• Beranda
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Leptospirosis
  • Beranda
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Leptospirosis

Leptospirosis

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
LeptospirosisLeptospirosis

Leptospirosis merupakan penyakit langka yang disebabkan oleh infeksi bakteri Leptospira interrogans. Bakteri tersebut dapat menyebar melalui urine atau darah hewan yang terinfeksi bakteri ini. Perlu diketahui bahwa leptospirosis adalah penyakit zoonosis. Artinya, penyakit ini  dapat menginfeksi manusia sekaligus sesama hewan, seperti anjing ke sesama anjing.

Leptospirosis dapat menyerang manusia melalui paparan air atau tanah yang telah terkontaminasi urine hewan pembawa bakteri Leptospira. Penyakit infeksi bakteri ini banyak terjadi di daerah beriklim tropis yang memiliki curah hujan tinggi. 

Penyebab Leptospirosis

Leptospirosis disebabkan oleh bakteri Leptospira. Seseorang dapat terinfeksi bakteri jika mata, mulut, hidung, ataupun luka terbuka pada kulit bersinggungan dengan:

  • Urine, darah, ataupun jaringan dari binatang yang membawa bakteri.
  • Air yang terkontaminasi oleh bakteri.
  • Tanah yang terkontaminasi oleh bakteri.
  • Seseorang juga dapat terkena leptospirosis jika tergigit binatang yang terinfeksi oleh penyakit tersebut.

Bakteri Leptospira dapat masuk ke tubuh melalui kulit yang rusak, kulit yang lunak karena air, selaput lendir (lapisan lembap dan tipis dari banyak bagian tubuh, seperti hidung, mulut, tenggorokan, dan alat kelamin) ataupun dengan menelan atau menghirup air yang terkontaminasi. Sementara itu, penularan dari orang ke orang tidak pernahterjadi.

Faktor Risiko Leptospirosis

Ada banyak faktor yang meningkatkan risiko seseorang terkena leptospirosis, seperti:

  • Orang yang bekerja di luar ruangan atau dengan binatang, seperti petani, dokter hewan, tukang daging, pekerja selokan, pekerja rumah potong hewan, dan lain-lain.
  • Orang yang berkemah.
  • Tentara.
  • Pekerja tambang
  • Orang yang mandi di danau, sungai, atau kanal air tawar.

Gejala Leptospirosis

Tidak semua orang yang terkena leptospirosis akan langsung menunjukkan gejala. Bisa saja gejala baru muncul setelah pengidap melewati masa inkubasi sekitar 10 hari, dengan ciri-ciri sebagai berikut:

  • Demam tinggi hingga menggigil.
  • Nyeri kepala.
  • Nyeri otot khususnya di daerah betis.
  • Sakit tenggorokan disertai batuk kering.
  • Mata merah dan kulit menguning.
  • Mual hingga muntah-muntah dan disertai diare.

Diagnosis Leptospirosis

Proses penegakan diagnosis leptospirosis dapat dilakukan melalui gejala, riwayat penyakit pengidap, serta pemeriksaan fisik. Selain itu, beberapa tes penunjang juga dapat dilakukan untuk membantu memastikan diagnosis penyakit tersebut dan mengetahui tingkat keparahan yang dialami pengidap.

Tes penunjang tersebut, antara lain:

  • Tes urine, untuk melihat keberadaan bakteri leptospira dalam urine.
  • Tes darah, untuk melihat adanya bakteri dalam aliran darah, dan antibodi dalam tubuh. Pemeriksaan antibodi dalam darah perlu diulang lagi dalam waktu satu minggu untuk memastikan hasilnya, karena hasil positif bisa saja ditunjukkan dari infeksi lain yang terjadi sebelumnya.
  • Pemeriksaan fungsi ginjal, untuk melihat kondisi ginjal dan infeksi bakteri ini pada ginjal.
  • Pemeriksaan fungsi hati.
  • Foto Rontgen paru, untuk melihat apakah infeksi sudah menyebar hingga ke organ paru-paru.

Pengobatan Leptospirosis

Pengobatan untuk leptospirosis akan tergantung pada tingkat keparahannya. Pilihannya dapat meliputi:

1. Manajemen Cairan dan Demam 

Kasus leptospirosis ringan dapat diobati dengan pengobatan sederhana. Misalnya seperti minum banyak cairan, beristirahat, hingga minum obat pereda nyeri yang dijual bebas. 

2. Penggunaan Antibiotik

Antibiotik merupakan obat yang dirancang untuk menghancurkan bakteri berbahaya bagi tubuh. Pada kasus sedang hingga parah, dokter biasanya akan menganjurkan penggunaan antibiotik tertentu untuk mengobati leptospirosis. Misalnya seperti doksisiklin, azitromisin, amoksisilin, atau bahka penisilin untuk kasus yang parah. 

