Cerebral Palsy

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Cerebral Palsy

Cerebral palsy adalah kelainan gerakan, tonus otot, ataupun postur yang disebabkan oleh kerusakan yang terjadi pada otak yang belum matang dan berkembang, paling sering sebelum kelahiran.

 

Gejala Cerebral Palsy

Pada anak yang terkena cerebral palsy, dapat timbul sejumlah gejala berikut ini:

  • Kecenderungan menggunakan satu sisi tubuh. Misalnya, menyeret salah satu tungkai saat merangkak atau menggapai sesuatu hanya dengan satu tangan.
  • Terlambatnya perkembangan kemampuan gerak (motorik), seperti merangkak atau duduk.
  • Kesulitan melakukan gerakan yang tepat, misalnya saat mengambil suatu benda.
  • Gangguan penglihatan dan pendengaran.
  • Gaya berjalan yang tidak normal, seperti berjinjit, menyilang, misalnya gunting, atau dengan tungkai terbuka lebar.
  • Otot kaku atau malah sangat lunglai.
  • Tremor.
  • Gerakan menggeliat yang tidak terkontrol (athetosis).
  • Kurang merespons terhadap sentuhan atau rasa nyeri.
  • Masih mengompol walaupun usianya sudah lebih besar, akibat tidak bisa menahan kencing (inkontinensia urine).
  • Gangguan kecerdasan.
  • Gangguan berbicara (disartria).
  • Kesulitan dalam menelan (disfagia).
  • Terus-menerus mengeluarkan air liur atau ngiler.
  • Kejang.

 

Penyebab Cerebral Palsy

Telah dijelaskan di atas bahwa cerebral palsy adalah salah satu penyebab paling umum dari kecacatan yang terjadi pada anak-anak. Biasanya, adanya kelainan ini pada anak dapat terdeteksi saat anak mulai berusia 3 tahun. Penyebab cerebral palsy adalah cedera otak atau masalah yang terjadi selama kehamilan, kelahiran atau dalam usia 2–3 tahun kehidupan seorang anak.

Berikut penyebab cerebral palsy lainnya:

  • Masalah kelahiran prematur
  • Tidak cukup darah, oksigen, atau nutrisi lain sebelum atau selama kelahiran
  • Cedera kepala yang serius
  • Infeksi serius yang dapat memengaruhi otak, seperti meningitis
  • Beberapa masalah menurun dari orangtua ke anak (kondisi genetik) yang memengaruhi perkembangan otak.

 

Faktor Risiko Cerebral Palsy

Ada banyak faktor risiko yang meningkatkan risiko cerebral palsy, seperti:

  • Ibu mengalami cedera atau infeksi selama kehamilan.
  • Anak tidak mendapatkan cukup oksigen di dalam kandungan.
  • Cedera atau infeksi pada masa awal kanak-kanak.

 

Diagnosis Cerebral Palsy

Dokter akan menduga seorang anak mengalami cerebral palsy, apabila terdapat sejumlah gejala yang telah dijelaskan sebelumnya. Namun untuk memastikannya, dokter akan menyarankan pemeriksaan lanjutan, seperti:

  • Elektroensefalografi (EEG). EEG bertujuan untuk melihat aktivitas listrik otak, dengan menggunakan bantuan alat khusus yang disambungkan ke kulit kepala.
  • Uji pencitraan. Uji pencitraan dilakukan untuk melihat area otak yang rusak atau berkembang tidak normal. Sejumlah uji pencitraan yang dapat dilakukan adalah MRI, CT scan, dan USG.

Dokter saraf juga dapat menjalankan pemeriksaan fungsi luhur untuk menemukan adanya gangguan kecerdasan, serta gangguan dalam bicara, mendengar, melihat, dan bergerak.

 

Pencegahan Cerebral Palsy

Berikut beberapa langkah yang dapat membantu pencegahan cerebral palsy atau terjadinya kelainan perkembangan otak ini pada anak-anak untuk meminimalkan risiko mendapatkan cedera otak, yaitu :

  • Mengambil langkah-langkah untuk mencegah kecelakaan.
  • Pastikan orang tua sudah familiar dengan tanda-tanda penyakit kuning pada bayi baru lahir.
  • Tahu bagaimana mencegah keracunan timah.
  • Jauhkan anak dari orang-orang yang memiliki penyakit menular yang serius, seperti meningitis.
  • Pastikan imunisasi anak lengkap dan tepat waktu.

 

Pengobatan Cerebral Palsy

Cerebral palsy adalah kondisi yang tidak dapat disembuhkan, tapi gejala dan cacat dapat dibantu dengan terapi fisik, terapi okupasi, konseling psikologi, dan operasi.

Terapi fisik membantu anak mengembangkan otot yang lebih kuat dan bekerja dengan keahlian, seperti berjalan, duduk, dan keseimbangan. Alat tertentu, misalnya penyangga logam untuk kaki, atau pembebat, mungkin juga bermanfaat bagi anak.

Dengan terapi okupasi, anak mengembangkan kemampuan motorik yang baik, misalnya untuk memakai baju, makan, dan menulis.

Terapi bicara dan bahasa membantu anak dengan kemampuan berbicara. Anak dan keluarga dibantu dengan pendukung, pendidikan khusus, dan servis yang terkait.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Diagnosis awal dapat membantu mencegah banyak gejala dan mengontrol penyakit dengan lebih baik. Jika melihat adanya tanda dan gejala di atas atau masalah koordinasi dan fungsi otot pada anak dan keluarga, diskusikanlah dengan dokter. Untuk melakukan pemeriksaan, bisa langsung membuat janji dengan dokter di rumah sakit pilihan kamu di sini.