• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Kandung Kemih Overaktif

Kandung Kemih Overaktif

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
kandung-kemih-overaktif-halodoc

Pengertian Kandung Kemih Overaktif

Kandung kemih overaktif atau overactive bladder (OAB) adalah gangguan pada fungsi penyimpanan kandung kemih yang mengakibatkan dorongan secara tiba-tiba untuk buang air kecil. Dorongan ini bisa jadi sulit dihentikan dan bisa berujung pada keluarnya urine tanpa disadari atau inkontinensia urine

Berdasarkan data dari U.S. National Association of Continence, satu dari lima orang berusia di atas 40 tahun mengidap kandung kemih overaktif atau mengalami masalah yang berkaitan dengan kondisi ini. Selain itu, sebagian besar pengidap kandung kemih overaktif adalah wanita. 

Sementara itu, pada kelompok wanita, satu dari empat orang mengalami kondisi inkontinensia urine dalam hidupnya. Meski ada banyak faktor yang menjadi penyebab penyakit kandung kemih ini, pencegahan tetap bisa dilakukan.

Gejala Kandung Kemih Overaktif

Overactive bladder adalah masalah kesehatan yang menyerang kandung kemih. Saat ini terjadi, seseorang akan menunjukkan gejala seperti berikut:

  • Ingin buang air kecil secara tiba-tiba dan mengalami kesulitan mengendalikannya.
  • Keluar urine tanpa disadari meski sudah ditahan.
  • Lebih sering buang air kecil, biasanya antara 8 kali atau lebih dalam waktu 24 jam.
  • Mengalami nokturia atau terbangun sebanyak dua kali atau lebih untuk buang air kecil.
  • Frekuensi buang air kecil yang terlalu sering sehingga mengganggu aktivitas. 

Penyebab Kandung Kemih Overaktif

Ginjal bertugas untuk menyaring darah dan memproduksi urine. Selanjutnya, urine yang terbentuk akan dialirkan menuju ke kandung kemih untuk ditampung sementara. 

Supaya urine tidak keluar, terdapat otot berbentuk cincin atau sfingter yang bertugas untuk menahan urine. Ketika kandung kemih mulai penuh, otak akan mengirimkan sinyal menuju ke bagian saraf kandung kemih untuk segera buang air kecil. 

Lalu, otot kandung kemih berkontraksi atau melakukan gerakan seperti meremas, sfingter akan terbuka, dan urine akhirnya keluar. Inilah yang disebut dengan proses buang air kecil.

Saat overactive bladder terjadi, ada kesalahan pengiriman sinyal antara otak dan kandung kemih. Hal ini menyebabkan otot kandung kemih berkontraksi terlalu cepat meski sebenarnya kandung kemih belum penuh. Kontraksi tersebut akan memicu rasa ingin buang air kecil lebih sering dari biasanya.

Ada banyak kondisi yang bisa menyebabkan overactive bladder, berikut di antaranya:

  • Gangguan saraf, misalnya karena stroke atau multiple sclerosis.
  • Infeksi saluran kemih dengan gejala yang mirip dengan kandung kemih overaktif.
  • Perubahan hormon selama menopause pada wanita.
  • Kerusakan saraf yang terjadi akibat penyakit diabetes.
  • Adanya tumor atau batu pada kandung kemih.
  • Pembesaran prostat, mengalami sembelit, atau efek samping prosedur operasi.
  • Konsumsi minuman yang mengandung kafein atau minuman beralkohol secara berlebihan.
  • Mengonsumsi obat-obatan yang meningkatkan produksi urine.
  • Terjadi penurunan pada fungsi kandung kemih seiring dengan bertambahnya usia.

Faktor Risiko Kandung Kemih Overaktif

Seiring pertambahan usia, seseorang akan lebih rentan mengalami overactive bladder. Tak hanya itu, usia juga membuat seseorang lebih berisiko mengalami berbagai masalah kesehatan lain, seperti pembesaran prostat (penyakit BPH) dan diabetes yang bisa berujung pada gangguan fungsi kandung kemih. 

