atau lebih. Apabila sudah mengalami gejala seperti ini, sebaiknya segera cek ke dokter, ya!

STPI menyelenggarakan kampanye #141CekTBC untuk meningkatkan pengetahuan, pandangan, dan sikap masyarakat Indonesia yang mengalami gejala TBC, terutama di DKI Jakarta dan Jawa Barat. Tujuannya untuk mendorong kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri saat gejala muncul.

Tingginya angka TBC, yaitu 824.000 per tahun disebabkan oleh kurangnya kesadaran dan pengetahuan mengenai TBC. Contohnya informasi tentang  pemeriksaan TBC dan tentang lama pengobatan, stigma, serta pandangan bahwa seseorang bisa menerima pengobatan tanpa melakukan tes atau diagnosis terlebih dahulu. 

Baca juga: Apakah pasien Tuberkulosis Aman Menerima Vaksin COVID-19?

Lakukan Langkah Penanganan saat Menemukan Gejalanya

Gejala TBC berkembang secara perlahan dan bervariasi tergantung pada bagian tubuh yang terkena. Rata-rata gejalanya berkembang hingga beberapa minggu setelah tubuh terinfeksi. Namun, dalam sebagian kasus ada pula gejalanya yang baru muncul setelah bertahun-tahun. 

Nah, berikut ini beberapa gejala yang pada umumnya dialami oleh orang dengan TBC:

  • Penurunan nafsu makan.
  • Penurunan berat badan.
  • Muncul keringat di malam tanpa beraktivitas yang berat.
  • Munculnya rasa lelah yang ekstrim.

Seperti pada ulasan sebelumnya, gejala TBC bervariasi tergantung pada bagian tubuh yang terkena. Ketika infeksi mempengaruhi paru-paru, pasien akan mengalami batuk-batuk yang berlangsung lebih dari 14 hari. Tergantung pada tingkat keparahannya, batuk-batuk bisa saja disertai dengan dahak dan berdarah.

Pada kasus yang jarang terjadi, TBC dapat menginfeksi di area luar paru-paru. Contohnya seperti kelenjar kecil yang merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh (kelenjar getah bening), sendi, kandung kemih, sistem reproduksi, otak, dan saraf.

Gejala TBC yang memengaruhi area tubuh lain sering terjadi pada seseorang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah. Untuk meminimalkan gejala dan efek samping akibat TBC, pastikan kamu memeriksakan diri jika sudah mengalami batuk selama lebih dari 14 hari. 

Langkah tersebut menjadi salah satu upaya untuk mendorong kesadaran masyarakat, agar seiring berjalannya waktu, angka orang dengan TBC bisa semakin berkurang.

Kampanye komunikasi digital #141CekTBC ini juga memiliki beberapa fitur yang bisa digunakan dengan mudah oleh masyarakat Indonesia. Pertama, yaitu fitur Pengingat 141CekTBC.

Melalui fitur ini, masyarakat bisa menandai gejala batuk yang sudah dialami. Jika gejala batuk tersebut sampai 14 hari atau lebih, masyarakat akan mendapatkan peringatan untuk cek dokter segera.

Berkaitan dengan hal tersebut, kamu bisa melakukan skrining awal TBC dengan Fitur Chatbot 141CekTBC. Fitur ini berguna sebagai skrining awal TBC secara mandiri, dengan cara menjawab pertanyaan-pertanyaan yang bisa diakses melalui website resmi Stop TB Partnership Indonesia (STPI). Selain itu, masyarakat bisa mendapatkan informasi lengkap tentang gejala TBC dan pengobatannya. 

Caranya, klik floating button chat di kanan bawah, atau kamu bisa mengakses di nomor +628119961141. Kemudian, kamu akan melakukan sesi tanya jawab seputar keluhan yang dialami.

Fitur Chatbot  ini juga memudahkan kamu mengetahui lokasi fasilitas kesehatan terdekat untuk melakukan pemeriksaan di layanan dengan fasilitas diagnosis. 

Di sana, kamu akan diberitahu mengenai fasilitas kesehatan terdekat untuk melakukan pemeriksaan dengan diagnosis yang dilakukan langsung oleh dokter. Kamu juga bisa bertanya pada dokter secara langsung melalui Halodoc mengenai keluhan dan langkah selanjutnya yang harus dilakukan.

Langkah Efektif Mencegah Munculnya Gejala TBC

Langkah penanganan harus segera dilakukan jika sejumlah gejala muncul. Berapa lama pengobatan yang dilakukan tergantung pada kondisi masing-masing orang dengan TBC dan intensitas gejala yang dialami. Terkadang pengobatan membutuhkan waktu 6-12 bulan lamanya.

Obat harus dikonsumsi setiap hari, bahkan jika gejala sudah mulai mereda. Sedangkan pada orang dengan TBC laten, dokter kemungkinan menyarankan untuk mengonsumsi obat pencegahan atau terapi pencegahan TBC agar bakteri tetap tidak aktif.

Selebihnya, kamu bisa melakukan beberapa langkah sederhana ini guna meminimalkan penyebaran:

  • Menutup mulut dengan tisu saat batuk atau bersin.
  • Mencuci tangan setelah batuk atau bersin.
  • Perhatikan sirkulasi udara pada tempat yang dikunjungi.
  • Hindari menggunakan transportasi umum.

Baca juga: Ketahui Mitos Tentang Cara Penyebaran Tuberkulosis

Langkah pencegahan lain juga tertuang dalam kampanye #141CekTBC, yaitu dengan melakukan skrining dini mandiri dengan Fitur Chatbot dan Pengingat 141CekTBC yang memudahkan masyarakat mengetahui gejala TBC di dalam dirinya.

Melalui website resmi Stop TB Partnership Indonesia (STPI) juga, kamu dapat mengetahui seputar artikel TBC dan COVID-19, serta mendapatkan daftar pelayanan TBC terdekat.

Terpenting adalah menyadari bahwa sebaiknya segera periksa ke dokter apabila mengalami batuk yang tidak mereda setelah 14 hari atau lebih. 

Itulah gejala TBC dan langkah penanganan dini yang bisa kamu lakukan untuk meminimalkan terjadinya komplikasi. Jadi, periksa ke dokter dengan langkah tersebut, dan temukan solusi dari masalah yang kamu alami!

Referensi:

Stop TB Partnership Indonesia. Diakses pada 2022. #141CekTBC, 14 hari batuk tak kunjung reda? 1 solusi, cek dokter segera!
Kemenkes RI. Diakses pada 2022. Dashboard TB Indonesia.
Katadata. Diakses pada 2022. Bagaimana Tren Kasus TBC di Indonesia dalam Satu Dekade Terakhir?
World Health Organization. Diakses pada 2022. Tuberculosis.
WebMD. Diakses pada 2022. Tuberculosis Prevention: What to Know.