• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Kista Bartholin

Kista Bartholin

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Kista Bartholin

Kelenjar bartholin terletak di setiap sisi lubang vagina. Kelenjar ini mengeluarkan cairan yang membantu melumasi vagina. Terkadang, bukaan kelenjar ini menjadi terhambat sehingga menyebabkan cairan kembali ke kelenjar. Akibatnya, akan terjadi pembengkakan pada area vagina. Pembengkakan ini yang kemudian disebut dengan kista bartholin, dan umumnya kondisi ini biasanya tidak menimbulkan rasa sakit. 

Jika cairan di dalam kista bartholin terinfeksi, kemungkinan dapat muncul kumpulan nanah yang dikelilingi oleh jaringan yang meradang (abses). Kista atau abses bartholin juga tercatat sebagai kondisi yang cukup umum terjadi. Pengobatan kista bartholin pun akan tergantung pada ukuran kista, seberapa menyakitkan, dan apakan kista terinfeksi. 

Penyebab Kista Bartholin

Kelenjar bartholin menghasilkan cairan pelumas yang membantu mengurangi rasa sakit selama hubungan seksual. Cairan ini mengalir dari kelenjar bartholin ke saluran bagian bawah depan vagina ke dalam vagina. 

Jika terdapat penyumbatan lendir di saluran ini, pelumas kemudian akan menumpuk. Jika dibiarkan, penumpukan tersebut menyebabkan saluran melebar dan kista bartholin terbentuk. Reaksi sistem kekebalan terhadap agen infeksi bakteri ini juga bisa menyebabkan penyumbatan dan abses berikut. 

Contoh bakteri yang dapat menyebabkan penyumbatan atau abses ini antara lain: 

  • Neisseria gonorrhoeae, yang menyebabkan gonore, penyakit yang ditularkan melalui kontak seksual.
  • Chlamydia trachomatis, yang menyebabkan klamidia.
  • Escherichia coli, yang dapat mempengaruhi suplai air dan menyebabkan kolitis hemoragik.
  • Streptococcus pneumoniae, yang dapat menyebabkan pneumonia dan infeksi telinga tengah. 
  • Haemophilus influenzae, yang dapat menyebabkan infeksi telinga dan infeksi saluran pernapasan.

Sementara itu, para ahli belum menemukan bukti bahwa kista ini bisa ditularkan melalui hubungan seksual. 

Faktor Risiko Kista Bartholin

Penyebab pasti penyumbatan saluran seringkali tidak diketahui dengan pasti, meskipun bakteri memiliki peran. Namun, ada beberapa karakteristik yang akan meningkatkan kemungkinan seseorang mengembangkan kista bartholin, yaitu:

  • Aktif secara seksual.
  • Berusia antara 20 hingga 30 tahun.
  • Sebelumnya pernah memiliki kista bartholin.
  • Mengalami trauma fisik di daerah yang terkena.
  • Pernah menjalani operasi vagina atau vulva. 

Gejala  Kista Bartholin

Jika seseorang memiliki kista bartholin kecil yang tidak terinfeksi, kemungkinan kamu tidak akan menyadarinya. Namun jika kista tumbuh, kamu mungkin merasakan ada benjolan di dekat lubang vagina. Meskipun kista biasanya tidak menimbulkan rasa sakit, namun ia bisa menyebabkan rasa nyeri.

Infeksi kista bartholin dapat terjadi dalam hitungan hari. Jika kista terinfeksi, maka pengidapnya mungkin akan mengalami gejala seperti: 

  • Benjolan lunak dan nyeri di dekat lubang vagina.
  • Ketidaknyamanan saat berjalan atau duduk.
  • Sakit saat berhubungan.
  • Demam.

Kista atau abses bartholin biasanya terjadi hanya pada satu sisi lubang vagina. 

Diagnosis Kista Bartholin

Untuk mendiagnosis kista bartholin, maka dokter akan melakukan salah satu atau beberapa pemeriksaan seperti misalnya:

  • Wawancara tentang riwayat medis
  • Pemeriksaan fisik pelvis
  • Pemeriksaan sekret vagina untuk melihat adanya penyakit menular seksual. 