Sementara itu, risiko penyakit kandung kemih overaktif juga lebih besar pada kelompok orang dengan kondisi berikut:

  • Mengidap penyakit Alzheimer, stroke, dan penyakit sejenis yang dapat mengakibatkan terganggunya fungsi otak.
  • Cedera pada otak atau tulang belakang,
  • Mengalami sembelit, terlebih sembelit menahun atau kronis.
  • Mengalami perubahan hormon.
  • Mengalami infeksi saluran kemih berulang.
  • Mengalami lemah atau kejang otot panggul.
  • Efek samping penggunaan obat atau pengobatan  tertentu.

Diagnosis Overactive Bladder

Guna mendapatkan diagnosis yang akurat, dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan, yaitu:

  • Penilaian terhadap Riwayat Medis

Pengidap perlu menyebutkan apa saja gejala atau keluhan yang muncul, kapan gejala terjadi, seberapa parah keluhan dirasakan, dan bagaimana efeknya pada aktivitas harian. Selain itu, pengidap juga perlu memberitahu obat apa saja yang dikonsumsi dan bagaimana pola makan harian pada dokter. 

  • Pemeriksaan Fisik

Selanjutnya, dokter akan melanjutkan untuk melakukan pemeriksaan fisik. Tujuannya yaitu mencari tahu apa yang mungkin menjadi penyebab munculnya overactive bladder. Pemeriksaan ini termasuk pemeriksaan pada perut, organ yang ada pada panggul, dan rektum. 

  • Menulis Jurnal Buang Air Kecil

Jika memang dibutuhkan, dokter mungkin akan meminta pengidap untuk menuliskan jurnal buang air kecil untuk beberapa waktu mendatang. Biasanya, jurnal tersebut berisikan catatan tentang:

  • Berapa banyak cairan yang diminum dan apa jenisnya (air putih, teh, kopi, dan lainnya).
  • Kapan buang air kecil dan berapa banyak volumenya.
  • Sesering apa merasa ingin buang air kecil. 
  • Kapan mengalami inkontinensia urine dan seberapa banyak urine yang keluar.
  • Pemeriksaan Penunjang

Apabila memang diperlukan, dokter mungkin akan menyarankan pengidap untuk melakukan beberapa pemeriksaan penunjang, seperti:

  • Tes Urine. Sampel urine akan diambil dan diperiksa untuk melihat ada atau tidaknya darah maupun tanda infeksi.
  • Tes Kandung Kemih. Pemindaian umumnya dilakukan dengan menggunakan USG, CT scan, MRI, atau sinar-X.
  • Pemeriksaan Lainnya. Seperti pemeriksaan urodinamik dengan tujuan untuk mengukur kemampuan buang air kecil atau sistoskopi sekaligus melihat kondisi saluran kemih.

Pengobatan Kandung Kemih Overaktif

Pengobatan dilakukan dengan tujuan untuk membantu meringankan gejala overactive bladder. Tergantung pada bagaimana kondisinya, pengidap mungkin perlu melakukan beberapa jenis pengobatan sekaligus. Beberapa pilihan pengobatan yang tersedia antara lain:

Perubahan Gaya Hidup

Kerap kali, dokter akan menganjurkan untuk mengatasi overactive bladder dengan melakukan perubahan pola hidup. Perubahan ini disebut juga dengan terapi perilaku yang terdiri dari:

  • Tidak mengonsumsi makanan maupun minuman apa pun yang bisa mengganggu kerja atau fungsi dari kandung kemih, seperti makanan pedas, asam, alkohol, dan minuman berkafein.
  • Melanjutkan mengisi jurnal buang air kecil.
  • Sebisa mungkin buang air kecil sesuai jadwal.
  • Sebisa mungkin menahan buang air kecil apabila belum waktunya.
  • Melakukan double voiding, yaitu buang air kecil sebanyak dua kali dengan jeda beberapa menit guna memastikan kandung kemih sepenuhnya kosong.
  • Melakukan senam Keg dan latihan otot panggul untuk membantu melemaskan otot kandung kemih.

