Batuk Rejan

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Batuk Rejan

Dikenal juga dengan istilah pertusis, batuk rejan merupakan infeksi bakteri pada paru-paru dan saluran pernapasan yang mudah sekali menular. Umumnya, pengidap batuk rejan adalah anak-anak. Namun, orang dewasa juga juga berisiko mengalami batuk rejan. Perlu diingat bahwa apabila terjadi pada anak-anak dan lansia, batuk rejan dapat berakibat fatal, terutama pada bayi yang belum cukup umur untuk mendapatkan vaksin pertusis.

Batuk rejan ditandai dengan batuk keras yang terjadi secara terus-menerus yang biasanya diawali dengan tarikan napas panjang lewat mulut. Batuk rejan biasanya juga berlangsung selama tiga bulan, sehingga sering disebut juga sebagai batuk seratus hari.

Bila tidak ditangani dengan baik, pengidap batuk rejan bisa kekurangan oksigen dalam darah. Selain itu, batuk ini juga bisa menyebabkan komplikasi seperti pneumonia. Dalam beberapa kasus, pengidap batuk rejan bahkan bisa tidak sengaja melukai tulang rusuk mereka karena batuk terlalu keras.

Perlu diperhatikan bahwa batuk rejan dapat menular dengan cepat, sehingga kamu butuh vaksin pertusis untuk mencegah terkena batuk rejan.

Baca juga: Sama-Sama Batuk, Ini Bedanya Batuk Rejan dan Batuk Biasa

 

Faktor Risiko Batuk Rejan

Orang-orang yang rawan tertular batuk rejan adalah:

  • Ibu hamil saat trimester terakhir kehamilan.

  • Bayi baru lahir.

  • Bayi yang berusia di bawah 1 tahun dan belum mendapatkan vaksinasi DPT secara lengkap.

  • Orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah.

  • Orang yang mengidap penyakit kronis seperti asma atau gagal jantung.

  • Anak-anak berusia di bawah 10 tahun yang belum divaksin DPT.

 

Penyebab Batuk Rejan

Penyebab batuk rejan adalah bakteri bernama bordetella pertussis yang bisa menyebar melalui udara. Bakteri ini menyerang dinding trakea dan bronkus (percabangan trakea yang menuju ke paru-paru kanan dan kiri). Terjadinya pembengkakan saluran udara adalah salah satu cara tubuh bereaksi terhadap infeksi oleh bakteri. Saluran udara yang membengkak bisa membuat pengidap harus menarik napas dengan kuat melalui mulut karena kesulitan bernapas. Hasil tarikan napas yang kuat inilah yang memunculkan bunyi dengkingan yang panjang.

Saat bakteri menginfeksi dinding saluran udara, maka tubuh akan memproduksi lendir kental. Inilah mengapa tubuh akan merangsang pengidap untuk mengeluarkan lendir kental tersebut dengan cara batuk.

Baca juga: Batuk Rejan Bisa Tanda 4 Penyakit Serius

 

Gejala Batuk Rejan

Umumnya, gejala batuk rejan dapat muncul antara 7 hingga 21 hari setelah bakteri bordetella pertussis masuk ke dalam saluran pernapasan. Gejala batuk rejan dapat terbagi menjadi tiga tahapan terutama pada bayi dan anak-anak, yaitu:

  1. Tahap Pertama

Pada tahap awal ini, gejala yang muncul masih termasuk ringan, seperti bersin-bersin, hidung berair dan tersumbat, mata berair, radang tenggorokan, batuk ringan, hingga demam. Tahap ini bisa berlangsung hingga dua minggu, dan di tahap inilah, pengidap batuk rejan berisiko menularkannya ke orang-orang di sekelilingnya.

  1. Tahap Kedua

Tahap ini ditandai dengan meredanya semua gejala-gejala flu, tetapi batuk justru bertambah parah dan tak terkontrol. Di tahap ini, terjadi batuk keras terus-menerus yang diawali tarikan napas panjang lewat mulut. Setelah serangan batuk, bayi dan anak-anak yang mengalami batuk rejan bisa mengalami muntah serta tubuh mengalami kelelahan. Tahap ini bisa berlangsung sekitar dua hingga empat minggu atau lebih.

  1. Tahap Ketiga

Pada tahap inilah tubuh mulai membaik, tetapi gejala batuk rejan tetap ada bahkan bisa batuk lebih keras. Tahap pemulihan ini bisa bertahan hingga dua bulan atau lebih tergantung dari pengobatan.

Berikut ini beberapa kondisi yang harus segera menerima penanganan dokter:

  • Bayi berusia 0-6 bulan yang terlihat sangat tidak sehat.

  • Pengidap mulai mengalami kesulitan untuk bernapas.

  • Pengidap mengalami komplikasi serius, seperti kejang atau pneumonia.

  • Pengidap mengeluarkan bunyi saat menarik napas.

  • Pengidap muntah akibat batuk rejan yang parah.

  • Tubuh menjadi memerah atau membiru.

 

Diagnosis Batuk Rejan

Untuk mendiagnosis batuk rejan, pertama-tama dokter biasanya akan menanyakan riwayat kesehatan pengidap dan gejala yang dirasakannya saat ini. Dokter bisa saja salah mendiagnosis batuk rejan sebagai flu biasa atau infeksi pernapasan lainnya karena batuk rejan pada orang dewasa biasanya tidak menyebabkan gejala yang parah.

