Vaginitis

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Vaginitis

Vaginitis adalah infeksi atau inflamasi yang terjadi pada vagina. Vaginitis memang dapat ditangani sendiri tanpa ke dokter, misalnya jika sudah mengenal gejala-gejalanya karena pernah mengalami vaginitis dan sembuh sepenuhnya. Namun, periksakanlah diri ke dokter ketika merasakan gejala-gejala yang tidak biasa atau perubahan pada vagina, khususnya jika mengalami hal berikut ini:

  • Belum pernah mengalami infeksi vagina.

  • Merasakan gejala-gejala yang berbeda dengan infeksi vagina yang pernah dialami sebelumnya.

  • Berhubungan seks dengan lebih dari satu orang.

  • Tetap mengalami infeksi vagina, meski sudah menggunakan obat antijamur yang dijual bebas.

Baca juga: Perubahan Hormon pada Wanita yang Menjadi Pemicu Vaginitis

 

Faktor Risiko Vaginitis

Nyatanya terdapat banyak faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang mengidap vaginitis, antara lain: 

  • Bergonta-ganti pasangan seksual.

  • Mengidap diabetes yang tidak mendapat pengobatan.

  • Melakukan vaginal douching atau membersihkan bagian dalam vagina.

  • Sering mengenakan celana yang lembap dan ketat.

  • Menggunakan KB Spiral atau spermisida.

  • Sering menggunakan produk pembersih kewanitaan.

  • Efek samping obat-obatan, seperti antibiotik

  • Perubahan hormon akibat kehamilan atau konsumsi pil KB.

 

Penyebab Vaginitis

Jenis vaginitis yang dialami seseorang umumnya ditentukan berdasarkan penyebabnya yang sebagian besar antara lain: 

  • Infeksi jamur atau bakteri. Pada kondisi normal, vagina memang memiliki sebagian kecil sel-sel jamur atau bakteri tanpa menyebabkan gangguan apapun. Namun, infeksi akan terjadi jika jamur atau bakteri tersebut berkembang biak tanpa terkendali.

  • Penyakit seksual yang dapat menular seperti trikomoniasis, chlamydia (klamidia), dan herpes genital.

  • Iritasi akibat bahan-bahan kimia, misalnya karena kandungan sabun, pewangi pakaian, atau kondom yang menyebabkan reaksi alergi.

  • Membasuh bagian dalam vagina.

  • Atrofi Vagina yaitu penipisan dinding vagina karena penurunan kadar estrogen setelah menopause.

Selain penyebabnya yang dapat beraneka ragam, terdapat banyak faktor lain yang bisa meningkatkan risiko mengidap vaginitis, di antaranya:

  • Perubahan hormon, misalnya karena menopause, hamil, atau menggunakan metode kontrasepsi hormonal.

  • Aktif berhubungan seks, terutama jika memiliki lebih dari satu pasangan.

  • Mengidap penyakit menular seksual.

  • Efek samping obat-obatan, contohnya antibiotik dan kortikosteroid.

  • Penyakit diabetes yang tidak diobati dengan baik.

  • Menggunakan produk pembersih daerah intim, misalnya sabun sirih.

  • Mengenakan pakaian lembap atau ketat.

Baca juga: Gejalanya Mirip, Ini Bedanya Vaginitis dan Servisitis

 

Gejala Vaginitis

  • Kondisi ini umumnya disertai dengan indikasi yang meliputi:

  • Munculnya keputihan atau perubahan warna.

  • Jumlah keputihan yang dialami.

  • Bau yang ditimbulkan.

  • Iritasi atau gatal-gatal pada vagina.

  • Rasa sakit saat berhubungan seks atau buang air kecil.

  • Flek atau pendarahan ringan.

 

Diagnosis Vaginitis

Untuk memastikan vaginitis, dokter akan terlebih dulu menanyakan gejala yang dialami pengidap dan apakah pengidap pernah mengidap keluhan yang sama sebelumnya. Kemudian, dokter akan melakukan beberapa rangkaian pemeriksaan, misalnya: 

  • Pemeriksaan pH vagina untuk mengetahui kadar asam dan basa vagina.

  • Pemeriksaan bagian dalam vagina, untuk melihat gejala peradangan.

  • Pemeriksaan sampel cairan vagina di laboratorium, untuk mengetahui penyebab vaginitis.

  • Pemeriksaan sampel jaringan.

 

Komplikasi Vaginitis

Vaginitis memang tidak berakibat fatal. Meski begitu, vaginitis yang dibiarkan dapat menyebabkan komplikasi-komplikasi tertentu, misalnya lebih rentan terinfeksi penyakit menular seksual seperti klamidia dan HIV. Bagi pengidap yang sedang hamil, vaginitis akibat trikomoniasis dan vaginosis bakteri diduga dapat memicu kelahiran prematur dan bayi yang lahir berisiko memiliki berat badan yang tidak memadai.

 

Pengobatan Vaginitis

Langkah pengobatan yang diberikan oleh dokter akan disesuaikan ddengan penyebab vaginitis yang dialami seseorang. Pengobatannya pun meliputi obat antijamur dan/atau antibiotik. Jika vaginitis yang dialami pengidap adalah akibat penurunan hormon estrogen, maka dokter akan merekomendasikan terapi penggantian hormon yang akan menggantikan hormon estrogen alami tubuh.

Sementara dalam menangani vaginitis akibat reaksi alergi terhadap bahan-bahan kimia, pengidapnya disarankan untuk menghindari substansi pemicu alerginya. Dokter juga bisa sewaktu-waktu memberikan obat oles estrogen untuk meredakan gejala-gejala vaginitis.

 

Pencegahan Vaginitis

Selain obat-obatan, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk meringankan gejala, sekaligus mempercepat proses penyembuhan. Langkah-langkah sederhana tersebut meliputi:

  • Menjaga agar area intim dan sekitarnya tetap bersih serta kering. Pastikan menggunakan sabun tanpa bahan pewangi dan menyekanya hingga benar-benar kering menggunakan tissue bersih. Hindari berendam air hangat selama infeksi belum pulih sepenuhnya.

  • Jangan membasuh bagian dalam vagina.

  • Gunakan kompres air dingin untuk mengurangi ketidaknyamanan pada vagina.

  • Kenakan pakaian dalam yang tidak ketat dan berbahan katun.

Baca juga: Gaya Hidup Sehat untuk Mencegah Vaginitis

 

Kapan Harus ke Dokter?

Segera hubungi dokter apabila mengalami gejala-gejala yang telah dipaparkan tadi. Penanganan yang tepat dan cepat dapat meminimalisir komplikasi yang tidak diinginkan. 

Referensi:
Cleveland Clinic. DIakses pada 2019. Vaginitis.
Mayo Clinic. DIakses pada 2019. Vaginitis.
Healthline. DIakses pada 2019. Vulvovaginitis.

Diperbarui pada 24 September 2019