Mengonsumsi Obat-obatan

Apabila perubahan pola hidup tidak membantu mengatasi masalah kandung kemih overaktif, dokter akan meresepkan beberapa obat. Pilihan obat yang biasanya diberikan adalah bera-3 agonis, antimuskarinik, dan obat transdermal patch yang memiliki bentuk menyerupai koyo. 

Jenis obat beta-3 agonis dan antimuskarinik dapat membantu merilekskan otot kandung kemih sehingga kandung kemih bisa menampung dan mengeluarkan urine dalam jumlah yang lebih banyak. Kedua jenis obat ini bisa dikonsumsi masing-masing atau sebagai kombinasi sesuai dengan kebutuhan.

Sementara itu, penggunaan transdermal patch yaitu ditempelkan pada kulit supaya obat di dalamnya dapat segera memasuki tubuh. Nantinya, dokter akan mengecek obat apa yang paling tepat dengan efek samping yang paling ringan. Supaya hasilnya lebih optimal, dokter mungkin menyarankan pengidap untuk meminum obat sambil menjalani perubahan gaya hidup.

Suntik Botox

Pilihan pengobatan selanjutnya adalah suntik botox yang dilakukan dengan menggunakan racun yang berasal dari bakteri C. botulinum. Penggunaan botox dalam dosis kecil bisa membantu merilekskan otot kandung kemih sehingga membantu mengurangi keinginan untuk buang air kecil. Efek pengobatan ini bisa bertahan selama sekitar enam bulan, sehingga perlu dilakukan terapi ulang.  

Terapi Rangsangan Saraf

Pengobatan ini dikenal pula sebagai terapi neuromodulasi, merupakan metode yang banyak dipilih untuk mengatasi overactive bladder yang terjadi karena gangguan saraf. Terapi dilakukan dengan memanfaatkan aliran listrik bertegangan kecil guna membantu memperbaiki hantaran sinyal antara kandung kemih dan otak. Terdapat dua pilihan terapi rangsangan saraf, yaitu:

  • Neuromodulasi Saraf Sakral. Sebuah kabel tipis dipasang dekat saraf sakral guna mencegah sinyal saraf yang mengarah pada kandung kemih menjadi overaktif.
  • Stimulasi Saraf Tibial. Dokter akan memasukkan jarum ke saraf tibial yang ada pada kaki. Jarum ini kemudian akan mengirimkan sinyal dari sebuah alat khusus menuju saraf tibial yang dilanjutkan ke saraf sakral.

Operasi Kandung Kemih

Pilihan pengobatan ini hanya dilakukan pada kondisi overactive bladder yang benar-benar parah. Pilihan operasi terbagi menjadi dua, yaitu operasi untuk membantu melebarkan kandung kemih dan operasi untuk membantu melancarkan aliran urine. 

Selain mendapatkan penanganan medis, pengidap juga bisa mengurangi tingkat keparahan gejala kandung kemih overaktif dengan melakukan beberapa tindakan perawatan rumahan, seperti:

Menjaga Berat Badan Tetap Ideal

Berat badan berlebih akan menyebabkan kandung kemih mengalami tekanan berlebihan, sehingga sangat rentan berisiko terjadinya kandung kemih overaktif dan inkontinensia urine. Jadi, sebaiknya usahakan untuk tetap mempertahankan berat badan tetap ideal.

Menghindari Konsumsi Minuman Beralkohol dan Berkafein

Sebab, minuman beralkohol dan mengandung kafein akan membuat gejala overactive bladder menjadi semakin buruk. Jadi, sebisa mungkin batasi konsumsinya dan gantilah dengan minuman yang lebih menyehatkan, seperti air mineral atau jus buah. 

