26 February 2019

Mengapa Gangguan Otot Distonia Terjadi?

Mengapa Gangguan Otot Distonia Terjadi?

Halodoc, Jakarta – Distonia adalah kelainan gerakan di mana otot-otot seseorang berkontraksi tanpa terkendali. Kontraksi menyebabkan bagian tubuh yang terpengaruh terpuntir tanpa sadar, sehingga menghasilkan gerakan berulang atau postur abnormal. Distonia dapat memengaruhi satu otot, kelompok otot, ataupun seluruh tubuh. Distonia memengaruhi sekitar 1 persen dari populasi, di mana perempuan lebih rentan mengalaminya.

Baca juga: Inilah 9 Jenis Dystonia yang Perlu Diwaspadai

Gejala distonia dapat berkisar dari sangat ringan hingga berat. Distonia dapat memengaruhi bagian tubuh yang berbeda, dan seringkali gejalanya berkembang melalui tahapan-tahapan. Beberapa gejala awal meliputi:

  1. Kaki berjalan terseret

  2. Kram kaki

  3. Penarikan leher tanpa sadar

  4. Berkedip tak terkendali

  5. Kesulitan bicara

  6. Stres atau keletihan dapat menyebabkan gejala atau memburuknya kondisi. Pengidap distonia sering mengeluh nyeri dan kelelahan karena kontraksi otot yang konstan.

Jika gejala distonia terjadi di masa kanak-kanak, mereka biasanya muncul pertama kali di kaki atau tangan. Namun kemudian, mereka dengan cepat berkembang ke seluruh tubuh. Tapi, setelah remaja, laju perkembangannya cenderung melambat.

Ketika distonia muncul di awal masa dewasa, biasanya dimulai di tubuh bagian atas. Kemudian, ada perkembangan gejala yang lambat. Distonia yang dimulai pada awal masa dewasa tetap fokus atau tersegmentasi. Kondisi ini memengaruhi salah satu bagian tubuh atau dua ataupun lebih bagian tubuh yang berdekatan.

Sebagian besar kasus distonia tidak memiliki penyebab spesifik. Distonia tampaknya terkait dengan masalah di ganglia basal. Ini area otak yang bertanggung jawab untuk memulai kontraksi otot. Masalahnya melibatkan cara sel-sel saraf berkomunikasi.

Distonia yang didapat disebabkan oleh kerusakan ganglia basal. Kerusakan dapat disebabkan oleh:

Baca juga: Mutasi Genetik Bisa Sebabkan Dystonia di Usia Muda

  1. Trauma otak

  2. Pukulan

  3. Tumor

  4. Kekurangan oksigen

  5. Infeksi

  6. Reaksi obat

  7. Keracunan disebabkan oleh timbal atau karbon monoksida

Distonia idiopatik atau primer sering diturunkan dari orangtua. Beberapa pembawa gangguan ini mungkin tak pernah mengembangkan distonia sendiri. Dan gejalanya mungkin sangat bervariasi di antara anggota keluarga yang sama.

Bagaimana Distonia Diobati?

Ada beberapa pilihan untuk mengobati distonia. Dokter akan menentukan jalannya perawatan berdasarkan jenis distonia dan tingkat keparahannya. Perawatan yang baru-baru ini diperkenalkan adalah toksin botulinum, juga disebut Botox atau Xeomin yang disuntikkan ke otot yang terkena. Di sana ia memblokir efek dari asetilkolin kimia yang menghasilkan kontraksi otot. Suntikan perlu diulang sekitar setiap tiga bulan.

Baca juga: Dystonia Bisa Sebabkan Kehilangan Kemampuan Berbicara

Ketika distonia menyebabkan seseorang menjadi cacat, stimulasi otak yang dalam adalah pilihan. Dengan stimulasi otak yang dalam, elektroda ditanamkan ke area tertentu di otak. Ini kemudian dihubungkan ke stimulator bertenaga baterai yang ditanamkan di dada. Elektroda mentransmisikan pulsa listrik yang diciptakan oleh stimulator ke daerah otak untuk mengurangi kontraksi otot. Dokter tersebut akan mengatur frekuensi dan intensitas pulsa listrik.

Obat-obatan dapat membantu mengurangi pesan "overdrive" yang menyebabkan otot berkontraksi secara berlebihan pada distonia. Kalau ingin mengetahui jenis obat-obatan yang dipergunakan untuk gangguan otot distonia, bisa tanyakan langsung ke Halodoc. Dokter-dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor, kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.

Trik sensorik adalah pilihan lain. Dengan trik sensorik, stimulasi yang diterapkan pada bagian tubuh yang terkena atau di dekatnya dapat mengurangi kontraksi otot. Dengan hanya menyentuh area ini, orang dapat mengendalikan kontraksi mereka sendiri. Terapi wicara, terapi fisik, dan manajemen stres juga dapat digunakan untuk mengobati gejala-gejala distonia.