Anemia Defisiensi Besi

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Anemia Defisiensi Besi

Anemia defisiensi besi terjadi karena tubuh kekurangan zat besi, sehingga jumlah sel darah merah yang sehat berkurang dan tidak dapat berfungsi dengan baik. Sel darah merah atau disebut hemoglobin dibentuk oleh zat besi. Hemoglobin di dalam sel darah merah dibutuhkan tubuh untuk mengikat dan membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh organ tubuh. Hemoglobin juga berperan dalam pembuangan karbondioksida dari sel-sel tubuh ke paru-paru.

 

Faktor Risiko Anemia Defisiensi Besi

  • Jenis Kelamin. Wanita lebih rentan terkena anemia defisiensi besi terutama pada pada masa kehamilan.

  • Pola makan, kurangnya mengonsumsi makanan yang mengandung zat besi sangat berpotensi terkena anemia defisiensi besi.

  • Donor darah, apabila dilakukan terlalu sering dapat menjadi salah satu penyebab terkena anemia defisiensi besi.

Baca juga: Wanita Paling Rentan Kena Anemia Defisiensi Zat Besi

 

Penyebab Anemia Defisiensi Besi

Beberapa penyebab terjadinya anemia defisiensi besi, antara lain:

  • Sel sabit. Anemia sel sabit disebabkan faktor genetik. Sel sabit disebabkan oleh sel darah merah yang tidak sempurna, sehingga tidak dapat berfungsi dengan baik untuk membawa oksigen ke seluruh tubuh.

  • Malnutrisi. Kurangnya konsumsi zat besi dalam menu makanan sehari-hari. Kurang konsumsi makanan kaya zat besi seperti hati, bayam, tahu, brokoli, ikan, dan daging merah, menjadi penyebab anemia defisensi besi.

  • Talasemia. Kondisi ini termasuk penyakit genetik yang menyebabkan pengidapnya memproduksi hemoglobin yang cacat dan mudah rusak.

  • Masa kehamilan. Pada masa ini, ibu hamil sangat berisiko terkena anemia defisiensi besi.

  • Wanita hamil yang rutin mengonsumsi suplemen penambah zat besi secara rutin.

  • Menstruasi yang berlebihan. Penyebab umum terjadinya anemia defisiensi besi adalah menstruasi atau haid yang berlebihan saat masa produktif atau subur.

  • Makanan atau minuman penghambat penyerapan besi. Kebiasaan mengonsumsi teh, kopi, dan cokelat, dapat mengakibatkan terhambatnya penyerapan zat besi.

  • Obat-obatan yang menghambat penyerapan zat besi. Obat sakit maag dapat mengganggu proses penyerapan zat besi atau yang dikenal sebagai antasida dan proton pump inhibitor.

  • Efek samping obat anti-inflamasi non-steroid (OAINS). Dalam jangka panjang pemakaian ibuprofen dan aspirin secara terus-menerus dapat menyebabkan pendarahan saluran cerna yang berakibat anemia.

  • Malabsorpsi. Malabsorpsi adalah kondisi tidak terserapnya nutrisi dengan baik, termasuk zat besi.

  • Infeksi cacing tambang. Cacing ini termasuk parasit yang hidup dalam usus halus manusia. Cacing tambang mencerna dan menyerap sel darah merah dari dinding usus halus pengidapnya.

  • Perdarahan yang disebabkan oleh kecelakan motor atau mobil yang membuat seseorang kehilangan banyak darah.

  • Donor darah. Terlalu sering mendonorkan darahnya dan dalam jumlah yang besar bisa menyebabkan anemia.

  • Seseorang dengan pola makan vegetarian yang tidak mengonsumsi daging lebih berisiko mengalami anemia defisiensi besi.

 

Gejala Anemia Defisiensi Besi

Beberapa gejala anemia defisiensi besi, antara lain:

  • Mudah dan cepat lelah.

  • Emosi kurang stabil.

  • Kurang berenergi saat beraktivitas.

  • Pucat.

  • Sesak napas.

  • Sulit memusatkan pikiran dan berkonsentrasi.

  • Pusing dan sakit kepala.

  • Kaki dan tangan terasa dingin

  • Sensasi kesemutan pada kaki.

  • Lidah membengkak atau terasa sakit.

  • Mudah terserang infeksi karena sistem kekebalan tubuh yang menurun.

  • Sakit dada.

  • Jantung berdebar cepat.

  • Kuku menjadi mudah patah.

  • Rambut mudah rontok.

  • Napsu makan menurun.

 

Diagnosis Anemia Defisiensi Besi

Diagnosis anemia defisiensi besi dilakukan untuk mengetahui:

  • Jumlah sel darah merah di bawah normal.

  • Jumlah sel darah merah yang lebh rendah dari normal.

  • Nilai hemoglobin di bawah normal.

  • Tingkat feritin di bawah normal.

 

Komplikasi Anemia Defisiensi Besi

Penyebab dari anemia defisiensi besi salah satunya adalah adanya pendarahan. Jika tidak dilakukan tindakan medis, pengidap akan mengalami komplikasi yang serius, termasuk gagal jantung dan tertundanya perkembangan janin bagi ibu hamil.

Baca juga: Kekurangan Zat Besi Bisa Tingkatkan Risiko Gagal Jantung

 

Pengobatan Anemia Defisiensi Besi

  • Meningkatkan asupan makanan yang kaya zat besi seperti hati ayam, daging merah, dan bayam.

  • Mengonsumsi makanan yang banyak mengandung vitamin C untuk membantu penyerapan zat besi.

  • Mengonsumsi suplemen zat besi dalam bentuk tablet secara rutin dua sampai tiga kali dalam sehari.

  • Transfusi sel darah merah (RBC) pada anemia defisiensi besi berat.

  • Hindari makanan, minuman, dan obat-obatan yang berpotensi menghambat penyerapan zat besi.

  • Menghindari makanan tinggi kalsium secara berlebih seperti susu dan yoghurt, karena dapat menghambat penyerapan zat besi.

  • Mencegah tukak lambung akibat penggunaan obat anti-inflamasi non-steroid (OAINS) dalam jangka waktu yang panjang.

  • Menghlangkan infeksi parasit dengan mengobati infeksi cacing tambang agar dapat meningkatkan nutrisi dan mengobati anemia.

  • Mengobati talasemia dengan mengontrol tingkat hemoglobin dalam darah untuk menjaga anemia tidak bertambah berat.

 

Pencegahan Anemia Defisiensi Besi

  • Pada bayi dan anak, pencegahan dilakukan dengan memberikan ASI atau susu formula yang sudah difortifikasi zat besi selama satu tahun pertama. Setelah satu tahun pertama, jangan memberikan susu lebih dari 700 mililiter per hari. Konsumsi susu yang berlebihan akan menggantikan makanan lain yang kaya akan kandungan zat besi. Pada bayi di bawah satu tahun, pemberian susu sapi murni tidak dianjurkan, karena susu sapi murni bukan sumber zat besi yang baik untuk bayi.

  • Pada wanita hamil, konsumsi suplemen penambah zat besi secara rutin.

  • Pada orang dewasa, lakukan pencegahan dengan menghindari makanan dan minuman yang dapat menghambat penyerapan zat besi, serta dengan mengonsumsi makanan dan minuman kaya vitamin C untuk membantu penyerapan zat besi.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Jika mengalami tanda dan gejala tersebut, segera bicarakan dengan dokter untuk mengetahui penyebab dan mendapatkan penanganan yang tepat. 

Referensi:
WebMD. Diakses pada 2019. Iron Deficiency Anemua

Diperbarui pada tanggal 22 Agustus 2019