• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Kenapa Penularan HIV Erat Dikaitkan dengan Seks Anal?

Kenapa Penularan HIV Erat Dikaitkan dengan Seks Anal?

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
undefined

Halodoc, Jakarta – Angka penularan virus HIV pada pasangan sesama jenis laki-laki kian meningkat di seluruh dunia. HIV menjadi jenis virus yang menyerang sistem imunitas tubuh dan menyebabkan penyakit AIDS. Virus yang telah berhasil diidentifikasi sejak tahun 1950 ini hingga kini belum ditemukan obatnya. Pengobatan yang dilakukan hanya bertujuan untuk meringankan gejala dan memperpanjang masa hidup pengidapnya. 

Tidak jarang, virus HIV dikaitkan dengan risiko penyakit menular seksual. Ini disebabkan karena cara penularan keduanya yang memang mirip, yaitu melalui hubungan seksual tanpa menggunakan alat pengaman dan seringnya satu orang berganti-ganti pasangan. Sudah pasti, tidak hanya pasangan sesama jenis, pasangan berbeda jenis memiliki risiko yang sama tingginya untuk tertular virus ini. 

Lalu, Apa Hubungannya dengan Seks Anal?

Hubungan intim melalui anus, yang dikenal dengan seks anal menjadi cara berhubungan seks yang cukup digemari pasangan. Padahal, dibandingkan dengan hubungan penetrasi melalui vagina, cara berhubungan intim melalui anus atau anal ini lebih berisiko tertular virus HIV. 

Baca juga: Harus Tahu, HIV dan AIDS Itu Berbeda

Berdasarkan studi yang diterbitkan dalam International Journal of Epidemiology, tingkat penularan virus ini sebesar 18 persen lebih besar pada pasangan yang melakukan hubungan seks melalui anal. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Ternyata, jaringan dan pelumas alami yang dimiliki vagina juga anus tidak sama. Vagina memiliki banyak lapisan yang bertugas untuk menangkal terjadinya infeksi virus. Berbeda dengan anus yang hanya memiliki satu lapisan pelindung. 

Tidak hanya itu, anus ternyata tidak memroduksi pelumas alami seperti halnya vagina sehingga risiko terjadinya lebih tinggi ketika penetrasi melalui anal dilakukan. Nah, dari luka ini virus HIV bisa berkembang dan menyebar. Infeksi virus ini juga terjadi melalui kontak langsung pada cairan rektal yang terdapat di anus. Cairan rektal ini kaya akan sel imun yang tinggi, sehingga membuat virus HIV mudah berkembang dan memperbanyak diri. 

Baca juga: Benarkah Penularan HIV Bisa Melalui Facial?

Jika salah satu pasangan telah positif terkontaminasi virus HIV, penularan pada pasangannya lebih mudah terjadi melalui cairan rektal jika penetrasi dilakukan secara anal atau melalui dubur. Pasalnya, tidak seperti vagina, dubur tidak memiliki cara untuk membersihkan diri secara alami, sehingga pencegahan infeksinya lebih sulit jika dibandingkan dengan penetrasi yang dilakukan melalui vagina. 

Pentingnya Melakukan Pemeriksaan Kesehatan

Penularan HIV juga lebih mungkin terjadi pada seseorang yang sering berganti pasangan atau tidak menggunakan pengaman ketika berhubungan intim. Sudah pasti, penularan HIV ini lebih mudah dicegah dengan mempraktikkan hubungan intim yang aman dan tidak sering berganti pasangan, sama seperti mencegah terjadinya penyakit menular seksual

Baca juga: Penularan HIV Lewat Makanan, Mitos atau Fakta?

Tidak kalah pentingnya lagi, rutin memeriksakan kondisi kesehatan ke rumah sakit, sehingga bisa dilakukan deteksi dini dan penanganan segera apabila teridentifikasi adanya penyakit serius pada tubuh. Tidak perlu repot, karena sekarang periksa ke rumah sakit sudah jauh lebih mudah dengan adanya aplikasi Halodoc. Aplikasi ini pun bisa dipakai untuk tanya jawab dengan dokter kapan saja dan di mana saja. 

Referensi: 
Verywell. Diakses pada 2020. Why Do Gay Men Have an Increased Risk of HIV?
Catle. Diakses pada 2020. Getting to the Bottom of It: Anal Sex, Rectal Fluid, and HIV Transmission.
RF Bagaley, White RG, and Boily MC. 2010. Diakses pada 2020. HIV Transmission Risk Through Anal Intercourse: Systematic Review, Meta-Analysis and Implications for HIV Prevention. International Journal of Epidemiology 39(4): 1048-63.