• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Hepatitis D

Hepatitis D

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Hepatitis D

Pengertian Hepatitis D

Hepatitis D adalah salah satu jenis hepatitis yang disebabkan oleh infeksi virus hepatitis D (delta virus). Penyakit ini juga sering disebut hepatitis delta. Sama seperti jenis hepatitis lainnya, penyakit ini juga ditandai dengan peradangan pada organ hati.

Penyakit ini bisa dibilang lebih unik dibanding jenis hepatitis lain. Sebab, seseorang hanya dapat tertular jika sudah terinfeksi hepatitis B. Karena HDV menggunakan virus hepatitis B untuk bereplikasi.

Penularannya dapat terjadi dengan dua cara, yaitu bersamaan secara simultan Hepatitis B dengan Hepatitis D (koinfeksi). Bisa juga dengan infeksi virus pada individu yang telah terinfeksi Hepatitis B sebelumnya (superinfeksi).

Penyakit ini juga terbagi menjadi dua jenis, yaitu akut dan kronis. Hepatitis D akut terjadi tiba-tiba dengan gejala yang lebih parah. Sementara hepatitis D kronis adalah infeksi yang terjadi selama 6 bulan atau lebih, meski gejalanya tidak separah tipe akut.

Namun, gejala infeksi kronis biasanya berkembang dan bertambah parah secara perlahan. Virus penyebab penyakit umumnya menetap dalam tubuh selama beberapa bulan sebelum gejala pertama muncul. Semakin lama, infeksi terjadi, maka risiko terjadinya komplikasi akibat penyakit ini pun semakin tinggi. 

Penyebab Hepatitis D

Hepatitis D disebabkan oleh virus HDV yang menginfeksi hati. Virus ini dapat menyebar melalui cairan tubuh atau kontak langsung dengan mereka yang sudah mengidapnya. HDV dapat ditularkan melalui:

  • Urine.
  • Kehamilan (dari ibu ke janin).
  • Persalinan (dari ibu ke bayi).
  • Cairan sperma.
  • Cairan vagina.
  • Darah.

Jika sudah terinfeksi HDV, orang tersebut dapat menularkan HDV ke orang lain, bahkan sebelum gejalanya muncul. Namun, kamu hanya dapat tertular jika sudah terinfeksi hepatitis B. Karena HDV menggunakan virus hepatitis B untuk bereplikasi.

Faktor Risiko Hepatitis D

Beberapa hal yang dapat menyebabkan seseorang lebih berisiko terkena hepatitis D antara lain:

  • Terkena infeksi hepatitis B.
  • Sering menerima transfusi darah.
  • Melakukan hubungan intim sesama jenis, terutama pria.
  • Penyalahgunaan obat-obatan terlarang melalui jarum suntik.
  • Pasien cuci darah.
  • Pekerja fasilitas kesehatan.

Gejala Hepatitis D

Orang dengan kondisi akut mungkin memiliki gejala berikut ini:

  • Kelelahan.
  • Kehilangan selera makan.
  • Nyeri di perut kanan atas.
  • Urine gelap.
  • Mual.
  • Muntah.
  • Menguningnya kulit dan bagian putih mata (penyakit kuning).

Sementara itu, orang dengan hepatitis D kronis mungkin tidak mengalami gejala apa pun bahkan setelah bertahun-tahun terinfeksi virus. Namun, seiring waktu, mereka mungkin melihat gejala dari komplikasi infeksi, seperti kerusakan parah pada hati. Tanda dan gejala kerusakan hati meliputi:

  • Kelelahan.
  • Penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan.
  • Kelemahan.
  • Kulit yang gatal.
  • Perut bengkak.
  • Pergelangan kaki bengkak.
  • Menguningnya kulit dan bagian putih mata .

Diagnosis Hepatitis D

Untuk memastikan diagnosis kondisi ini, terdapat beberapa jenis pemeriksaan yang bisa dilakukan, antara lain: 

  • Tes Darah

Dokter mungkin akan melakukan satu atau lebih tes darah untuk mendiagnosis penyakit ini. Sampel darah diambil dan dikirim ke laboratorium, untuk diperiksa lebih lanjut.

  • Tes Tambahan

Jika seseorang mengidap hepatitis D dan hepatitis B kronis, risiko kerusakan hati akan meningkat. Dokter mungkin merekomendasikan tes untuk mengetahui apakah ada kerusakan hati atau seberapa parah kerusakan hati yang dialami.

Tes ini mungkin termasuk:

  • Tes darah.
  • Elastografi, USG khusus yang mengukur kekakuan hati.
  • Biopsi hati.

Dokter biasanya menggunakan biopsi hati hanya jika tes lain tidak memberikan informasi yang cukup tentang kerusakan atau penyakit hati. 

Pengobatan Hepatitis D

Dokter dapat mengobati hepatitis D kronis dengan obat-obatan yang disebut interferon, seperti peginterferon alfa-2a. Pengobatan lainnya untuk penyakit ini masih dipelajari. 

Selain itu, obat-obatan untuk hepatitis B mungkin diperlukan. Mengingat hepatitis D dan B bisa terjadi bersamaan. Obat-obatan yang diresepkan dokter biasanya adalah obat oral yang diminum sekali sehari.

Komplikasi Hepatitis D

Infeksi hepatitis tipe D akut dapat merusak hati, dan terkadang dapat menyebabkan gagal hati akut, meskipun hal ini jarang terjadi.

Komplikasi lebih umum terjadi pada hepatitis D kronis, seperti:

  • Sirosis, jaringan parut pada hati.
  • Gagal hati.
  • Kanker hati.

Gejala dari komplikasi tersebut dapat meliputi:

  • Mudah berdarah atau memar.
  • Kaki atau pergelangan kaki bengkak karena retensi air.
  • Menguningnya kulit atau mata.
  • Gatal-gatal.
  • Penurunan berat badan tanpa sebab.

Pencegahan Hepatitis D

Jika kamu tidak mengidap hepatitis B, kamu dapat mencegah infeksi virus ini dengan melakukan langkah-langkah pencegahan infeksi hepatitis B, seperti mendapatkan vaksin hepatitis B. Jika kamu tidak terkena hepatitis B, kamu tidak akan terkena hepatitis D.

Namun, jika kamu sudah terinfeksi hepatitis B, kamu dapat mengambil langkah-langkah untuk mencegah infeksi hepatitis D dengan:

  • Tidak berbagi jarum obat atau bahan obat lainnya.
  • Memakai sarung tangan jika harus menyentuh darah orang lain atau luka terbuka.
  • Tidak berbagi barang pribadi seperti sikat gigi, pisau cukur, atau gunting kuku.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika kamu atau anggota keluarga memiliki tanda dan gejala hepatitis D yang tadi dijelaskan, segeralah berbicara dengan dokter guna mendapat penanganan yang tepat.

Lebih mudahnya, kamu bisa download Halodoc untuk membuat janji dengan dokter di rumah sakit dan menjalani pemeriksaan.

Referensi:
World Health Organization. Diakses pada 2022. Hepatitis D.
Healthline. Diakses pada 2022. Hepatitis D.
Medscape. Diakses pada 2022. Hepatitis.
Medical News Today. Diakses pada 2022. Hepatitis: Everything You Need To Know.
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Disease. Diakses pada 2022. Hepatitis.

Diperbarui pada 9 Mei 2022