Kenali Faktor Risiko Alami Hidrosefalus

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Kenali Faktor Risiko Alami Hidrosefalus

Halodoc, Jakarta – Ketika mendengar penyakit hidrosefalus pasti yang muncul di pikiran kamu adalah penyakit yang rentan menyerang bayi. Memang benar, tetapi hidrosefalus bisa terjadi pada usia berapa pun. Namun, bayi dan lansia paling rentan mengalaminya. Hidrosefalus terjadi ketika terdapat penumpukan cairan di ventrikel di dalam otak. Cairan yang berlebihan ini meningkatkan ukuran ventrikel dan memberi tekanan pada otak.

Baca Juga: Inilah yang Terjadi pada Kepala yang Terkena Hidrosefalus

Cairan serebrospinal adalah jenis cairan yang mengalir melalui ventrikel dan membasahi otak dan ruang dalam tulang belakang. Ketika cairan ini jumlahnya terlalu banyak sampai menekan otak, pengidap hidrosefalus dapat mengalami kerusakan jaringan otak dan mengalami gangguan pada fungsi otak.

Kenali Faktor Risiko Hidrosefalus

Sejumlah masalah selama perkembangan atau perawatan medis dapat memicu hidrosefalus. Hidrosefalus yang hadir saat lahir (bawaan) atau tidak lama setelah kelahiran bisa dipicu oleh hal-hal berikut:

  • Perkembangan abnormal pada sistem saraf pusat yang menghambat aliran cairan serebrospinal.

  • Pendarahan di dalam ventrikel, bisa disebabkan karena kelahiran prematur.

  • Infeksi pada rahim selama kehamilan, seperti rubella atau sifilis yang menyebabkan peradangan pada jaringan otak janin.

Faktor-faktor lain yang berkontribusi terhadap hidrosefalus di antara semua kelompok umur, yaitu:

  • Lesi atau tumor otak atau sumsum tulang belakang;

  • Infeksi sistem saraf pusat, seperti meningitis bakteri atau gondong;

  • Pendarahan di otak karena stroke atau cedera kepala;

  • Cedera traumatis pada otak.

Baca Juga: Bisakah Ukuran Kepala dengan Hidrosefalus Kembali Normal?

Tanda-Tanda Hidrosefalus yang Perlu Diketahui

Hidrosefalus dapat menyebabkan kerusakan otak permanen, jadi penting bagi untuk mengenali gejala yang menandai hidrosefalus. Kondisi ini sering terjadi pada anak-anak, tetapi dapat memengaruhi orang-orang dari segala usia. Pada bayi, tanda-tanda awal hidrosefalus, di antaranya:

  • Titik lunak di permukaan tengkorak (fontanel) menonjol;

  • Pembesaran pada lingkar kepala;

  • Mata melihat ke arah bawah;

  • Kejang;

  • Rewel;

  • Muntah;

  • Kantuk yang berlebihan;

  • Tidak nafsu makan;

  • Melemahnya kekuatan otot.

Pada orang dewasa gejalanya meliputi:

  • Sakit kepala kronis;

  • Kehilangan koordinasi;

  • Kesulitan berjalan;

  • Masalah pada kandung kemih;

  • Masalah penglihatan;

  • Kesulitan mengingat;

  • Kesulitan berkonsentrasi.

Kalau kamu melihat tanda-tanda di atas, segera periksakan ke dokter untuk memastikannya. Sebelum mengunjungi rumah sakit, buat janji dengan dokter terlebih dahulu lewat aplikasi Halodoc

Apakah Hidrosefalus Bisa Dicegah?

Hidrosefalus tidak bisa dicegah, tetapi kamu dapat menurunkan risiko perkembangan kondisi ini.  Bagi ibu hamil, pastikan mendapat perawatan prenatal selama kehamilan. Tindakan ini dapat membantu mengurangi peluang persalinan prematur yang menyebabkan hidrosefalus. Mendapatkan vaksinasi juga dapat membantu mencegah penyakit dan infeksi yang terkait dengan hidrosefalus. 

Baca Juga: Waspada, Ini Komplikasi dari Hidrosefalus

Melakukan pemeriksaan rutin perlu dilakukan untuk memastikan bahwa kamu mendapatkan perawatan segera untuk penyakit atau infeksi yang dapat meningkatkan risiko hidrosefalus. Gunakan peralatan keselamatan, seperti helm untuk mencegah cedera kepala saat melakukan kegiatan seperti mengendarai motor. Kamu juga bisa menurunkan risiko cedera kepala dengan selalu mengenakan sabuk pengaman. 

Referensi :
Healthline. Diakses pada 2019. Hydrocephalus (Water on the Brain).
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Hydrocephalus.