Fobia

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Fobia

Fobia adalah perasaan takut berlebihan yang dirasakan seseorang terhadap situasi atau obejek tertentu. Ketakutan berlebihan ini tidak jarang menyebabkan depresi, kecemasan, dan  kepanikan yang parah. Kebanyakan pengidap fobia tahu bahwa ketakutannya tidak beralasan, tapi tidak bisa mengendalikannya dan lebih memilih menghindari objek atau situasi yang ditakuti. Kondisi inilah yang membedakan fobia dengan ketakutan biasa.

Fobia terdiri dari berbagai macam jenis. Berikut adalah jenis fobia yang dikelompokan berdasarkan jenis ketakutannya.

1. Fobia Spesifik

Fobia spesifik merupakan fobia yang umumnya berkembang sejak pengidapnya kecil atau remaja. Misalnya takut terhadap hewan (laba-laba atau ular), takut tertular penyakit seksual (fobia seksualitas), takut jarum suntik (fobia fisik), takut terhadap lingkungan (ketinggian), atau fobia situasi (takut berkunjung ke dokter). Berikut beberapa jenis fobia spesifik yang perlu diketahui:

  • Aerophobia atau aviophobia, merupakan fobia terbang.

  • Acrophobia, fobia terhadap ketinggian. Pengidap biasanya menghindari wilayah tinggi seperti gunung, jembatan, dan gedung tinggi. Gejalanya berupa vertigo, pusing, berkeringat, dan penurunan kesadaran.

  • Anuptaphobia, fobia ini membuat pengidapnya takut terhadap dengan kesendirian (tidak bisa hidup sendiri) atau tak memiliki pasangan hidup.

  • Ablutophobia, fobia mandi. Fobia ini membuat seseorang takut ketika harus mencuci muka, membersihkan tubuh, atau mandi.

  • Astraphobia. Banyak orang takut petir atau kilat, tapi pada kasus fobia, pengidapnya akan mengalami serangan panik yang ditandai dengan berkeringat, nyeri dada, mual, mati rasa, jantung berdebar, dan sulit bernapas.

  • Latrophobia. Jenis fobia yang menimbulkan ketakutan irasional dan membuat seseorang menghindari untuk pergi ke dokter.

  • Ombrophobia. Ketakutan berlebih pada petir dan kehujanan. Pengidap fobia jenis ini biasanya menganggap hujan atau mendung gelap sebagai sesuatu berbahaya yang bisa mendatangkan bencana.

  • Pagophobia. Rasa takut akan es atau benda yang dingin dan beku.

  • Pogonophobia. Rasa takut berlebihan pada jenggot.

  • Nomophobia. Rasa takut berlebih saat berada jauh atau tidak menggunakan gadget.

  • Trypophobia. Fobia terhadap lubang yang saling berdekatan.

2. Fobia Kompleks

Fobia jenis ini biasanya berkembang di masa dewasa. Salah satu contoh fobia kompleks adalah fobia sosial. Orang yang mengidap fobia ini akan merasa cemas ketika berada di lingkungan sosial. Pengidap fobia sosial takut dipermalukan orang lain atau mempermalukan dirinya sendiri jika salah bicara. Tentu saja hal ini akan sangat mengganggu keseharian pengidapnya, sehingga berdampak negatif dalam dunia bisnis, pekerjaan, relasi, maupun terhambatnya pengembangan diri.

Fobia kompleks juga bisa membuat pengidapnya takut dengan tempat yang membuat merasa merasa terperangkap atau lingkungan yang ramai. Gejala semakin terlihat saat pengidap diserang rasa panik. Maka itu, pengidap lebih memilih menghindari situasi yang ditakutinya seperti bepergian dengan kendaraan umum atau berada di tempat publik (restoran, pasar, atau supermarket). Istilah fobia seperti ini disebut juga sebagai agorafobia.

 

Faktor Risiko Fobia

Ada beragam faktor risiko yang bisa menyebabkan fobia pada diri seseorang, misalnya:

  • Riwayat keluarga, banyak ahli yang menyakini kalau fobia disebabkan oleh faktor genetik.

  • Cedera psikologis atau peristiwa traumatis.

