• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Abses Perianal

Abses Perianal

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Abses Perianal

Pengertian Abses Perianal

Abses adalah kumpulan nanah, sementara perianal adalah area sekitar masuknya lubang anus sampai di dalam anus manusia. Maka, abses perianal dapat diartikan sebagai  kumpulan nanah di dekat anus. Kondisi tersebut biasanya disebabkan karena adanya infeksi bakteri di kelenjar kripto globular anus. Abses perianal merupakan salah satu jenis abses yang paling sering terjadi dari abses anus. 

Adanya infeksi bakteri dapat menyebabkan nanah karena saat bakteri masuk ke dalam tubuh, sistem kekebalan tubuh akan melawannya dengan sel-sel darah putih di area yang terinfeksi. Ketika sel-sel darah putih menyerang bakteri tersebut, beberapa jaringan di sekitarnya ikut mati dan membentuk semacam lubang yang kemudian terisi oleh nanah. Nanah tersebut berisi gabungan dari jaringan yang mati, sel darah merah, dan bakteri.

Baca juga: Fakta Tentang Abses yang Perlu Diketahui

Gejala Abses Perianal

Berikut adalah beberapa gejala abses perianal secara umum, antara lain:

  1. Adanya benjolan atau pembengkakan yang nyeri di dekat atau sekitar anus. 
  2. Saat diraba, benjolan tersebut biasanya akan lunak, merah, dan terasa hangat. 
  3. Nyeri pada abses perianal biasanya terjadi terus-menerus atau konstan.
  4. Adanya iritasi kulit di sekitar anus, termasuk kemerahan. 
  5. Mengeluarkan nanah dan darah jika abses pecah.

Selain benjolan atau pembengkakan, abses perianal juga dapat menimbulkan beberapa gejala, seperti:

  1. Demam dan menggigil. 
  2. Merasa malaise atau perasaan ‘tidak enak badan’ yang disertai kelelahan. 
  3. Merasa sembelit (konstipasi) atau nyeri ketika buang air besar.

 

Penyebab Abses Perianal

Sebagian besar abses anus disebabkan oleh sumbatan dan infeksi pada kelenjar-kelenjar di anus. Infeksi tersebut akan membentuk benjolan merah lunak di bawah kulit dekat anus yang diakibatkan oleh terperangkapnya bakteri di kelenjar crypt yang melapisi saluran anus. 

Nantinya, bakteri dan cairan (nanah) akan menumpuk dan menjadi benjolan yang berwarna merah dan nyeri (seperti jerawat). Selain penyumbatan atau infeksi, abses perianal juga dapat disebabkan oleh infeksi menular secara seksual. 

Faktor Risiko Abses Perianal

Abses perianal paling sering terjadi pada bayi laki-laki di bawah usia satu tahun. Namun, berkaitan dengan abses pada anal, beberapa faktor risiko lain yang juga dapat memicunya, antara lain: 

  • Mengidap penyakit peradangan usus (misalnya seperti penyakit Crohn). 
  • Kebiasaan merokok. 
  • Berusia lebih dari 40 tahun. 
  • Memiliki riwayat penyakit tertentu, seperti diabetes. 
  • Sering melakukan seks secara anal. 
  • Penggunaan obat-obatan golongan kortikosteroid. 

Baca juga: Kenali 4 Jenis Abses yang Dapat Terjadi pada Tubuh

Diagnosis Abses Perianal

Untuk mendiagnosa abses perianal, dokter akan menanyakan gejala yang dialami dan melakukan pemeriksaan fisik atau physical examination pada area dubur seseorang. Pemeriksaan fisik bertujuan untuk memeriksa benjolan atau pembengkakan melalui perabaan pada daerah anus dan sekitarnya guna memastikan adanya benjolan yang dicurigai berisi nanah. Pemeriksaan ini juga bertujuan untuk  melihat warna dan keterlibatan jaringan sekitarnya. 

Pada sebagian kasus, bila terdapat keluhan nyeri pada daerah sekitar anus, tetapi benjolan berisi nanah tidak ditemukan, maka beberapa pemeriksaan pencitraan akan dilakukan. Berikut beberapa pemeriksaan penunjang yang mungkin dilakukan oleh dokter: 

1. Computed Tomography  Scan 

Pemeriksaan computed tomography  scan (CT scan) adalah metode yang menggunakan kecanggihan komputer dan menggunakan mesin sinar-X. Pemeriksaan ini bertujuan untuk menghasilkan gambar penampang tubuh yang dapat direkonstruksi. Selain untuk anal, CT scan juga dapat digunakan untuk menghasilkan gambar organ di kepala, dada, perut, lutut, hingga tulang belakang. 

