• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Anemia Defisiensi Besi

Anemia Defisiensi Besi

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Anemia Defisiensi Besi

Pengertian 

Anemia defisiensi besi terjadi karena tubuh kekurangan zat besi, sehingga jumlah sel darah merah yang sehat berkurang dan tidak dapat berfungsi dengan baik. Sel darah merah atau hemoglobin dibentuk oleh zat besi. Hemoglobin di dalam sel darah merah dibutuhkan tubuh untuk mengikat dan membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh organ tubuh. 

Sel darah merah yang satu ini juga berperan dalam pembuangan karbondioksida dari sel-sel tubuh ke paru-paru. Tanpa zat besi yang cukup, tubuh tidak dapat memproduksi cukup hemoglobin untuk membawa oksigen. Akibatnya, anemia defisiensi besi dapat membuat pengidapnya mudah lelah dan sesak napas.

Faktor Risiko Anemia Defisiensi Besi

Kondisi ini bisa dialami oleh segala usia, baik wanita maupun pria. Kendati demikian, ada beberapa faktor yang meningkatkan risiko anemia defisiensi besi seperti:

  • Jenis Kelamin. Wanita lebih rentan terkena anemia defisiensi besi terutama pada pada masa kehamilan. 
  • Pola makan. Kurangnya mengonsumsi makanan yang mengandung zat besi sangat berpotensi terkena anemia defisiensi besi. 
  • Donor darah. Apabila dilakukan terlalu sering, donor darah dapat menyebabkan anemia defisiensi besi. 
  • Bayi dan anak-anak. Kelompok usia ini juga rentan mengalami anemia defisiensi besi, terutama pada bayi yang lahir dengan berat badan rendah atau lahir prematur. Tak hanya itu,  bayi dan anak-anak membutuhkan ekstra zat besi selama masa percepatan pertumbuhan. 

Penyebab Anemia Defisiensi Besi

Kurangnya jumlah hemoglobin dalam darah akibat asupan zat besi yang tidak memadai adalah penyebab utama jenis anemia ini. Berbagai kondisi yang bisa menyebabkannya antara lain:

  • Sel sabit. Anemia sel sabit disebabkan faktor genetik. Sel sabit disebabkan oleh sel darah merah yang tidak sempurna, sehingga tidak dapat berfungsi dengan baik untuk membawa oksigen ke seluruh tubuh. 
  • Malnutrisi. Kurangnya konsumsi zat besi dalam menu makanan sehari-hari. Kurang konsumsi makanan kaya zat besi seperti hati, bayam, tahu, brokoli, ikan, dan daging merah, menjadi penyebab anemia defisensi besi. 
  • Talasemia. Kondisi ini termasuk penyakit genetik yang menyebabkan pengidapnya memproduksi hemoglobin yang cacat dan mudah rusak. 
  • Masa kehamilan.  Selama masa kehamilan ibu hamil membutuhkan lebih banyak zat besi untuk pertumbuhan janin dan kebutuhan ibu sendiri. Karena alasan ini, ibu hamil sangat berisiko terkena anemia defisiensi besi sehingga perlu mendapat suplementasi zat besi secara rutin. 
  • Menstruasi yang berlebihan. Penyebab umum terjadinya anemia defisiensi besi adalah menstruasi atau haid yang berlebihan saat masa produktif atau subur. 
  • Makanan atau minuman penghambat penyerapan besi. Kebiasaan mengonsumsi teh, kopi, dan cokelat, dapat mengakibatkan terhambatnya penyerapan zat besi. 
  • Obat-obatan yang menghambat penyerapan zat besi. Obat sakit maag dapat mengganggu proses penyerapan zat besi atau yang dikenal sebagai antasida dan proton pump inhibitor
  •  Efek samping obat anti-inflamasi non-steroid (OAINS). Dalam jangka panjang pemakaian ibuprofen dan aspirin secara terus-menerus dapat menyebabkan pendarahan saluran cerna yang berakibat anemia. 
  • Malabsorpsi. Malabsorpsi adalah kondisi tidak terserapnya nutrisi dengan baik, termasuk zat besi. 
  • Infeksi cacing tambang. Cacing ini termasuk parasit yang hidup dalam usus halus manusia. Cacing tambang mencerna dan menyerap sel darah merah dari dinding usus halus pengidapnya. 
  • Perdarahan hebat. Cedera atau kondisi lain yang menyebabkan seseorang kehilangan banyak darah dapat menyebabkan anemia defisiensi besi. 
  • Donor darah. Terlalu sering mendonorkan darahnya dan dalam jumlah yang besar bisa menyebabkan anemia. 
  • Pola makan vegetarian. Seseorang dengan pola makan vegetarian yang tidak mengonsumsi daging lebih berisiko mengalami anemia defisiensi besi. 

Gejala 

Anemia defisiensi besi sering kali tidak disadari, apalagi jika kondisinya tergolong ringan. Meski begitu, masalah ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut karena dapat menimbulkan sejumlah gejala berikut:

  • Mudah lelah. 
  • Emosi kurang stabil. 
  • Kurang berenergi saat beraktivitas. 
  • Pucat. 
  • Sesak napas. 
  • Sulit memusatkan pikiran dan berkonsentrasi. 
  • Pusing dan sakit kepala. 
  • Kaki dan tangan terasa dingin 
  • Sensasi kesemutan pada kaki. 
  • Lidah membengkak atau terasa sakit. 
  • Mudah terserang infeksi karena menurunnya sistem kekebalan tubuh.
  • Sakit dada. 
  • Jantung berdebar cepat. 
  • Kuku mudah patah. 
  • Rambut mudah rontok. 
  • Nafsu makan menurun. 

