• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Batu Ginjal

Batu Ginjal

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Penyakit Batu Ginjal

Pengertian Batu Ginjal 

Batu ginjal atau yang juga dengan istilah nefrolitiasis adalah kondisi saat material keras menyerupai batu terbentuk di dalam ginjal. Material ini terbentuk dari sisa zat di dalam darah yang disaring oleh ginjal lalu mengendap dan mengkristal seiring berjalannya waktu. Pada sebagian besar kasus, pengidap batu ginjal biasanya berusia 30–60 tahun. Diperkirakan 15 persen wanita dan 10 persen pria pernah mengalami kondisi ini selama hidup mereka.


Faktor Risiko Batu Ginjal

Faktor-faktor yang meningkatkan risiko seseorang mengembangkan batu ginjal meliputi:

  • Riwayat Kesehatan Keluarga. Jika seseorang di keluarga pernah mengidap batu ginjal, kemungkinan besar kamu juga akan terkena batu ginjal. Jika kamu pernah mengalami satu atau lebih batu ginjal, kamu berisiko lebih tinggi terkena batu ginjal lainnya.
  • Dehidrasi. Tidak minum cukup air setiap hari dapat meningkatkan risiko batu ginjal. Orang yang tinggal di daerah beriklim hangat dan kering dan mereka yang banyak berkeringat mungkin memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan orang lain.
  • Diet Tertentu. Makan makanan yang tinggi protein, natrium (garam), dan gula dapat meningkatkan risiko beberapa jenis batu ginjal. Ini terutama berlaku dengan diet tinggi natrium. Terlalu banyak garam dalam makanan meningkatkan jumlah kalsium yang harus disaring oleh ginjal dan secara signifikan meningkatkan risiko batu ginjal.
  • Kegemukan. Indeks massa tubuh (BMI) yang tinggi, ukuran pinggang yang besar, dan penambahan berat badan telah dikaitkan dengan peningkatan risiko batu ginjal.
  • Penyakit Pencernaan dan Pembedahan. Operasi bypass lambung, penyakit radang usus, atau diare kronis dapat menyebabkan perubahan pada proses pencernaan yang memengaruhi penyerapan kalsium dan air, meningkatkan jumlah zat pembentuk batu dalam urine.

Kondisi medis lain seperti asidosis tubulus ginjal, sistinuria, hiperparatiroidisme, dan infeksi saluran kemih berulang juga dapat meningkatkan risiko batu ginjal.

Suplemen dan obat-obatan tertentu, seperti vitamin C, suplemen makanan, pencahar (jika digunakan secara berlebihan), antasida berbasis kalsium, dan obat-obatan tertentu yang digunakan untuk mengobati migrain atau depresi, dapat meningkatkan risiko batu ginjal.

Baca juga: Batu Ginjal Bisa Berakhir pada Gagal Ginjal, Benarkah?


Penyebab Batu Ginjal 

Batu ginjal seringkali tidak memiliki penyebab tunggal yang pasti, meskipun beberapa faktor dapat meningkatkan risiko. Batu ginjal terbentuk ketika urine mengandung lebih banyak zat pembentuk kristal, seperti kalsium, oksalat, dan asam urat daripada cairan. Pada saat yang sama, urine mungkin kekurangan zat yang mencegah kristal saling menempel, menciptakan lingkungan yang ideal untuk pembentukan batu ginjal.


Gejala Batu Ginjal 

Saat batu ginjal berukuran kecil, umumnya gejalanya tidak akan dirasakan karena bisa keluar dari tubuh secara alami melalui ureter dengan mudah. Ureter ini adalah saluran yang menyambungkan ginjal dengan kandung kemih.

Namun, apabila batu ginjal berukuran lebih besar dari diameter saluran ureter gejalanya dapat dirasakan oleh pengidapnya. Gejala tersebut meliputi:

  • Sering buang air kecil.
  • Sakit saat buang air kecil.
  • Nyeri pada pinggang, perut bawah atau samping, dan selangkangan.
  • Kadang disertai mual.
  • Jumlah urine yang keluar sedikit atau urine tidak keluar sama sekali.

Batu ginjal yang besar bergesekan dengan lapisan dinding ureter, sehingga menyebabkan iritasi bahkan luka. Inilah yang mengakibatkan urine terkadang juga bisa mengandung darah.

Selain dapat membuat ureter iritasi, batu ginjal juga dapat tersangkut dalam ureter atau uretra (saluran akhir pembuangan urine), sehingga bakteri terakumulasi yang menyebabkan pembengkakan akibat infeksi. Sedangkan apabila pengidap batu ginjal mengalami infeksi, gejala yang dirasakan adalah urine terlihat keruh dan berbau tidak sedap, badan lemas, menggigil, dan demam tinggi.

