Keringat Berlebih Meski Udara Dingin, Mungkin Hiperhidrosis?

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Keringat Berlebih Meski Udara Dingin, Mungkin Hiperhidrosis?

Halodoc, Jakarta - Berkeringat menjadi proses yang wajar pada tubuh. Kondisi ini terjadi untuk mendinginkan suhu tubuh yang sudah dirasa terlalu panas. Jika kamu berkeringat berlebihan, bahkan berkeringat saat udara dingin atau tidak ada hubungannya dengan cuaca, kamu mungkin mengalami kondisi hiperhidrosis

Sebagian besar kasus hiperhidrosis tidak berdampak pada masalah kesehatan yang serius. Namun, tentu saja ini membuat pengidapnya menjadi kurang percaya diri, malu, gelisah, hingga stres. Pasalnya, keringat berlebihan ini bisa membuat baju menjadi basah dan bisa saja hanya terjadi pada bagian tubuh tertentu. 

Berbahayakah Hiperhidrosis?

Kebanyakan masalah hiperhidrosis dialami oleh wanita, dan muncul sejak masa anak-anak. Pada kasus hiperhidrosis yang terjadi pada seseorang ketika masuk usia dewasa, perlu dilakukan pengamatan lebih lanjut apakah kondisi ini terjadi karena masalah kesehatan tertentu, seperti kanker atau diabetes. 

Baca juga: Keringat Berlebihan? Waspada Hiperhidrosis

Keringat yang berlebihan di malam hari bisa mengindikasikan adanya penyakit serius. Jadi, apabila kamu mengalami keringat berlebihan, jangan ragu untuk memeriksakan kondisi kesehatan ke dokter, sehingga penanganan bisa segera dilakukan. Kamu bisa langsung memilih dokter favorit dan membuat janji di rumah sakit terdekat melalui ponsel dengan menggunakan aplikasi Halodoc. 

Meski tidak berbahaya, hiperhidrosis yang tidak mendapatkan penanganan dengan baik bisa memicu terjadinya komplikasi yang tidak boleh kamu anggap remeh. Komplikasi yang mungkin terjadi termasuk kelainan kulit seperti kutil dan bisul, dampak psikologis, bau badan yang tidak terkendali, dan infeksi jamur karena tubuh cenderung lembap. 

Baca juga: Faktor Risiko Seseorang Terserang Hiperhidrosis

Penyebab dan Cara Mengatasi Hiperhidrosis

Pada banyak kondisi, hiperhidrosis terjadi tanpa penyebab yang jelas. Namun, diyakini meningkatnya aktivitas pada saraf simpatis turut berperan dalam kondisi tersebut. Sementara itu, hiperhidrosis bisa terjadi karena rasa takut dan cemas berlebihan, trauma atau bawaan yang sudah ada sejak lahir, gangguan saraf dan penyakit tertentu, serta dampak dari konsumsi obat-obatan. 

Hiperhidrosis juga bisa diatasi dengan mengubah kebiasaan dan pola hidup untuk mencegah terjadinya keringat secara berlebihan. Kamu bisa mengurangi konsumsi makanan pedas atau semua makanan atau minuman yang memicu terjadinya keringat pada tubuh. Hindari pula menggunakan pakaian ketat dan terbuat dari bahan yang menyebabkan kamu berkeringat. 

Pakaian yang berwarna hitam atau putih membantu menyamarkan keringat serta bekas keringat. Ganti pakaian ketika kamu sudah merasa tidak nyaman, jadi selalu bawa pakaian cadangan. Jika kaki menjadi bagian tubuh yang mudah berkeringat, gunakan kaus kaki dari bahan yang mudah menyerap keringat, dan pastikan kamu menggantinya setiap hari untuk menghindari bau kaki. 

Apabila hiperhidrosis yang kamu alami terjadi karena masalah kecemasan atau rasa takut yang berlebihan, kamu bisa menghubungi ahli kejiwaan untuk membantu kamu mengontrol cemas dan rasa takut yang kamu alami. Jika semua cara dan pengobatan tidak membantu mengatasi masalah hiperhidrosis, biasanya dilakukan operasi sebagai alternatif terakhir. Tindakan ini adalah pengangkatan kelenjar keringat atau saraf pada lokasi hiperhidrosis. Namun, selalu tanyakan pada dokter apakah metode ini aman dilakukan dan apa saja risiko yang bisa terjadi. 

Baca juga: Bisakah Vitamin Mengatasi Hiperhidrosis?

Referensi: 
NHS UK. Diakses pada 2019. Hyperhidrosis.
Emedicine Medscape. Diakses pada 2019. Hyperhidrosis.
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Hyperhidrosis.