Diabetes Insipidus

Pengertian Diabetes Insipidus

Diabetes insipidus merupakan suatu kondisi yang menyebabkan pengidapnya memiliki frekuensi buang air kecil yang meningkat dan rasa haus yang berlebihan, sehingga berakibat tidur malam pengidapnya terganggu dan dapat mengompol. Gejala diabetes insipidus mirip dengan diabetes melitus, namun penyebabnya berbeda. Pada diabetes melitus, terdapat masalah insulin dan kadar gula darah yang tinggi. Sedangkan pada diabetes insipidus, masalah dipengaruhi kerja hormon dan ginjal terhadap urine.

Gejala Diabetes Insipidus

Beberapa gejala yang diakibatkan oleh diabetes insipidus, antara lain:

  • Rasa haus yang berlebihan.
  • Pengeluaran urine yang terdilusi dalam jumlah yang sangat banyak, dapat mencapai 15 liter jika pengidap mengonsumsi cairan dalam jumlah banyak.
  • Sering terbangun malam hari untuk buang air kecil.
  • Sering mengompol.

Pada pengidap anak-anak, gejala dapat berupa:

  • Tangisan yang tidak dapat ditenangkan.
  • Sulit tidur.
  • Demam.
  • Muntah.
  • Diare.
  • Pertumbuhan terhambat.
  • Berat badan turun.
  • Mengompol.
  • Nafsu makan turun.
  • Rasa lelah terus-menerus.

Penyebab Diabetes Insipidus

Penyebab diabetes insipidus adalah gangguan pada kelenjar hipofisis atau ginjal pengidap. Normalnya, tubuh dapat mengatur keseimbangan antara cairan yang diminum dengan banyaknya urine yang diproduksi. Cairan yang berlebih dalam tubuh akan dikeluarkan ginjal dalam bentuk urine. Jika terjadi dehidrasi, kelenjar hipofisis akan mengeluarkan hormon anti-diuretik (ADH) ke ginjal untuk menahan cairan dalam tubuh dan mengurangi produksi urine. Berdasarkan penyebabnya, diabetes insipidus dibagi menjadi:

  • Diabetes insipidus sentral, yaitu kondisi yang disebabkan karena adanya kerusakan kelenjar hipotalamus atau hipofisis, sehingga menyebabkan gangguan penyimpanan dan pengeluaran ADH. Kerusakan ini dapat terjadi akibat operasi, tumor, meningitis, kelainan genetik, atau trauma kepala.
  • Diabetes insipidus nefrogenik, yaitu kondisi yang disebabkan karena adanya kelainan pada tubulus ginjal (tempat di mana air dikeluarkan dan dipertahankan), akibat kelainan genetik, penyakit ginjal kronik, atau konsumsi obat tertentu, seperti lithium atau demeclocycline.
  • Diabetes insipidus gestasional, yaitu kondisi yang terjadi selama kehamilan dan bersifat sementara.
  • Polidipsia primer atau disebut juga diabetes insipidus dipsogenik atau polidipsia psikogenik, yaitu kondisi yang disebabkan karena konsumsi cairan yang berlebihan, yang tidak berhubungan dengan masalah produksi atau respon ADH.

Faktor Risiko Diabetes Insipidus

Faktor risiko menderita diabetes insipidus, antara lain jenis kelamin laki-laki serta genetik.

Diagnosis Diabetes Insipidus

Dokter akan mendiagnosis diabetes insipidus dengan melakukan wawancara medis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang, seperti:

  • Tes deprivasi air. Pada tes ini, pengidap dilarang mengonsumsi cairan selama beberapa jam untuk melihat reaksi tubuhnya. Pada orang yang sehat, jumlah urine yang dikeluarkan sedikit, dengan konsentrasi yang lebih pekat. Sedangkan pada pengidap diabetes insipidus, jumlah urine yang dikeluarkan banyak.
  • Tes darah dan tes urine. Tes darah dilakukan untuk mengetahui kadar hormon antidiuretik di dalam darah. Sedangkan tes urine dilakukan untuk mengetahui beberapa unsur lain, seperti glukosa, kalsium, dan potasium. Jika kadar glukosa tinggi, maka yang diderita adalah diabetes tipe 1 atau diabetes tipe 2.
  • Tes hormon antidiuretik. Tes ini akan menunjukkan reaksi tubuh terhadap hormon antidiuretik yang diberikan melalui suntikan. Jika hormon yang disuntikkan membantu menghentikan produksi urine, berarti gangguan terdapat pada kelenjar hipotalamus atau hipofisis. Namun, jika urine yang diproduksi tetap banyak, berarti gangguan terdapat pada ginjal.
  • MRI. MRI dilakukan jika terdapat dugaan kerusakan pada hipotalamus atau hipofisis, untuk mencari penyebab kerusakan tersebut, misalnya karena tumor.

Pengobatan Diabetes Insipidus

Pada diabetes insipidus sentral:

  • Meningkatkan konsumsi cairan untuk mencegah dehidrasi.
  • Pemberian desmopresin (hormon antidiuretik buatan), yang cara kerjanya serupa dengan hormon antidiuretik tubuh, yaitu dengan menghentikan produksi urine berlebih dari ginjal saat jumlah cairan dalam tubuh rendah. Penggunaan desmopresin harus sesuai dengan resep dokter.

Pada diabetes insipidus nefrogenik:

  • Menjaga asupan cairan untuk mencegah dehidrasi.
  • Menghentikan konsumsi obat-obatan yang diduga menyebabkan diabetes insipidus dan menggantinya dengan obat-obatan lain yang fungsinya sama.

Komplikasi Diabetes Insipidus

Komplikasi dari diabetes insipidus, antara lain gangguan keseimbangan elektrolit dalam tubuh serta dehidrasi.

Pencegahan Diabetes Insipidus

Hingga saat ini, belum ditemukan metode untuk mencegah diabetes insipidus.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika sudah melakukan pencegahan, tapi diabetes insipidus masih menyerang dan mengganggu aktivitas sehari-hari, segera kunjungi dokter untuk meminta saran. Penanganan sedini mungkin akan membantu mencegah munculnya masalah-masalah yang lebih parah lagi.