Baca juga: Minum Infused Water Bisa Mencegah Batu Ginjal, Benarkah?


Diagnosis Batu Ginjal

Jika dokter mencurigai seseorang memiliki batu ginjal, kamu mungkin menjalani tes dan prosedur diagnostik, seperti:

  • Tes Darah. Tes darah mungkin menunjukkan terlalu banyak kalsium atau asam urat dalam darah. Hasil tes darah membantu memantau kesehatan ginjal dan dapat mengarahkan dokter untuk memeriksa kondisi medis lainnya.
  • Tes Urine. Tes pengumpulan urine 24 jam mungkin menunjukkan bahwa kamu mengeluarkan terlalu banyak mineral pembentuk batu atau terlalu sedikit zat pencegah batu. Untuk tes ini, dokter mungkin meminta kamu melakukan dua pengambilan urin selama dua hari berturut-turut.
  • Pencitraan. Tes pencitraan mungkin menunjukkan batu ginjal di saluran kemih. Komputerisasi tomografi (CT) kecepatan tinggi atau energi ganda dapat mengungkapkan bahkan batu-batu kecil. Rontgen perut sederhana lebih jarang digunakan karena tes pencitraan semacam ini dapat melewatkan batu ginjal kecil.
  • Ultrasonografi. Tes non-invasif yang cepat dan mudah dilakukan, merupakan pilihan pencitraan lain untuk mendiagnosis batu ginjal.
  • Analisis Batu yang Lolos. Kamu mungkin diminta untuk buang air kecil melalui saringan untuk menangkap batu yang lewati. Analisis laboratorium akan mengungkap susunan batu ginjal. Dokter menggunakan informasi ini untuk menentukan apa yang menyebabkan batu ginjal dan untuk membuat rencana untuk mencegah lebih banyak batu ginjal.


Komplikasi Batu Ginjal

Pengobatan untuk batu ginjal sendiri, terutama batu ginjal yang berukuran besar, berisiko menimbulkan beberapa komplikasi, antara lain:

  • Cedera pada ureter.
  • Perdarahan di dalam tubuh.
  • Infeksi yang menyebar ke seluruh tubuh melalui darah atau bakteremia.
  • Pembengkakan pada ginjal atau hidronefrosis.

Baca juga: Kebiasaan Buruk Ini Picu Batu Ginjal


Pengobatan Batu Ginjal 

Langkah pengobatan batu ginjal dilakukan dengan mempertimbangkan ukuran batu. Apabila masih tergolong kecil atau menengah serta masih dapat melewati saluran kemih, maka tidak perlu dilakukan operasi namun disarankan untuk banyak minum air putih sesuai takaran yang disarankan.

Dengan adanya aliran cairan terus-menerus, maka batu ginjal dapat terdorong keluar dengan sendirinya. Namun, apabila gejala yang dirasakan mengganggu, umumnya dokter akan memberikan obat pereda rasa sakit (analgesik) atau obat antiradang non-steroid.

Sedangkan untuk penanganan batu ginjal yang dengan prosedur khusus (misalnya dengan energi laser, ultrasound, atau operasi) biasanya baru akan diterapkan jika batu berukuran lebih besar, sehingga menyumbat saluran kemih pasien.

Baca juga: Awas, Dehidrasi Bisa Sebabkan Gangguan Batu Ginjal


Pencegahan Batu Ginjal 

Untuk mencegah batu ginjal dapat dilakukan dengan meminum air putih setiap hari. Selain itu, disarankan untuk membatasi diri mengonsumsi makanan, minuman, atau suplemen yang mengandung zat-zat yang berpotensi menyebabkan terbentuknya batu ginjal, seperti zat oksalat, suplemen kalsium, dan protein hewani. Namun, bagi yang sudah pernah mengalami batu ginjal, selain minum air dalam jumlah cukup, dokter juga akan meresepkan obat. Gunanya untuk mencegah batu ginjal kambuh.


Kapan Harus ke Dokter?

Jika mengalami tanda dan gejala tersebut, segera berbicara dengan dokter untuk mengetahui penyebab dan mendapat penanganan yang tepat. Jika gejala yang dialami sudah dalam intensitas yang parah, segera periksakan diri di rumah sakit terdekat melalui aplikasi Halodoc.

Referensi: 
American Kidney Fund. Diakses pada 2021. Kidney Stone Causes, Symptoms, Treatments, & Prevention.
Healthline.com. Diakses pada 2021. Kidney Stones.
Mayo Clinic. Diakses pada 2021. Kidney Stone.
Urology Health. Diakses pada 2021. What are Kidney Stones?

Diperbarui pada 10 Mei 2021.