  • Karakteristik diri, seseorang kemungkinan mengidap fobia bila terlalu malu, pesimis dalam hidung, atau sensitif.

  • Usia, fobia lebih sering dialami mereka yang masih mudah, misalnya anak-anak atau remaja berusia 13 tahun.

  • Mendengar sesuatu atau informasi yang menakutkan, misalnya seperti kecelakaan pesawat.

Baca juga: Enggak Bisa Main Hape Akibat Listrik Padam, Sebabkan Nomophobia?

 

Penyebab Fobia

Fobia disebabkan oleh faktor genetik dan lingkungan. Seseorang lebih berisiko mengidap fobia jika ada anggota keluarga yang mengalami gangguan kecemasan. Peristiwa traumatis, seperti tenggelam, digigit hewan, terjebak dalam lift, dan lainnya juga bisa menyebabkan fobia.

 

Gejala Fobia

Fobia tak hanya ditandai dengan gejala psikis seperti rasa takut saja, sebab fobia juga bisa menyebabkan pengaruh pada kondisi fisik. Berikut beberapa gejala fisik yang bisa dialami pengidap fobia.

  • Disorientasi atau bingung.

  • Pusing dan sakit kepala.

  • Dada terasa sesak dan nyeri.

  • Sesak napas.

  • Detak jantung meningkat.

  • Tubuh gemetar dan berkeringat.

  • Telinga berdengung.

  • Sensasi ingin selalu buang air kecil.

  • Mulut terasa kering.

 

Diagnosis Fobia

Untuk mendiagnosis fobia, dokter akan melakukan wawancara medis seputar gejala yang dirasakan oleh pengidapnya. Gejala ini nantinya akan disesuaikan oleh dokter, mengarah atau tidaknya pada kondisi fobia. Di samping itu, untuk menegakkan diagnosisnya, dokter juga akan bertanya seputar riwayat penyakit yang pernah dialami pengidapnya (termasuk penyakit kejiwaan), kehidupan sosial pasien, hingga riwayat pengunaan obat-obatan.

Baca juga: Hati-Hati, Fobia Bisa Sebabkan Depresi

 

Komplikasi Fobia

Fobia yang tak ditangani dengan efektif bisa menyebabkan beberapa komplikasi pada pengidapnya. Mulai dari mengurung diri (isolasi sosial), perubahan suasana hati yang drastis atau gangguan kecemasan, penyalah gunaan alkohol atau obat, hingga bunuh diri.

 

Pengobatan Fobia

Untuk mengatasi fobia, biasanya dokter akan menggunakan obat-obatan dan psikoterapi. Psikoterapi bisa berupa terapi eksposur untuk mengubah sudut pandang terhadap subjek atau situasi menakutkan dan cognitive behavioral therapy (CBT) yang menggabungkan terapi eksposur dengan terapi lain. CBT lebih ditekankan pada cara mengendalikan pikiran dan perasaan. Selain itu, pengobatan fobia juga bisa melalui pemberian obat-obatan jenis beta-blocker dan antidepresan. Obat ini diharapkan mampu mengurangi gejala yang timbul.

 

Pencegahan Fobia

Sebenarnya belum ada cara yang ampuh untuk mencegah fobia. Namun, bila memiliki fobia spesifik contohnya, cobalah pertimbangkan untuk meminta bantuan ahli psikologis, apalagi jika pengidapnya sudah memiliki anak. Pasalnya, faktor genetika cenderung berperan dalam pengembangan fobia spesifik. Di samping itu, seorang anak yang berulang kali melihat reaksi fobia orangtuanya, bisa terpengaruh atau mengembangkan fobia spesifik pada dirinya.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Fobia tidak boleh dianggap sepele, karena bisa memengaruhi kehidupan dan aktivitas sehari-hari. Jika fobia yang dialami semakin parah (sering terjadi) dan menimbulkan serangan panik atau gejala fisik mengganggu (seperti keringat dingin, mual, pusing, jantung berdebar cepat, sesak napas, hingga kehilangan kesadaran), segera bicara pada dokter agar mendapatkan penanganan medis segera.

Referensi:
NHS Choices UK. Diakses pada 2019. Health A-Z. Phobias.  
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Diseases and Conditions. Specific Phobias.

Diperbarui pada 6 September 2019