• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Kenali Gejala dan Komplikasi yang Terjadi Akibat Preeklamsia

Kenali Gejala dan Komplikasi yang Terjadi Akibat Preeklamsia

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Kenali Gejala dan Komplikasi yang Terjadi Akibat Preeklamsia

“Preeklamsia adalah salah satu kondisi serius yang harus diwaspadai oleh ibu hamil. Kondisi ini seringkali tidak disertai gejala yang signifikan. Ketika timbul gejala, preeklamsia dapat menyebabkan ibu hamil mengalami sakit kepala, penglihatan kabur, mual, muntah sampai sesak napas.”

Halodoc, Jakarta – Preeklamsia atau tekanan darah tinggi selama kehamilan merupakan kondisi yang harus diwaspadai oleh ibu hamil. Kondisi ini dapat menempatkan ibu hamil maupun bayinya pada kondisi yang berbahaya. Pasalnya, preeklamsia bisa menyebabkan komplikasi serius apabila tidak ditangani dengan baik. Penanganan preeklamsia yang paling efektif adalah melahirkan bayi sesegera mungkin. 

Namun, apabila preeklamsia terdeteksi di usia kehamilan yang terlalu dini, dokter harus terus memantau kondisi ibu hamil untuk memastikan tekanan darahnya tetap terkendali sampai bayi siap dilahirkan.  Gejala preeklamsia umumnya dapat terlihat setelah kehamilan berusia 20 minggu. Nah, berikut tanda-tanda preeklamsia beserta komplikasinya yang harus bumil waspadai. 

Baca juga: Ini Alasan Perut Ibu Hamil Terasa Keras

Kenali Gejala Preeklamsia selama Kehamilan

Sebagian besar ibu hamil yang mengalami preeklamsia melaporkan bahwa mereka tidak mengalami gejala yang signifikan. Tekanan darah tinggi dapat berkembang secara perlahan, atau mungkin muncul secara tiba-tiba. Itu sebabnya, ibu hamil wajib memantau tekanan darahnya secara rutin supaya preeklamsia dapat terdeteksi sedini mungkin dan dapat ditangani secepatnya.

Memantau tekanan darah adalah bagian penting dari perawatan prenatal, karena tanda pertama preeklamsia biasanya adalah peningkatan tekanan darah. Tekanan darah yang melebihi 140/90 milimeter air raksa (mm Hg) atau lebih – didokumentasikan pada dua kesempatan, setidaknya empat jam terpisah – artinya tidak normal. Nah, berikut tanda-tanda preeklamsia yang bisa ibu hamil kenali:

  • Sakit kepala. Naiknya tekanan darah dapat menekan bagian tengkorak yang membuat ibu hamil mengalami sakit kepala.
  • Penglihatan kabur. Tekanan darah tinggi dapat menghambat aliran darah pada retina, sehingga ibu hamil dapat mengalami pandangan yang kabur.
  • Proteinuria. Saat tekanan darah naik melebihi batas normal, kondisi ini bisa menyebabkan kerusakan pembuluh darah halus dalam ginjal sehingga mengurangi kemampuan ginjal untuk menyaring darah dengan baik. 
  • Mual dan muntah. Peningkatan tekanan darah di bagian kepala dapat memicu mual dan muntah. 
  • Sesak napas. Kondisi tekanan darah tinggi dapat memicu penebalan pembuluh darah di bagian paru-paru. Alhasil, penebalan ini dapat menyumbat aliran darah ke paru-paru sehingga menyebabkan sesak napas.

Baca juga: Hal yang Perlu Diperhatikan setelah Pemeriksaan Rutin Kehamilan

Selain gejala-gejala di atas, preeklamsia juga dapat menyebabkan sakit perut bagian atas, biasanya di bawah tulang rusuk kanan, menurunnya keinginan BAK, trombositopenia sampai gangguan fungsi hati. 