2. Magnetic Resonance Imaging (MRI) 

Pemeriksaan pencitraan magnetic resonance imaging (MRI) dilakukan dengan memanfaatkan teknologi magnet dan gelombang radio. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendapatkan hasil gambar organ, tulang, dan jaringan di dalam tubuh secara rinci dan mendalam. 

3. Ultrasonografi (USG) anorektal 

Ultrasonografi atau USG dilakukan dengan cara menampilkan gambar atau citra dari kondisi bagian dalam tubuh. Misalnya seperti organ tertentu atau jaringan lunak pada tubuh. Pemeriksaan pencitraan USG sendiri memanfaatkan gelombang suara dengan frekuensi tinggi. 

Pengobatan Abses Perianal

Beberapa metode pengobatan dapat dilakukan guna mengatasi abses perianal, antara lain: 

1. Insisi dan Drainase 

Bila abses perianal terdeteksi dan sudah parah, dokter biasanya akan melakukan tindakan medis berupa pembedahan incision dan drainage. Pembedahan insisi dan drainase tersebut dilakukan dokter dengan membuka benjolan atau pembengkakkan dengan alat yang steril dan obat bius lokal. Tujuannya adalah mengeluarkan nanahnya hingga bersih. 

Efek samping dari pembedahan dapat terjadi apabila pengidap abses perianal kurang menjaga higienitas atau kebersihan. Khususnya ketika proses penyembuhan luka pasca operasi sedang berlangsung. Hal tersebut berisiko menimbulkan berbagai masalah kesehatan lainnya. 

Contohnya seperti infeksi, perdarahan, ataupun jahitan yang lepas. Sementara itu, efek samping untuk terapi antibiotik dapat berbeda-beda tergantung jenis antibiotik yang diberikan

2. Terapi Obat Antibiotik 

Selain pembedahan, beberapa kasus abses perianal juga dapat ditangani dengan pemberian resep antibiotik. Obat antibiotik yang diresepkan tersebut harus digunakan sesuai dengan aturan dan petunjuk dokter.

 

Komplikasi Abses Perianal

Komplikasi yang paling sering terjadi pada kasus abses perianal adalah terjadinya fistula perirektal. Fistula perirektal adalah terbentuknya semacam saluran antara kulit dan anus. 

Jika terjadi fistula perianal, bakteri di saluran pencernaan (usus) dapat terperangkap di dalam saluran ini dan menyebabkan infeksi berulang. Fistula perirektal dapat diterapi dengan metode pembedahan yang disebut fistulektomi untuk menghilangkan keberadaan saluran/fistula tersebut.

 

Pencegahan Abses Perianal

Hingga saat ini belum ada metode pencegahan khusus agar terhindar dari penyakit abses perianal. Namun, beberapa hal berikut dapat dilakukan untuk mengurangi risiko terjadinya abses perianal, antara lain:

  1. Menghindari penyakit infeksi menular seksual terutama yang melibatkan anus.
  2. Jika mengalami infeksi, segera periksakan ke dokter untuk dilakukan terapi yang sesuai.
  3. Menjaga kebersihan wilayah anus.

Baca juga: Selain Menyerang Kulit, Abses Dapat Menyerang 6 Bagian Tubuh Ini

 

Kapan Harus ke Dokter?

Bila merasakan adanya benjolan yang nyeri pada daerah sekitar anus, disertai dengan demam atau menggigil, segeralah memeriksakan diri ke dokter. Sebab, bisa saja keluhan tersebut merupakan gejala akan adanya abses perianal. Gangguan kesehatan tersebut tentu tidak boleh disepelekan dan harus segera ditangani, agar terhindar dari risiko komplikasinya. 

Melalui aplikasi Halodoc, kamu bisa membuat janji dengan dokter di rumah sakit pilihanmu untuk memeriksakan kondisi saat ini. Tentunya tanpa perlu mengantre atau menunggu berlama-lama. Jadi tunggu apa lagi? Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang!

Referensi: 

WebMD. Diakses pada 2021. Anal Abscess
University of California San Francisco: Department of Surgery. Diakses pada 2021. Perianal and Perirectal Abscess/Fistula
Healthline. Diakses pada 2021. Anal/Rectal Abscess
MedScape Journal. Diakses pada 2021. Anorectal Abscess Treatment & Management
MedScape Journal. Diakses pada 2021. How is incision and drainage performed in the treatment of anorectal abscess?
NIH. Diakses pada 2021. Oral Antibiotics for Anal Abscess
NHS. Diakses pada 2021. Perianal Abscess: Information for Patients and Carers
Johns Hopkins Medicine. Diakses pada 2021. Anorectal Abscess