Memahami Lebih Jauh Trauma dan Depresi Berat Lewat Film 27 Steps of May

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Halodoc, Jakarta - Bioskop tanah air sebentar lagi diramaikan oleh salah satu film yang mengangkat isu tentang kekerasan seksual, berjudul 27 Steps of May. Film ini mengangkat isu kekerasan seksual yang membawa trauma dan depresi berat kepada korbannya.

Sang penulis naskah, Rayya Makarim mengakui bahwa film ini terinspirasi dari kejadian seputar reformasi tahun 1998, ketika banyak perempuan dari etnis Tionghoa menjadi sasaran pemerkosaan pada masa itu. Rayya mengajak kepada semua pihak menyadari bahwa proses penyembuhan seseorang dari trauma akibat kekerasan seksual tidak semudah membalik telapak tangan. Trauma bisa muncul meski hanya mendengar pintu yang diketuk seperti apa yang diceritakan kelak dalam film.

Dalam film ini diceritakan bahwa May (yang diperankan oleh Raihaanun) dilecehkan dan diperkosa oleh sekelompok pria saat ia melewati area yang sepi. Meski sudah melawan sekuat tenaga, May akhirnya kalah dan diperkosa secara bergantian oleh pelakunya. Kala itu May masih berusia 14 tahun. Dengan seragam sekolah yang sudah terkoyak dan raut wajah penuh kepedihan, May pulang dan tidak berbicara hingga delapan tahun setelahnya.

Baca Juga: Peduli Kesehatan Mental, Ini Bedanya PTSD dan Stres Akut

Dalam Dunia Medis, Adakah Sebutan yang Tepat untuk Menggambarkan Kondisi May?

Dalam film tersebut, May diceritakan tidak mau bicara sama sekali. May bahkan tak mau keluar dari kamar, apalagi rumah, meski rumah tetangganya sedang kebakaran. Jika bapaknya (Lukman Sardi) memaksa, maka ia histeris dan buru-buru mengunci dirinya di toilet.

Dalam dunia medis, hal ini bukan kasus yang baru. Hal yang dialami oleh May dapat digolongkan sebagai Post Traumatic Stress Disorder atau PTSD. Kejadian traumatis, dalam hal ini adalah tindakan pemerkosaan yang dilakukan oleh orang tidak dikenal yang menyebabkan terjadinya PTSD.

Baca Juga: Dua Tahun Berlalu, Ariana Grande Alami PTSD Pasca Bom Bunuh Diri

PTSD dapat menyebabkan masalah dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam hubungan sosial. Kondisi ini bisa memengaruhi kesehatan fisik pengidap. Kebanyakan orang membaik seiring dengan waktu, tetapi bagi sebagian orang trauma ini tidak mudah. Bahkan, bisa bertahan selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun serta menjadi lebih buruk. Oleh karenanya, diperlukan tindakan tepat sejak awal untuk mengobati kondisi psikis pengidapnya supaya mereka dapat kembali ke kehidupan normal.

Di luar sana masih banyak korban kekerasan seksual lain seperti May. Entah itu ringan atau berat efek trauma yang dialami, mereka wajib mendapat penanganan. Kejadian traumatis apa pun itu bentuknya, biasanya lebih sering memengaruhi wanita ketimbang pria. Hal ini karena wanita lebih sensitif terhadap perubahan daripada pria. Hasilnya, kaum hawa akan mengalami emosi yang lebih intens. Kondisi PTSD bisa terjadi pada siapapun, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.

Langkah Pengobatan untuk Atasi Trauma dan Depresi Berat

Langkah pengobatan untuk atasi trauma dan depresi berat ini adalah hal yang wajib dilakukan. Meskipun pada kenyataannya, kesembuhan pengidap PTSD ini tidak bisa ditentukan secara pasti.

Namun, tidaklah menutup kemungkinan pengidap PTSD bisa sembuh total. Penanganan yang tepat sejak awal menjadi kunci keberhasilan pengobatan. Meski dibutuhkan kesabaran dan ketelatenan dari semua pihak, lebih baik hal ini dilakukan demi menyelamatkan masa depan korbannya.

Dokter bisa melakukan pengobatan dengan dua cara, yakni dengan psikoterapi dan pemberian obat-obatan. Psikoterapi yang dilakukan antara lain terapi kognitif untuk mengetahui pola pikir penyebab traumatis, terapi paparan yang membantu pengidap menghadapi situasi dan memori yang dianggap menakutkan dengan cara yang efektif, serta Eye movement desensitization and reprocessing (EMDR). Sementara obat-obatan yang bisa diberikan meliputi antidepresan, antikecemasan, dan prazosin.

Baca Juga: Waspada Komplikasi Stres Pasca Trauma Bila Tak Segera Ditangani

Kini saatnya kita lebih peduli terhadap isu kesehatan mental akibat kejadian traumatis yang bisa terjadi pada siapa pun seperti yang diceritakan dalam film 27 Steps of May. Jika suatu hari kamu menemukan orang terdekatmu mengalami gejala depresi akibat trauma, maka ajak ia untuk mendiskusikan kondisi kesehatannya melalui dokter. Kamu bisa bertanya langsung ke dokter melalui aplikasi Halodoc lewat fitur Chat dan Voice/Video Call. Kamu hanya perlu download aplikasi Halodoc di App Store dan Google Play untuk berbicara langsung dengan dokter kapan pun, dimana pun.