Kenaikan berat badan yang tiba-tiba akibat pembengkakan di bagian wajah dan tangan juga bisa terjadi. Kendati demikian kondisi ini juga kerap terjadi di kehamilan normal sehingga tidak dianggap sebagai gejala utama preeklamsia.

Waspadai Komplikasi Preeklamsia

Apabila gejala-gejala di atas tidak dapat ditangani dengan baik, preeklamsia berisiko menyebabkan komplikasi berikut ini:

1. Pertumbuhan Janin Terhambat

Kondisi preeklamsia dapat mengganggu fungsi arteri yang membawa darah ke plasenta. Hal ini membuat bayi tidak mendapatkan jumlah oksigen dan nutrisi yang cukup untuk pertumbuhannya. Alhasil, pertumbuhannya pun melambat atau terhambat dan memiliki berat badan yang rendah. 

2. Kelahiran Prematur

Apabila preeklamsia menyebabkan gejala yang cukup mengkhawatirkan, dokter mungkin lebih merekomendasikan bayi untuk dilahirkan lebih awal (prematur) untuk menyelamatkan nyawa ibu maupun bayinya. 

3. Solusio Plasenta

Preeklamsia juga berisiko menyebabkan solusio plasenta, suatu kondisi di mana plasenta terpisah dari dinding bagian dalam rahim sebelum melahirkan. Solusio plasenta dapat menyebabkan pendarahan hebat, yang dapat mengancam jiwa ibu maupun bayi dalam kandungan.

4. Sindrom HELLP

HELLP adalah kepanjangan dari Hemolysis Elevated Liver Enzymes and Low Platelet Count. Ini terjadi ketika hancurnya sel-sel darah merah sehingga menurunkan jumlah trombosit dan meningkatkan jumlah enzim pada hati. Kondisi ini bisa sangat mengancam nyawa ibu dan bayi karena berisiko menyebabkan kerusakan organ. Gejala sindrom HELLP biasanya meliputi mual dan muntah, sakit kepala, dan sakit perut kanan atas. 

5. Eklampsia

Ketika preeklamsia tidak terkontrol, eklampsia dapat terjadi. Eklamsia adalah preeklamsia yang disertai kejang-kejang. Seringkali tidak ada gejala atau tanda peringatan untuk memprediksi eklampsia, sehingga kondisi ini harus benar-benar diwaspadai.

6. Kerusakan Organ

Tekanan darah tinggi dapat menyebabkan kerusakan pada ginjal, hati, paru-paru, jantung, atau mata. Tak hanya itu, kondisi ini juga berisiko menyebabkan stroke atau cedera otak. Jumlah cedera pada organ lain tergantung pada tingkat keparahan preeklamsia.

7. Penyakit Kardiovaskular

Risiko penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskular) di masa depan juga bisa berkembang pada ibu hamil yang mengidap preeklamsia. Risikonya akan semakin besar jika ibu hamil mengalami preeklamsia lebih dari sekali. Untuk meminimalkan risiko ini, jaga berat badan tetap ideal, makan buah dan sayuran, berolahraga secara teratur, dan tidak merokok.

Baca juga: Kapankah Tanda-Tanda Kehamilan Mulai Muncul?

Selain menerapkan pola hidup sehat, ibu hamil juga wajib mengonsumsi vitamin dan suplemen kehamilan untuk menunjang pertumbuhan bayi. Jika stok vitamin semakin menipis, cek kebutuhan vitamin di toko kesehatan Halodoc. Tak perlu repot pergi ke apotek, tinggal klik lalu pesanan akan segera diantar ke tempat tujuan. Mudah dan praktis bukan? Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga!

This image has an empty alt attribute; its file name is HD-RANS-Banner-Web-Artikel_Spouse.jpg
Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2021. Preeclampsia.
WebMD. Diakses pada 2021. Preeclampsia.
NCBI. Diakses pada 2021. Maternal Complications Associated with Severe Preeclampsia.
Medscape. Diakses pada 2021. Preeclampsia.