Diagnosis 

Satu-satunya cara untuk mendiagnosis anemia defisiensi besi adalah melalui tes darah. Seseorang dikatakan mengalami anemia defisiensi besi apabila tes darah menunjukan hasil berikut:

  • Jumlah sel darah merah di bawah normal. 
  • Jumlah sel darah merah yang lebih rendah dari normal. 
  • Nilai hemoglobin di bawah normal. 
  • Tingkat feritin di bawah normal. 

Komplikasi 

Dalam kondisi ringan, anemia defisiensi besi jarang menyebabkan komplikasi. Namun, jika tidak diobati, anemia defisiensi besi dapat menjadi parah dan menyebabkan masalah kesehatan, seperti:

  • Masalah jantung. Kurangnya zat besi dapat menyebabkan detak jantung cepat atau tidak teratur. Hal ini disebabkan karena jantung harus memompa lebih banyak darah untuk mengatasi kekurangan oksigen akibat anemia. Jika terus dibiarkan, kondisi ini dapat menyebabkan pembesaran jantung atau gagal jantung.
  • Masalah selama kehamilan. Ibu hamil yang mengalami anemia defisiensi besi parah berisiko melahirkan bayi prematur dan bayi dengan berat badan lahir rendah. 
  • Masalah pertumbuhan. Pada bayi dan anak-anak, kekurangan zat besi yang parah dapat menyebabkan anemia serta keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan. Selain itu, anemia defisiensi besi juga bisa membuat anak rentan terkena infeksi.

Pengobatan 

Perawatan anemia defisiensi besi tergantung pada seberapa parah kondisinya dan apa penyebabnya. Biasanya, kondisi ini paling sering disebabkan karena kurangnya asupan zat besi dalam makanan  atau masalah penyerapan menyerap zat besi. Umumnya, dokter akan merekomendasikan perawatan ini untuk mengobati anemia defisiensi besi:

  • Meningkatkan asupan makanan yang kaya zat besi seperti hati ayam, daging merah, dan bayam. 
  • Mengonsumsi makanan yang banyak mengandung vitamin C untuk membantu penyerapan zat besi. 
  • Mengonsumsi suplemen zat besi dalam bentuk tablet secara rutin dua sampai tiga kali dalam sehari. 
  • Transfusi sel darah merah (RBC) pada anemia defisiensi besi berat. 
  • Hindari makanan, minuman, dan obat-obatan yang berpotensi menghambat penyerapan zat besi. 
  • Menghindari makanan tinggi kalsium secara berlebih seperti susu dan yoghurt, karena dapat menghambat penyerapan zat besi. 
  • Mencegah tukak lambung akibat penggunaan obat anti-inflamasi non-steroid dalam jangka waktu yang panjang. 
  • Menghilangkan infeksi parasit dengan mengobati infeksi cacing tambang agar dapat meningkatkan nutrisi dan mengobati anemia. 
  • Mengobati thalasemia dengan mengontrol tingkat hemoglobin dalam darah untuk menjaga anemia tidak bertambah berat. 

Pencegahan Anemia Defisiensi Besi

Cara yang paling efektif untuk mencegah anemia defisiensi besi adalah mengonsumsi makanan kaya zat besi. Langkah pencegahan lain yang perlu dilakukan di antaranya:

  • Pada bayi dan anak, pencegahan dilakukan dengan memberikan ASI atau susu formula yang sudah difortifikasi zat besi selama satu tahun pertama. Setelah satu tahun pertama, hindari memberikan susu lebih dari 700 mililiter per hari. Konsumsi susu yang berlebihan justru menggantikan makanan lain yang kaya akan kandungan zat besi. Pada bayi di bawah satu tahun, pemberian susu sapi murni tidak dianjurkan, karena susu sapi murni bukan sumber zat besi yang baik untuk bayi. 
  • Selama masa kehamilan, ibu hamil perlu mengonsumsi suplemen penambah zat besi secara rutin agar kebutuhan zat besi selalu terpenuhi.
  • Pada orang dewasa, lakukan pencegahan dengan menghindari makanan dan minuman yang dapat menghambat penyerapan zat besi, serta dengan mengonsumsi makanan dan minuman kaya vitamin C untuk membantu penyerapan zat besi. 

Kapan Harus ke Dokter?

Jika mengalami tanda dan gejala anemia defisiensi besi, jangan tunda untuk memeriksakan diri ke dokter. Supaya mudah dan praktis, buat janji rumah sakit melalui aplikasi Halodoc saja. Jangan tunda untuk memeriksakan diri sebelum kondisinya semakin memburuk. Yuk, download Halodoc sekarang juga

Referensi:

Mayo Clinic. Diakses pada 2022. Iron deficiency anemia.
Healthline. Diakses pada 2022. What Is Iron-Deficiency Anemia?
National Center for Biotechnology Information. Diakses pada 2022. Iron deficiency anemia.
Medscape. Diakses pada 2022. Iron deficiency anemia.
WebMD. Diakses pada 2022. Iron Deficiency Anemia.
Diperbarui pada tanggal 6 Januari 2022