Meski Bercanda, Mengejek Fisik Orang Bisa Sebabkan Depresi

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
body shaming, mengejek fisik, depresi

Halodoc, Jakarta - Mengejek fisik yang kerap kali dilakukan oleh sebagian orang merupakan bentuk ejekan verbal yang dikenal dengan istilah body shaming. Mengejek fisik dapat dilakukan dengan menyinggung warna kulit, berat badan, tinggi badan, bentuk hidung, atau bentuk rambut seseorang.

Mengejek fisik yang sering kali dilakukan karena adanya persepsi tertentu tentang pemahaman “cantik” dan “tampan”. Seseorang yang dikatakan ideal umumnya memiliki bentuk fisik yang langsing, tinggi, putih, berhidung mancung, dan berambut lurus, sehingga orang yang tidak memiliki kriteria tersebut kerap dijadikan ajang ejekan teman sebayanya.

Baca juga: Depresi Bisa Terjadi pada Segala Usia

Apakah Mengejek Fisik Seseorang Dapat Berujung pada Depresi?

Mengejek sembari menertawakan kerap kali dilakukan dan dianggap hal yang sepele. Padahal, body shaming dapat menyebabkan citra diri sendiri menjadi negatif di pandangan orang lain. Korban ejekan pun akan merasa dirinya cacat dan tidak berharga. Akibatnya, mereka bisa saja mengalami stres yang mengarah pada depresi.

Jika sudah begini, siapa yang harus bertanggung jawab? Parahnya, korban body shaming akan cenderung melakukan berbagai cara agar dapat diterima oleh lingkungannya dan tidak menjadi “bahan ejekan”. Depresi yang dialami oleh korban body shaming bukan hanya sekedar rasa sedih. Mereka akan memiliki dampak dari dua sisi, yaitu fisik dan psikologi.

Ketika korban body shaming merasa stres yang berujung pada depresi, gejala fisik yang tampak, meliputi:

  • Merasa kelelahan dan tidak ada tenaga.

  • Kehilangan selera makan yang berujung pada penurunan berat badan.

  • Mengalami insomnia, atau bahkan terlalu banyak tidur.

  • Kepala terasa pusing.

Baca juga: Mahasiswa ITB Bunuh Diri, Stres Belajar Bikin Depresi?

Sedangkan gejala psikologi yang tampak, meliputi:

  • Merasa bersalah, karena ketidaksempurnaannya.

  • Merasa putus asa, dan tidak berharga.

  • Merasa cemas dan khawatir yang berlebihan.

  • Merasa bersedih secara terus-menerus.

  • Merasa sulit berkonsentrasi, berpikir, dan mengambil keputusan.

  • Merasa tidak memiliki motivasi terhadap apapun yang dikerjakan.

Tak hanya sampai di situ saja, korban body shaming bahkan sering kali berpikir untuk mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Gejala yang tampak akan tergantung pada tingkat keparahan depresi. Bukan hanya korban bullying, pelaku bullying juga memerlukan bimbingan para ahli agar dapat menghilangkan kebiasaan buruk yang satu ini.

Jika kamu mengalami depresi ringan yang menyebabkan aktivitas sehari-hari dan hubungan sosial terganggu, segera membuat janji dengan dokter ahli di rumah sakit terdekat melalui aplikasi Halodoc, ya. Pasalnya, depresi ringan yang dibiarkan begitu saja akan menjadi depresi berat yang akan mengganggu hubungan sosialmu dengan lingkungan sekitar.

Baca juga: 5 Penyebab Depresi yang Sering Diabaikan

Selain Body Shaming, Apa Penyebab Lain dari Depresi?

Depresi merupakan kondisi yang umum dialami oleh orang dewasa. Kondisi ini dapat terjadi karena sering mendapatkan ejekan fisik yang berujung pada tekanan batin. Jika hal ini terus-menerus terjadi, gejala depresi akan muncul secara perlahan. Selain itu, beberapa penyebab yang dapat memicu timbulnya gejala depresi, yaitu:

  • Mengidap penyakit kronis dan serius, seperti kanker, HIV/AIDS, atau stroke.

  • Mengidap penyakit kepribadian tertentu, seperti merasa rendah diri, pesimis, atau selalu bergantung pada orang lain.

  • Memiliki ketergantungan pada alkohol atau obat-obatan terlarang.

  • Mengonsumsi obat jenis tertentu dalam jangka waktu yang panjang, seperti obat tidur.

Penyakit yang satu ini tidak main-main. Pasalnya, pengidap bisa saja melakukan hal yang tidak wajar seperti bunuh diri untuk menghilangkan depresi yang dirasakannya. Dalam hal ini, kamu dapat melakukan psikoterapi guna membantu mengatasi masalah yang disebabkan oleh depresi.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Depression.
Cafe Counsel. Diakses pada 2019. Mental Health Disorders Due To Body Shaming.