Asma

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Asma

Asma adalah salah satu jenis penyakit yang ditandai dengan penyempitan dan peradangan saluran pernapasan yang mengakibatkan sesak (sulit bernapas). 

 

Faktor Resiko Asma

Bakteri yang berasal dari debu dapat menjadi pemicu utama faktor risiko dari asma. Bakteri tersebut bernama endotoxin yang umumnya berada pada perkakas rumah, terutama di kamar tidur yang dapat menimbulkan gejala asma. 

 

Penyebab Asma

Asma dapat disebabkan oleh debu, asap rokok, bulu binatang , udara dingin, aktivitas fisik,  infeksi virus atau bahkan terpapar zat kimia. Namun, hingga kini penyebab dari asma belum diketahui secara pasti.

Pengidap asma memiliki saluran pernapasan yang lebih sensitif. Karenanya, saat paru-paru terkena iritasi dari pemicu asma, maka otot saluran pernapasan jadi kaku dan menyempit. Pada pengidap asma, saluran pernapasan akan lebih sensitif, sehingga paru-paru yang terkena iritasi dari pemicu asma dapat menyebabkan otot saluran pernapasan. Produksi dahak meningkat, sehingga membuat kesulitan bernapas.

Pada masa kanak-kanak, gejala asma akan menghilang dengan sendirinya saat masuk usia remaja. Gejala asma yang tergolong menengah atau berat pada masa kanak-kanak dapat muncul kembali di masa mendatang. Perlu diketahui juga bahwa gejala asma bisa muncul di usia berapa pun, dan tidak selalu bermula pada waktu kanak-kanak.

 

Gejala Asma

Beberapa gejala asma yang biasa terjadi adalah nyeri dada, batuk-batuk, dan mengi. Ini juga salah satu jenis penyakit yang dapat dialami oleh semua golongan usia, dari anak-anak hingga orang tua.

Baca jugaGejala Berupa Sesak Napas, Bronkitis Sering Dikira Asma

 

Diagnosis Asma

Untuk mengetahui adanya alergi pada pengidap asma, dokter akan melakukan tes antara lain:

  • Menyuntikkan beberapa alergen dan mengukur ukuran benjolan merah yang ditimbulkan setelah 20 menit.

  • Melakukan tes darah IgE atau sIgE.

 

Komplikasi Asma

  • Masalah psikologis (cemas, stres, atau depresi).

  • Menurunnya performa di sekolah atau pekerjaan.

  • Tubuh sering terasa lelah.

  • Gangguan pertumbuhan dan pubertas pada anak-anak.

  • Status asmatikus, yaitu kondisi asma yang parah dan tidak dapat merespon dengan terapi normal.

  • Pneumonia

  • Gagal pernapasan.

  • Kerusakan pada sebagian atau seluruh paru-paru.

  • Kematian.

 

Pengobatan  Asma

Dalam pengobatan asma ada dua hal yang perlu dilakukan, yakni meredakan gejala dan mencegah gejala kambuh. Oleh karena itu, penting untuk menjalani pengobatan dengan dokter, sehingga dapat diberikan obat untuk mengatasi asma. 

Di samping melakukan pengobatan, pengidap asma juga harus menghindari dari hal-hal yang dapat menjadi pemicu asma kambuh. Biasanya, dokter akan merekomendasikan inhaler sabagai pengobatan saat gejala asma muncul. Jenis inhaler terbagi atas dua, yaitu inhaler Ventolin yang ringan dan inhaler kortikosteroid. Namun, penggunaan inhaler juga  berpotensi menyebabkan efek samping bagi pengguna. 

Efek samping inhaler ventolin yang ringan, yaitu:

  • Pusing yang disertai sakit kepala.

  • Mengalami insomnia atau susah tidur.

  • Rasa nyeri pada otot.

  • Hidung tersumbat hingga meler.

  • Kering pada mulut dan tenggorokan.

  • Batuk meski bukan karena sedang sakit.

  • Sakit tenggorokan hingga suara serak.

Ada pula efek samping berat yang mesti diwaspadai. Sebaiknya segera hubungi dokter jika mengalami efek samping sebagai berikut:

  • Muncul rasa nyeri di dada, jantung berdenyut tidak beraturan.

  • Tremor pada tangan.

  • Muncul gejala kecemasan.

  • Tekanan darah menjadi tinggi.

  • Menurunnya kadar kalium dalam darah, yang apabila dibiarkan dapat menyebabkan rasa haus yang ekstrim, otot melemah dan lemas.

  • Kesulitan bernapas.

Efek samping dari inhaler dengan kortikosteroid atau preventer inhaler, antara lain:

  • Sakit mulut.

  • Infeksi fungi pada mulut.

  • Tulang melemah pada dewasa.

  • Muncul glaukoma atau cairan di dalam mata, tekanan darah tinggi di mata bisa muncul dalam penggunaan jangka panjang.

Apabila terjadi serangan asma dengan gejala yang semakin parah, meskipun sudah melakukan penanganan dengan inhaler maupun obat, maka perlu tindakan medis di rumah sakit. Pasalnya, asma juga dapat membahayakan nyawa pengidapnya

Baca juga: Terserang Asma Saat Puasa? Ini Cara Mengatasinya

 

Pencegahan Asma

Asma merupakan jenis penyakit yang dapat dikendalikan dengan mengatur pola hidup sehat. Selain itu, sebaiknya perhatikan beberapa hal berikut:

  • Mengenali & menghindari pemicu asma.

  • Mengikuti anjuran rencana penanganan asma dari dokter.

  • Melakukan langkah pengobatan yang tepat dengan mengenali penyebab serangan asma.

  • Menggunakan obat-obatan asma yang teah dianjurkan oleh dokter secara teratur.

  • Memonitor kondisi saluran napas.

Perlu diperhatikan, penggunaan inhaler dapat meningkatkan reaksi asma. Oleh karena itu,  wajib untuk mendiskusikannya dengan dokter, supaya rencana penanganan asma disesuaikan dengan kebutuhan. Vaksinasi flu dan pneumonia pun sangat disarankan untuk dilakukan, supaya asma tidak memburuk.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Jika mengalami tanda dan gejala di atas, segera hubungi dokter untuk mendapat pertolongan medis. Penanganan segera bisa membantu menghindari hal yang tidak diinginkan. 

Referensi:
WebMD. Diakses pada 2019. Toxins in Dust Raise Risk of Asthma
Diperbarui pada 5 September 2019