Hepatitis D

Pengertian Hepatitis D

Hepatitis D disebabkan oleh infeksi virus hepatitis D (Delta Virus). Virus ini mengakibatkan terjadinya radang pada hati. Setiap jenis hepatitis punya cara penyebaran dan gejala yang berbeda-beda, termasuk jenis hepatitis D ini. Khusus untuk hepatitis D, penyakit ini “butuh” virus Hepatitis B untuk menjangkiti sel hati.

Penularannya dapat ditempuh dengan dua cara, pertama dengan infeksi bersamaan secara simultan Hepatitis B dengan Hepatitis D (koinfeksi). Kedua dengan infeksi virus Hepatitis D pada individu yang telah terinfeksi Hepatitis B sebelumnya (superinfeksi).

Hepatitis D bisa menimbulkan penyakit akut maupun kronis. Hepatitis D akut terjadi secara tiba-tiba dengan gejala yang lebih hebat dibanding hepatitis D kronis. Apabila infeksi hepatitis D terjadi selama 6 bulan atau lebih, maka infeksi yang terjadi merupakan infeksi kronis.

Infeksi kronis gejala yang timbul berkembang dan bertambah parah secara perlahan. Virus umumnya menetap dalam tubuh selama beberapa bulan sebelum gejala pertama muncul. Semakin lama, infeksi terjadi, maka risiko terjadinya komplikasi akibat penyakit ini pun semakin tinggi. Hingga saat ini belum ada obat untuk penyakit hepatitis D.

Gejala Hepatitis D

Infeksi hepatitis D bersifat asimptomatik atau tidak menimbulkan gejala pada sekitar 90 persen pengidapnya. Selain itu, infeksi hepatitis D seringkali sulit dibedakan dari infeksi virus hepatitis lainnya secara klinis, terutama gejala infeksi virus hepatitis B karena keduanya mirip. Gejala hepatitis D yang umum ditemui yaitu:

  • Kulit dan mata menjadi kuning.
  • Kelelahan.
  • Mual dan muntah.
  • Nyeri sendi.
  • Nyeri perut.
  • Kehilangan nafsu makan.
  • Warna urine berubah menjadi gelap seperti teh.
  • Gatal-gatal.
  • Tampak bingung.
  • Memar dan perdarahan.

Penyebab Hepatitis D

Hepatitis D disebabkan oleh infeksi virus hepatitis D (HDV) yang dapat menyebar melalui cairan tubuh atau kontak langsung dengan pengidapnya. HDV dapat ditularkan melalui:

  • Urin.
  • Kehamilan (dari ibu ke janin).
  • Persalinan (dari ibu ke bayi).
  • Cairan sperma.
  • Cairan vagina.
  • Darah.

Jika sudah terinfeksi HDV, orang tersebut dapat menularkan HDV ke orang lain, bahkan sebelum gejalanya muncul. Beberapa hal yang menyebabkan seseorang menjadi lebih mudah terkena hepatitis D antara lain adalah:

  • Terkena infeksi hepatitis B.
  • Sering menerima transfusi darah.
  • Melakukan hubungan intim  sesama jenis, terutama pria.
  • Penyalahgunaan obat-obatan terlarang melalui jarum suntik, misalnya heroin.
  • Pasien cuci darah.
  • Pekerja fasilitas kesehatan.

Diagnosis Hepatitis D

Untuk memastikan diagnosis hepatitis D pada pengidap, dapat dilakukan dengan pemeriksaan darah sebagai berikut:

  • Pemeriksaan Antibodi.
  • Pemeriksaan Fungsi Hati.
  • USG, CT scan.

Ketiga metode pemindaian ini dapat digunakan untuk mendeteksi adanya kanker hati yang merupakan komplikasi dari hepatitis D.

Pengobatan Hepatitis D

Sampai saat ini belum ada pengobatan yang memuaskan untuk hepatitis D. Diagnosis dini sangat penting untuk mencegah kerusakan hati.

Pencegahan Hepatitis D

  • Hindari penggunaan obat-obatan
  • Lebih berhati-hati dalam tindik dan tato.
  • Gunakan kondom.
  • Menjalani vaksinasi hepatitis B.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika kamu atau anggota keluarga memiliki tanda dan gejala di atas, segeralah berbicara dengan dokter guna mendapat penanganan yang tepat.