Tetap Buang Air Kecil Sesuai Jadwal

Jika pengidap baru memulai sesi pengobatan, mulailah untuk berlatih buang air kecil setiap satu hingga dua jam sekali selama kurun waktu dua minggu. Jika sudah terbiasa, tambahkan jaraknya selama sekitar 15 menit hingga beberapa minggu ke depan sampai pengidap dapat buang air kecil setiap tiga hingga empat jam sekali. 

Mengelola Masalah Kesehatan yang Dimiliki

Apabila pengidap memiliki masalah kesehatan yang dapat mengganggu kerja atau fungsi dari kandung kemih, cobalah untuk mengikuti anjuran dokter agar penyakit tersebut tidak berkembang semakin buruk. Saat pengidap mampu mengelola penyakit lain yang dimiliki, tentunya hal tersebut turut membantu untuk menjaga kandung kemih tetap sehat. 

Melakukan Senam Kegel

Senam Kegel yang dilakukan dengan tepat bisa membantu menguatkan otot panggul, sehingga pengidap bisa buang air kecil sesuai dengan jadwalnya. Supaya bisa melakukan Senam Kegel, coba awali dengan menahan otot panggul seperti sedang menahan kencing selama sekitar 5-10 detik dan ulangi setiap 2 sampai 3 kali sehari. 

Mengonsumsi Makanan Tinggi Serat

Salah satu pemicu masalah kandung kemih overaktif adalah sembelit yang tidak ditangani dengan baik. Kondisi ini mengakibatkan feses menekan organ kandung kemih. Supaya sembelit tidak terjadi, jangan lupa untuk meningkatkan asupan serat seperti sayur dan buah dalam menu makanan harian. 

Menghindari Semua Pantangan

Mengonsumsi makanan dan minuman tertentu serta kebiasaan tertentu seperti pola buang air kecil yang tidak terpantau bisa membuat masalah pada kandung kemih menjadi lebih buruk. Berikut beberapa hal yang perlu dihindari apabila seseorang memiliki overactive bladder

  • Mengonsumsi makanan dengan rasa asam dan pedas.
  • Konsumsi makanan dan minuman yang bisa merangsang produksi urine.
  • Mengonsumsi makanan dan minuman yang mengandung pemanis buatan.
  • Buang air kecil tidak teratur dan tidak mengikuti jadwal.
  • Buang air besar yang ditahan atau ditunda.

Pencegahan Overactive Bladder

Tidak ada langkah pencegahan spesifik untuk sindrom kandung kemih yang terlalu aktif. Namun, pengidap bisa membatasi konsumsi makanan dan minuman tertentu untuk mengurangi gejala sering berkemih.

Kapan Harus ke Dokter?

Overactive bladder merupakan masalah kesehatan yang dapat menandakan adanya masalah kesehatan lain. Inilah mengapa, sebaiknya segera lakukan pemeriksaan kesehatan apabila mengalami gejala berikut:

  • Demam.
  • Nyeri atau terasa panas ketika buang air kecil.
  • Mengalami hematuria atau urine mengeluarkan darah.
  • Tubuh lesu.

Gunakan aplikasi Halodoc untuk memudahkan tanya jawab dengan dokter atau pemeriksaan ke rumah sakit terdekat. Selain itu, aplikasi Halodoc juga bisa digunakan untuk membeli obat dan vitamin secara daring melalui Toko Kesehatan. Segera download aplikasi Halodoc di ponselmu, ya!

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2022. Overactive bladder – Symptoms and causes.
Urology Care Foundation. Diakses pada 2022. Overactive Bladder (OAB): Symptoms, Diagnosis & Treatment.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2022. Overactive Bladder: Causes, Symptoms, Treatment & Prevention.

Diperbarui pada 13 Mei 2022.