Leptospirosis

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Leptospirosis

Leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira interrogans yang disebarkan melalui urine atau darah hewan yang terinfeksi bakteri ini. Leptospirosis dapat menyerang manusia melalui paparan air atau tanah yang telah terkontaminasi urine hewan pembawa bakteri leptospira. Penyakit infeksi bakteri ini banyak terjadi di daerah yang terkena banjir.

 

Gejala Leptospirosis

Tidak semua orang yang terkena leptospirosis akan langsung menunjukkan gejala. Bisa saja gejala baru muncul setelah pengidap melewati masa inkubasi sekitar 10 hari, dengan ciri-ciri sebagai berikut:

  • Demam tinggi hingga menggigil.
  • Nyeri kepala.
  • Nyeri otot khususnya di daerah betis.
  • Sakit tenggorokan disertai batuk kering.
  • Mata merah dan kulit menguning.
  • Mual hingga muntah-muntah dan disertai diare.

 

Penyebab Leptospirosis

Leptospirosis disebabkan oleh bakteri Leptospira. Seseorang dapat terinfeksi bakteri jika mata, mulut, hidung, ataupun luka terbuka pada kulit bersinggungan dengan:

  • urine, darah, ataupun jaringan dari binatang yang membawa bakteri
  • air yang terkontaminasi oleh bakteri
  • tanah yang terkontaminasi oleh bakteri
  • seseorang juga dapat terkena leptospirosis jika tergigit binatang yang terinfeksi oleh penyakit tersebut.

Bakteri Leptospira dapat masuk ke tubuh melalui kulit yang rusak, kulit yang lunak karena air, selaput lendir (lapisan lembap dan tipis dari banyak bagian tubuh, seperti hidung, mulut, tenggorokan, dan alat kelamin) ataupun dengan menelan atau menghirup air yang terkontaminasi. Penularan dari orang ke orang tidaklah terjadi.

 

Faktor Risiko Leptospirosis

Ada banyak faktor yang meningkatkan risiko seseorang terkena leptospirosis, seperti:

  • orang yang bekerja di luar ruangan atau dengan binatang: petani, dokter hewan, tukang daging, pekerja selokan, pekerja rumah potong hewan, dan lain-lain.
  • orang yang berkemah
  • tentara
  • penambang
  • orang yang mandi di danau, sungai atau kanal air tawar

 

Diagnosis Leptospirosis

Proses penegakan diagnosis leptospirosis dapat dilakukan melalui gejala, riwayat penyakit pengidap, serta pemeriksaan fisik. Selain itu, beberapa tes penunjang juga dapat dilakukan untuk membantu memastikan diagnosis leptospirosis dan mengetahui tingkat keparahan yang dialami pengidap. Tes penunjang tersebut, antara lain:

  • Tes urine, untuk melihat keberadaan bakteri leptospira dalam urine.
  • Tes darah, untuk melihat adanya bakteri dalam aliran darah, dan antibodi dalam tubuh. Pemeriksaan antibodi dalam darah perlu diulang lagi dalam waktu 1 minggu untuk memastikan hasilnya, karena hasil positif bisa saja ditunjukkan dari infeksi lain yang terjadi sebelumnya.
  • Pemeriksaan fungsi ginjal, untuk melihat kondisi ginjal dan infeksi bakteri ini pada ginjal.
  • Pemeriksaan fungsi hati.
  • Foto Rontgen paru, untuk melihat apakah infeksi sudah menyebar hingga ke organ paru-paru.

 

Pencegahan Leptospirosis

Agar terhindar dari leptospirosis, bersihkanlah sekeliling rumah sebelum banjir melanda. Jangan sampai ada ruang untuk tikus tinggal dan beranak pinak. Karena, tikus merupakan salah satu hewan yang menjadi media penyebaran kuman selain kucing, anjing, sapi, domba, dan babi.

Sebisa mungkin jauhkan diri dari air banjir ketika banjir terjadi. Apalagi jika ada bagian tubuh yang sedang terluka, kuman dapat dengan mudah masuk ke dalam tubuh.

Selain itu, seseorang juga bisa melindungi diri dari leptospirosis dengan rajin mencuci tangan setiap setelah memegang hewan peliharaan. Hindari juga kontak langsung dengan urine hewan.

 

Pengobatan Leptospirosis

Leptospirosis dapat diobati dengan antibiotik untuk memusnahkan kuman, yakni antibiotik dari golongan penicillin, streptomycin, chloramphenicol, dan erythromycin.

Cara penanganan lain dari leptospirosis adalah dengan memberikan obat sesuai dengan gejala. Pemberian obat juga harus diberikan secepat mungkin. Jika diobati selagi masih dini, tingkat kesembuhan pengidap umumnya akan lebih cepat.

Bila telah terjadi komplikasi, maka pengidap perlu dirawat di rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan yang lebih lengkap.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Jika keluarga atau kerabat mengalami satupun tanda atau gejala yang disebutkan di atas, sebaiknya diskusikanlah dengan dokter. Selalu lebih baik untuk mendiskusikan apa yang terbaik untuk keadaan dengan dokter. Untuk melakukan pemeriksaan, bisa langsung membuat janji dengan dokter di rumah sakit pilihan kamu di sini.