3. Terapi Medis Lainnya

Jika seseorang mengidap leptospirosis yang sudah parah, maka dirinya perlu dirawat di rumah sakit. Sebab, leptospirosis yang parah dapat mempengaruhi banyak fungsi organ tubuh. 

Tergantung pada kondisi klinis dan tingkat keparahan penyakit tersebut, pengidapnya mungkin memerlukan intervensi medis tambahan, seperti:

  • Dialisis. 
  • Ventilasi mekanis.
  • Vasopressor, yaitu golongan obat untuk membantu mendukung tekanan darah.

Komplikasi Leptospirosis

Pengobatan memang dapat membantu mengurangi keparahan leptospirosis. Namun, tanpa pengobatan yang tepat, penyakit ini juga dapat menyebabkan komplikasi, seperti:

  • Meningitis. 
  • Gagal hati.
  • Kerusakan ginjal (yang dapat menyebabkan gagal ginjal).
  • Masalah pernapasan. 
  • Kolaps hemodinamik (syok). 
  • Kematian janin (pada ibu hamil yang terinfeksi leptospirosis). 
  • Dalam beberapa kasus, leptospirosis yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan kematian.

Pencegahan Leptospirosis

Cara terbaik untuk mencegah leptospirosis adalah dengan menghindari paparan bakteri. Meski begitu, penyakit tersebut dapat menular baik pada manusia maupun pada sesama hewan. Maka dari itu, pencegahan leptospirosis akan terbagi menjadi dua, yaitu pada manusia, dan pada hewan peliharaan. Berikut adalah penjelasannya: 

1. Pencegahan pada Manusia

Terdapat beberapa tips yang dapat dilakukan untuk mencegah tertular leptospirosis, antara lain: 

  • Menghindari berenang di air tawar, seperti sungai atau aliran air, yang mungkin mengandung urin hewan.
  • Hindari berenang di badan air setelah hujan deras atau banjir.
  • Tidak menyentuh atau berenang di air banjir.
  • Rawat air yang tidak aman dengan merebusnya terlebih dahulu.
  • Jauhkan atau usir hama tikus yang rentan memanifestasi rumah. 
  • Kenakan pakaian atau sepatu pelindung saat menyentuh air atau tanah yang terkontaminasi.
  • Jika kamu bekerja sebagai perawat hewan, kenakan pakaian atau sepatu pelindung.

Sementara itu, jika hewan peliharaan kamu mengidap leptospirosis, inilah yang dapat kamu lakukan untuk melindungi diri sendiri:

  • Berikan hewan peliharaan antibiotik yang diresepkan oleh dokter hewan, sesuai dengan instruksi yang diberikan. 
  • Hindari menyentuh urine hewan peliharaan.
  • Jika hewan peliharaan buang air kecil di dalam rumah, segera bersihkan.
  • Pastikan untuk mencuci tangan kamu setelah menyentuh hewan peliharaan.

2. Pencegahan pada Hewan Peliharaan

Inilah tindak pencegahan yang dapat dilakukan untuk melindungi hewan peliharaan kamu:

  • Jauhkan hewan peliharaan dari hewan pengerat, hewan liar, dan bangkai hewan.
  • Jauhkan hewan peliharaan dari air yang terkontaminasi, terutama setelah hujan deras atau banjir.
  • Pastikan hewan peliharaan hanya meminum air bersih.
  • Jika memungkinkan, kamu juga perlu menjauhkan hewan peliharaan dari urine hewan lain.
  • Tanyakan kepada dokter hewan apakah hewan yang kamu pelihara membutuhkan vaksin leptospirosis. 

Kapan Harus ke Dokter?

Jika kamu atau orang terdekatmu ada yang mengalami salah satu atau beberapa gejala leptospirosis, segeralah periksakan diri ke dokter. Tujuannya agar penanganan dapat segera dilakukan, sehingga meminimalkan risiko komplikasi. 

Nah, melalui aplikasi Halodoc, kamu bisa membuat janji rumah sakit dengan dokter pilihanmu. Tentunya tanpa perlu mengantre atau menunggu berlama-lama. Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, download Halodoc sekarang juga! 

Referensi: 

WebMD. Diakses pada 2022. What Is Leptospirosis?
Healthline. Diakses pada 2022. Overview of Leptospirosis in Humans.
Medical News Today. Diakses pada 2022. Leptospirosis: What you need to know. 

Diperbarui pada 25 Mei 2022.