09 November 2018

Mengenal Gejala Penyakit Skizofrenia

Gejala penyakit skizofrenia, halusinasi

Halodoc, Jakarta - Penyakit yang tidak bisa membedakan mana khayalan dan kenyataan dinamakan skizofrenia. Ya, skizofrenia adalah penyakit mental kronis yang menyebabkan gangguan proses berpikir. Masyarakat Indonesia sering menyebut skizofrenia dengan “gila”. Penyakit ini seringkali membuat pengidapnya tidak memiliki kemampuan untuk berpikir, mengingat, atau pun memahami masalah tertentu.

Skizofrenia yang sering ditemui di masyarakat adalah skizofrenia paranoid. Gejala yang paling khas dari skizofrenia paranoid adalah delusi (waham) dan halusinasi. Itulah sebabnya, orang dengan skizofrenia paranoid cenderung mendengar suara-suara di dalam pikiran mereka dan melihat sesuatu yang tidak nyata.

Bukan hanya itu, orang yang memiliki skizofrenia paranoid juga sering menunjukkan perilaku kacau yang menyebabkan diri mereka tidak dapat mengendalikan perilaku. Akibatnya, pengidap skizofrenia paranoid sering berperilaku tidak pantas, serta sulit mengendalikan emosi, hasrat, dan keinginannya.

Secara umum, skizofrenia adalah gangguan kejiwaan kronis yang membutuhkan pengobatan berkepanjangan untuk meringankan gejalanya.

Kenali Gejala Awal

Umumnya gejala awal skizofrenia muncul saat remaja. Oleh karena itu, gejala awal ini sering disalahartikan, karena dinilai wajar terjadi pada masa remaja. Pada pria, gejala awal muncul di usia 15-30 tahun. Sedangkan pada wanita, gejala muncul pada usia 25-30 tahun. Sejumlah gejala awal skizofrenia, yaitu:

  1. Cenderung mengasingkan diri dari orang lain.

  2. Mudah marah dan depresi.

  3. Perubahan pola tidur.

  4. Kurang konsentrasi dan motivasi.

  5. Kesulitan dalam mengerjakan tugas sekolah.

Gejala skizofrenia dibagi menjadi dua kategori, yaitu positif dan negatif. Gejala positif mengacu pada perilaku yang tidak tampak pada individu yang sehat, seperti:

  1. Halusinasi

Kondisi ini merupakan perasaan mengalami sesuatu yang terasa nyata, tetapi sebenarnya perasaan itu hanya ada di pikiran pengidapnya. Misalnya, merasa mendengar sesuatu, padahal orang lain tidak mendengar apapun.

  1. Delusi

Waham atau delusi adalah meyakini sesuatu yang bertolak belakang dengan kenyataan. Gejalanya beragam, mulai dari merasa diawasi dan diikuti. Sebagian besar pengidap skizofrenia mengalami gejala ini.

  1. Kacau dalam Berpikir dan Berbicara

Gejala ini dapat diketahui dari kesulitan pengidap dalam berbicara. Pengidap skizofrenia sulit berkonsentrasi, bahkan membaca koran atau menonton televisi saja sangat kesulitan. Caranya berkomunikasi juga membingungkan, sehingga sulit dimengerti oleh lawan bicaranya.

  1. Perilaku Kacau

Pengidap skizofrenia memiliki perilaku yang sulit diprediksi. Bahkan, cara berpakaiannya juga tidak biasa. Secara tidak terduga, pengidap dapat tiba-tiba berteriak dan marah tanpa alasan.

Gejala negatif mengacu pada hilangnya minat yang sebelumnya dimiliki oleh pengidap. Gejala negatif dapat berlangsung beberapa tahun, sebelum pengidap mengalami gejala awal.

Sering kali, hubungan pengidap dan keluarga rusak akibat gejala negatif. Hal ini karena gejala negatif sering kali disalahartikan sebagai sikap malas atau tidak sopan. Gejala negatif umumnya muncul bertahap memburuk seiring waktu, di antaranya adalah:

  1. Respons emosional yang ganjil, seperti ekspresi wajah dan nada bicara yang tidak berubah (monoton).

  2. Sulit untuk merasa senang atau puas.

  3. Enggan bersosialisasi dan lebih memilih berdiam di rumah.

  4. Kehilangan minat dan motivasi pada berbagai aktivitas, seperti menjalin hubungan atau berhubungan intim.

  5. Pola tidur yang berubah.

  6. Tidak nyaman berada dekat orang lain dan tidak mau memulai percakapan.

  7. Tidak peduli pada penampilan dan kebersihan diri.

Apabila kamu menyadari diri kamu atau orang dalam lingkungan terdekat kamu mengalami gejala skizofrenia, mungkin sebaiknya kamu segera berdiskusi pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Diskusi dengan dokter di Halodoc dapat dilakukan via Chat atau Voice/Video Call kapan dan di mana pun. Saran dokter dapat kamu terima dengan praktis dengan download aplikasi Halodoc di Google Play atau App Store sekarang juga!

Baca juga: