• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Gangguan Menstruasi

Gangguan Menstruasi

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Gangguan Menstruasi

Wanita yang telah memasuki usia pubertas akan mengalami menstruasi. Kondisi ini perlu diperhatikan dengan baik untuk menjaga kesehatan wanita. Gangguan menstruasi terjadi ketika panjang siklus menstruasi terus berubah. 

Pada tiap wanita, siklus menstruasi rata-rata 28 hari, tetapi bisa berubah sedikit lebih pendek atau panjang.  Jika seseorang memiliki siklus menstruasi kurang dari 24 hari atau lebih dari 38 hari, kondisi ini dinyatakan sebagai gangguan menstruasi.

Selain perubahan pada siklus menstruasi, gangguan menstruasi juga bisa dialami berbeda-beda pada tiap wanita. Mulai dari jumlah menstruasi yang terlalu banyak atau sedikit, siklus menstruasi yang tidak beraturan, bahkan tidak mengalami menstruasi sama sekali.

Faktor Risiko Gangguan Menstruasi

Terdapat beragam hal yang meningkatkan risiko seseorang mengalami gangguan menstruasi. Berikut ini adalah beberapa faktor risiko gangguan menstruasi, antara lain:

  • Usia. Risiko lebih tinggi mengalami nyeri haid terjadi pada anak perempuan yang mengalami menstruasi pada saat berusia 11 tahun atau lebih muda. Selain itu, siklus menstruasi yang lebih panjang dan periode haid yang lebih lama juga mengintai. Sebelum siklus ovulasi teratur, gangguan amenorrhea juga dapat dialami oleh remaja. 
  • Berat Badan. Berat badan yang tidak normal, baik kelebihan atau kekurangan, sama-sama meningkatkan resiko amenorrhea atau dysmenorrhea.
  • Stres. Baik emosional maupun fisik, stres dapat menghalangi hormon LH (luteinizing Hormone) untuk lepas dari tubuh. Hal tersebut dapat menyebabkan amenorrhea sementara.
  • Siklus dan Aliran Menstruasi. Siklus menstruasi yang lebih panjang atau lebih berat umumnya, berkaitan dengan rasa nyeri dan kram.
  • Perimenopause. Biasanya, kondisi ini akan terjadi pada wanita yang memasuki usia 45 sampai 55 tahun.
  • Adanya Gangguan Kesehatan Tertentu. Memiliki riwayat penyakit, seperti PCOS, endometriosis, kanker pada bagian reproduksi, gangguan tiroid, hingga gangguan makan bisa menjadi pemicu gangguan menstruasi.

Itulah beberapa faktor pemicu gangguan menstruasi, sebaiknya jangan abaikan kondisi yang kamu alami.

Gejala Gangguan Menstruasi

Sebelum mengetahui gejala gangguan menstruasi, tidak ada salahnya mengetahui gejala premenstrual syndrome (PMS) yang kerap dialami oleh wanita. Premenstrual syndrome  biasanya akan ditandai dengan perubahan secara fisik maupun emosional. 

Ada beberapa gejala yang kerap dialami oleh wanita, seperti nyeri punggung, payudara yang lebih lembut dan membesar, sakit kepala, muncul jerawat di beberapa bagian tubuh, mudah lelah, mengalami peningkatan nafsu makan, perubahan suasana hati, gelisah, hingga kram perut.

Jika mengalami gejala tersebut, hal ini menandakan kondisi yang normal dan wajar dialami wanita sebelum menstruasi. Namun, kamu perlu waspada terhadap beberapa tanda yang menjadi gejala gangguan menstruasi, seperti:

  • Waspada terhadap perubahan siklus menstruasi. Rata-rata wanita memiliki siklus menstruasi selama 24 sampai 34 hari. Jika kamu mengalami siklus yang lebih pendek atau panjang dalam beberapa bulan secara rutin, sebaiknya segera lakukan pemeriksaan pada dokter.
  • Perhatikan jumlah darah menstruasi yang dihasilkan. Jika dalam waktu satu jam kamu mengganti pembalut lebih dari satu kali sebaiknya waspada gangguan menstruasi.
  • Muncul gumpalan darah saat menstruasi.
  • Perdarahan terjadi lebih dari satu minggu.
  • Kelelahan terus menerus selama menstruasi.
  • Sakit kepala yang tidak membaik.
  • Pusing.
  • Kulit menjadi lebih pucat.
  • Nafas yang menjadi lebih pendek. 

Penyebab Gangguan Menstruasi

Durasi normal untuk haid antara 7-14 hari dengan siklus normal 28-35 hari. Faktor penyebab gangguan haid dapat beragam, mulai dari psikis (stres), gangguan hormon, kehamilan, berat badan yang turun atau naik drastis, penyakit yang menyertai, seperti polycystic ovary syndrome (PCOS), dan lain-lain.

Umumnya, faktor hormonal juga bisa memengaruhi siklus haid, sehingga menjadi tidak teratur. Kemungkinan seorang wanita mengalami haid dalam waktu yang lebih cepat meningkat bila wanita tersebut memiliki hormon estrogen dan progesterone yang berlebihan. Sementara itu, jika faktor hormonal menjadi penyebab gangguan haid, dipastikan bahwa wanita tersebut mengalami gangguan kesuburan. Hal itu dapat diatasi dengan suntikan untuk mempercepat pematangan sel telur.

Gangguan menstruasi juga bisa terjadi karena penyebab kelainan non-organ, di antaranya koagulopati, yaitu adanya gangguan fungsi pembekuan darah yang menyebabkan darah sulit membeku. Hal yang paling sering terjadi adalah penyakit Von Willebrand. Selain itu, disfungsi ovulasi juga sering terjadi.

Disfungsi ovulasi adalah terjadinya gangguan kesuburan yang dapat menyebabkan gangguan hormon. Akibat gangguan hormon tersebut, perdarahan terjadi dalam jumlah yang bervariasi dan dapat terjadi setiap saat. Manifestasi kelainan ini dapat berupa perdarahan ringan (kemunculan flek), perdarahan banyak, maupun haid yang jarang terjadi.

Diagnosis Gangguan Menstruasi

Pengobatan gangguan menstruasi akan dilakukan berbeda dan disesuaikan dengan faktor pemicu atau penyebabnya. Untuk mengetahui penyebab gangguan menstruasi ada beberapa pemeriksaan yang bisa dilakukan, seperti:

  • Papsmear.
  • Pemeriksaan darah.
  • USG bagian pelvik, uterus, dan ovarium.
  • Biopsi.
  • Sonohysterogram.
  • Tes kehamilan.

Pengobatan Gangguan Menstruasi

Pengobatan dilakukan berbeda sesuai dengan penyebabnya. Pengobatan akan disesuaikan dengan keseluruhan kesehatan, penyebab gangguan menstruasi, hingga riwayat bagian reproduksi dan rencana ke depan seorang wanita dalam keluarga.

Jika dokter sudah mengetahui semua riwayat yang dibutuhkan, maka pengobatan bisa dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:

  • Menggunakan Obat-obatan. Obat-obatan akan diberikan sesuai dengan kondisi kesehatan pengidap. Biasanya, obat yang digunakan bisa meredakan atau menurunkan gejala gangguan menstruasi.
  • Tindakan Medis. Tindakan medis juga bisa dilakukan untuk mengatasi gangguan menstruasi. Kuret, endometrium abrasi, reseksi endometrium, dan histerektomi menjadi beberapa tindakan medis yang bisa dilakukan untuk mengatasi kondisi ini. 

Komplikasi Gangguan Menstruasi

Gangguan menstruasi yang tidak diatasi dengan baik dapat memicu berbagai komplikasi, seperti:

  • Anemia Defisiensi Besi

Gangguan menstruasi yang menetap dapat menyebabkan kehilangan zat besi kronis pada 30 persen kasus. Remaja sering kali mengalami hal tersebut. Hingga 20 persen dari pasien dalam kelompok usia ini yang mengalami menorrhagia juga mengalami masalah pada pembekuan darah.

  • Kanker Endometrium

Sekitar 1-2 persen wanita dengan menstruasi anovulasi yang tidak ditatalaksana dengan baik dapat mengalami kanker endometrium.

  • Infertilitas

Infertilitas sering berhubungan dengan kejadian anovulasi kronis, dan dengan atau tanpa adanya produksi androgen berlebih. Pasien dengan sindrom ovarium polikistik (SOPK), obesitas, hipertensi kronis, dan diabetes melitus tipe 2 seringkali memiliki resiko terjadinya infertilitas.

  • Osteoporosis

Ketika seseorang tidak berovulasi dengan baik, kondisi ini bisa memicu osteoporosis karena memiliki sedikit estrogen. Padahal, estrogen dalam tubuh berfungsi untuk menjaga kesehatan dan kepadatan pada tulang.

  • Hiperplasia Endometrium

Menstruasi yang tidak teratur dalam waktu yang lama dapat memicu hiperplasia endometrium jika tidak diatasi dengan baik. Kondisi ini terjadi ketika lapisan rahim menjadi sangat tebal dan meningkatkan risiko kanker endometrium. 

Pencegahan Gangguan Menstruasi

Perawatan sebelum maupun setelah menstruasi perlu dilakukan agar gejala gangguan menstruasi tidak semakin parah. Berikut ini adalah penanganan yang dapat membantu gangguan menstruasi, antara lain:

  • Berendam air hangat atau menempelkan kompres hangat pada bagian abdomen. Hal tersebut bertujuan untuk mengurangi nyeri dan kram akibat haid.
  • Berolahraga dapat mengurangi nyeri haid.
  • Mengonsumsi berbagai makanan sehat, seperti gandum utuh, buah, dan sayuran menjelang menstruasi. 
  • Hindari mengonsumsi makanan berlemak.
  • Batasi pengonsumsian garam, gula, kafein, dan alkohol.
  • Perbanyak air putih.

 Kapan Harus ke Dokter?

Segera lakukan pemeriksaan pada dokter kandungan jika kamu mengalami gejala gangguan menstruasi yang tidak membaik. Apalagi jika kamu mengalami perdarahan setelah melakukan hubungan intim, di luar siklus menstruasi, dan setelah memasuki masa menopause.

Pemeriksaan dokter juga perlu dilakukan ketika kram perut yang dirasakan sangat mengganggu, perdarahan yang berlebihan, demam, munculnya keputihan yang abnormal, penurunan berat badan secara drastis, hingga muncul cairan pada payudara.

Kamu bisa bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc agar keluhan kesehatan yang kamu alami dapat diketahui penyebabnya. Yuk, download aplikasi Halodoc melalui App Store atau Google Play sekarang juga!

 

Referensi:

Cleveland Clinic. Diakses pada 2019. Abnormal Menstruation (Periods) 

NHS UK. Diakses pada 2022. Irregular Periods.

Medical News Today. Diakses pada 2022. What to Know About Irregular Periods.

Healthline. Diakses pada 2022. What Causes Menstrual Irregularity?

Diperbarui pada 19 April 2022.