Kenalan dengan Diet OCD untuk Turunkan Berat Badan

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Kenalan dengan Diet OCD untuk Turunkan Berat Badan

Halodoc, Jakarta – Mau menurunkan berat badan dengan diet? Kuncinya enggak cuma memangkas asupan karbohidrat saja, kok. Ternyata mengatur waktu makan juga efektif untuk memangkas berat badan, bahkan membuat kamu sukses meraih berat ideal. Di negara kita, diet yang berkaitan dengan waktu makan ini dipopulerkan oleh mentalis Deddy Corbuzier. Nama dietnya dikenal dengan Obsessive Corbuzier's Diet (OCD), atau diet OCD. Lalu, bagaimana sih diet OCD bekerja?

Memengaruhi Hormon Pertumbuhan

Diet OCD  dikenal sebagai program penururan berat badan dengan cara berpuasa. Namun, puasanya enggak sama dengan puasa Ramadan. Puasa dalam program diet OCD relatif lebih lama, yaitu 16 jam dan dibolehkan makan selama empat jam. Nah, selama empat jam itu, kamu boleh makan banyak kalori sebagai bekal untuk berpuasa.

Kamu jangan heran bila tubuh akan terasa pusing dan stres saat menjalani diet OCD. Namun, menurut sang mentalis, keluhan itu hanya akan terjadi di minggu pertama, sebab tubuh masih beradaptasi mengenai pola makan yang berubah. Yang perlu diketahui, diet OCD bukan cuma program diet untuk memangkas berat badan orang yang bertubuh gemuk. Pasalnya, OCD juga bisa kok digunakan orang yang bertubuh ramping untuk membentuk tubuh agar lebih padat dan berisi.

Nah, diet OCD ini berkaitan dengan human growth hormon (HGH), yaitu  hormon pertumbuhan tubuh. Saat seseorang berusia 30 tahun, HGH-nya  tersisa 50 persen. Itulah yang menyebabkan kulit mulai keriput, rambut memutih, dan badan cenderung lebih gemuk. Namun, menurut Deddy, dengan puasa minimal 16 jam, penyusutan HGH akan berbalik arah, alias meningkat. Menurut mentalis itu, bila HGH tinggi, tubuh akan lebih mudah dibentuk.

Ketika kamu berpuasa tiga jam setelah santapan terserap oleh tubuh, tubuh memasuki fase postab-sortive. Di fase inilah kadar gula mulai turun. Nah, untuk memenuhi kebutuhan energi, tubuh akan menggunakan cadangan energi yang dihasilkan di dalam hati. Menurut Deddy, pola puasa yang ia lakukan selama empat bulan berturut-turut ini membuat lemak di dalam tubuhnya berubah menjadi otot yang lebih mudah dibentuk.

(Baca Juga: Inilah Fakta Diet Mayo Agar Lebih Berfaedah)

Enggak Cuma di Indonesia

Diet OCD enggak hanya populer di Indonesia. Ternyata diet macam ini juga pernah diteliti oleh ahli sejak 15 tahun lalu. Menurut ahli dari Salk Institute di San Diego, AS, time-restricted feeding (TRF) atau pengaturan waktu makan yang memungkinkan seseorang makan sesuai yang diinginkan, dengan mengikuti pola waktu yang terjadwal, punya banyak manfaat bagi kesehatan tubuh.

Selain memangkas berat badan, program TRF diklaim bisa menurunkan risiko diabetes.  Kini, sang ahli masih menerapkan metode mengatur waktu makan mirip puasa dalam hidupnya. Dirinya akan bersantap pagi pukul 07.00, dan makan malam pada pukul 19.00. Selain itu, di sela-sela waktu tersebut, si ahli  tidak mengonsumsi makanan apapun.

(Baca Juga: Program Diet yang Tepat Bagi Kamu yang Sibuk)

Mengutip The Washington Post, ahli tersebut mengalami beberapa perubahan pada tubuhnya. Setelah menerapkan TRF berat badannya turun, bahkan tekanan gula darahnya turun drastis. Enggak cuma itu, kini tidurnya pun jauh lebih nyenyak. Selain ahli dari  Salk Institute, ada juga ahli dari University of Alabama, AS, yang mengadopsi TRF. Dirinya mengonsumsi makanan antara pukul 08.00 dan 14.00 lima kali seminggu. Menurutnya, 10 tahun mendatang para ahli akan menemukan petunjuk jelas soal pola pengaturan makan ini.

Kalau kamu mau tahu lebih jauh mengenai diet OCD, kamu bisa menghubungi dokter melalui aplikasi Halodoc untuk berdiskusi mengenai diet tersebut. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play.