Namun, bila orang dewasa mengalami batuk terus-menerus, dokter bisa merekomendasikan tes medis lebih lanjut untuk mendiagnosis masalah. Pemeriksaan untuk mendiagnosis batuk rejan, meliputi usap nasofaring, yang dilakukan dengan mengambil sampel lendir melalui hidung untuk menganalisis adanya bakteri B. pertussis.

 

Komplikasi Batuk Rejan

Komplikasi yang mungkin terjadi adalah:

  • Napas terputus-putus.

  • Dehidrasi dan berkurangnya berat badan akibat muntah secara berlebihan.

  • Pneumonia

  • Tekanan darah rendah.

  • Mengalami kejang-kejang.

  • Kerusakan otak karena kurangnya pasokan oksigen menuju ke otak.

  • Gagal ginjal.

Komplikasi pada bayi bisa berakibat fatal, sehingga menyebabkan gagal ginjal jika tidak diatasi secara tepat. Sedangkan pada orang dewasa, komplikasinya cenderung lebih ringan. Seperti tulang rusuk mengalami memar atau retak, hernia perut, mimisan, infeksi telinga, pecahnya pembuluh darah di kulit atau putih mata, munculnya sariawan pada lidah dan mulut, serta wajah mengalami pembengkakan.

 

Pengobatan Batuk Rejan

Perlu diingat untuk tidak sembarangan mengonsumsi obat batuk yang dijual bebas di pasaran. Pasalnya, obat yang dijual di pasaran belum tentu bisa meredakan gejala batuk rejan dengan baik.

Pada bayi dan anak-anak yang mengalami batuk rejan, mereka biasanya akan ditempatkan di ruang isolasi untuk menghindari penyebaran infeksi. Pengobatan utama yang diberikan adalah antibiotik untuk melawan bakteri penyebab infeksi. Kortikosteroid akan diberikan untuk mengatasi peradangan pada saluran napas. Baik antibiotik dan kortikosteroid bisa diberikan melalui infus. Sungkup okasigen dapat diberikan untuk membantu pernapasan.

Bayi dan anak-anak dengan batuk rejan yang cukup parah biasanya berisiko mengalami kerusakan paru-paru. Oleh karena itu, penanganan khusus di rumah sakit akan berkonsentrasi pada pemakaian alat bantu pernapasan (ventilasi) dan pemberian obat-obatan untuk mengendalikan tekanan darah mereka dengan obat-obatan.

Pada keadaan yang lebih parah, dapat dilakukan Oksigenasi Membran Ekstrakorporeal (ECMO yaitu extracorporeal membrane oxygenation), yaitu ketika oksigen akan langsung dialirkan ke tubuh tanpa melewati paru-paru. Prosedur ini akan diberikan jika teknik yang lain tidak berhasil dan paru-paru sudah mengalami kerusakan cukup parah.

Pengobatan Batuk Rejan pada Remaja & Dewasa

Pada pengidap remaja dan dewasa, batuk rejan biasanya dapat ditangani di rumah dengan mengonsumsi antibiotik yang diberikan dokter. Beberapa langkah yang bisa dilakukan sendiri di rumah adalah:

  • Konsumsi ibuprofen atau paracetamol untuk mengatasi gejala demam dan radang tenggorokan.

  • Untuk mencegah dehidrasi, pengidap disarankan untuk minum banyak air.

  • Keluarkan semua lendir atau muntah saat batuk agar tidak tersedak atau terhirup kembali.

  • Banyak beristirahat.

 

Pencegahan Batuk Rejan

Cara terbaik untuk mencegah batuk rejan adalah dengan mendapatkan vaksinasi pertusis. Biasanya vaksin ini diberikan bersamaan dengan vaksin difteri, tetanus, polio (vaksin DPT) dan Hib.

Ibu hamil juga perlu mendapatkan vaksinasi pertusis. Mendapatkan vaksinasi pertusis saat hamil membantu melindungi bayi terserang batuk rejan pada minggu-minggu awal usai kelahiran. Vaksinasi pertusis akan ditawarkan pada semua wanita hamil saat usia kehamilan mereka antara 28-38 minggu. Jika ingin mendapatkan vaksinasi pertusis saat hamil, sebaiknya bicarakan dahulu dengan dokter kandungan.

Selain pada ibu hamil dan bayi, vaksinasi pertusis tambahan (booster) perlu diberikan karena fungsi perlindungannya cenderung melemah. Vaksinasi tambahan ini bisa diberikan ketika:

  • Hal ini karena kekebalan vaksin pertusis akan melemah mulai saat seseorang berusia 11 tahun. Maka usia tersebut menjadi waktu yang tepat untuk mendapatkan booster vaksinasi pertusis.

  • Beberapa jenis vaksin tetanus dan difteri yang diberikan secara berkala setiap 10 tahun sekali juga memiliki fungsi untuk melindungi dari batuk rejan. Vaksin jenis ini juga mengurangi risiko untuk menularkan batuk rejan kepada bayi.

Baca juga: Si Kecil Belum Divaksin DPT Rentan Alami Batuk Rejan, Kok Bisa?

 

Kapan Harus ke Dokter?

Jika mengalami tanda dan gejala di atas, segera berbicara dengan dokter untuk mengetahui penyebab dan jenis pengobatan yang dibutuhkan. 

Referensi:
WebMD. Diakses pada 2019. Whooping Cough: Causes, Symptoms, and Treatment.
Medical News Today. Diakses pada 2019. What to know about whooping cough in adults.

Diperbarui pada 2 September 2019.