Pada mereka yang berusia lebih dari 40 tahun, mereka direkomendasikan untuk melakukan biopsi untuk memeriksa adanya sel-sel kanker.

Pengobatan Kista Bartholin

Pada umumnya, kista bartholin tidak memerlukan penanganan khusus, terutama jika tidak menimbulkan gejala. Jika kista bartholin cukup mengganggu maka terdapat beberapa pilihan pengobatan yang dapat dilakukan:

  1. Berendam dalam Air Hangat

Berendam dalam air hangat beberapa kali dalam sehari selama 3—4 hari dapat membantu kista yang kecil untuk pecah dan terdrainase dengan sendirinya.

  1. Drainase Surgical

Jika kista terinfeksi atau sangat besar maka dapat dilakukan drainase surgikal. Drainase ini dapat dilakukan dengan bius lokal atau sedasi. Pada prosedur ini, dokter membuat insisi kecil sehingga cairan bisa keluar. Dokter lalu menaruh kateter kecil pada insisi tersebut dan membiarkannya disana sampai kurang lebih 6 minggu agar drainase dapat dilakukan secara tuntas.

  1. Antibiotik

Pada kista yang terinfeksi, antibiotik diperlukan untuk membunuh bakteri, terutama jika kista terbukti terinfeksi oleh patogen yang merupakan penyebab penyakit menular seksual. Namun, jika abses sudah terdrainase secara tuntas maka dokter seringkali tidak perlu meresepkan antibiotik

  1. Marsupialisasi

Jika kista bartholin terjadi berulang dan sangat mengganggu maka dapat dilakukan marsupialisasi. Pada prosedur ini, dokter menaruh jahitan pada setiap sisi insisi untuk membuat jalan keluar permanen yang berukuran kurang dari 6 milimeter. Kateter kecil dapat ditaruh untuk membantu drainase sampai beberapa hari setelah prosedur. Prosedur ini dapat membantu menurunkan rekurensi kista bartholin.

  1. Pengangkatan Kelenjar Bartholin

Dalam kasus yang sangat jarang terjadi, seperti misalnya saat pengobatan tidak berhasil, dokter dapat mengangkat kelenjar bartholin melalui pembedahan.

Komplikasi Kista Bartholin

Terkadang, bakteri dapat masuk ke dalam cairan kista dan menyebabkan penumpukan nanah berupa abses bartholin. Abses ini bisa terasa sangat menyakitkan. Namun dokter mungkin meresepkan antibiotik spektrum luas untuk melawan tindakan agen infeksi yang menciptakan penumpukan nanah.

Abses dapat berkembang dengan cepat dan mereka yang mengalaminya mungkin akan memlihat beberapa gejala berikut di area sekitar abses:

  • Kemerahan.
  • Kelembutan.
  • Sensasi panas dari daerah tersebut.
  • Nyeri saat aktivitas seksual.
  • Demam.
  • Pecah dan bocor.

Pencegahan Kista Bartholin

Tidak ada metode khusus yang dapat mencegah terjadinya kista bartholin secara efektif, tetapi melakukan aktivitas seksual secara aman seperti menggunakan kondom dan menjaga  kebersihan yang baik dapat membantu terjadinya infeksi pada kista bartholin. Selain itu, cara ini juga bisa mencegah terbentuknya abses.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika cara penanganan dan pencegahan di atas tidak membuahkan hasil, segera berdiskusi dengan dokter. Penting juga untuk segera menghubungi dokter apabila merasakan gejala – gejala di atas. Penanganan yang tepat dapat meminimalisir akibat sehingga pengobatan bisa lebih cepat dilakukan. Jika mendapatkan resep dari dokter, kamu bisa cek kebutuhan medis di toko kesehatan melalui aplikasi Halodoc. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga!

Referensi:
Cleveland Clinic. Diakses pada 2022. Bartholin Cyst
Mayo Clinic. Diakses pada 2022. Bartholin’s cyst
Medical News Today. Diakses pada 2022. What is a Bartholin’s cyst?
Diperbarui pada 23 Mei 2022.