10 December 2018

Mitos atau Fakta? Terkena Hipertensi, Hiperglikemia, dan Hiperkolesterolemia Secara Bersamaan Picu Sindrom Metabolik

sindrom metabolik

Halodoc, Jakarta - Sindrom metabolik merupakan istilah kedokteran untuk menggambarkan kombinasi dari beberapa kondisi yang dialami secara bersamaan, seperti:

  • Hipertensi atau yang dikenal dengan darah tinggi, yaitu kondisi saat tekanan darah berada pada nilai 130/80 mmHg atau lebih.

  • Hiperglikemia, yaitu istilah medis untuk keadaan ketika kadar gula dalam lebih tinggi dari nilai normal.

  • Hiperkolesterolemia, yaitu kondisi berbahaya yang ditandai dengan tingginya kadar kolesterol dalam darah.

  • Obesitas, yaitu kondisi kronis akibat penumpukan lemak dalam tubuh yang tinggi.

Faktor risiko yang membuat sindrom metabolik adalah kadar kolesterol yang melebihi normal, tekanan darah tinggi, kadar gula darah yang tinggi, dan kelebihan lemak perut. Faktor-faktor tersebut meningkatkan potensi seseorang untuk mendapatkan masalah kesehatan. Kondisi ini membuat pengidapnya berisiko tinggi mengalami penyakit stroke, jantung, dan diabetes. Sindrom metabolik merupakan penyakit yang tidak menular.

Ada banyak faktor yang dapat menimbulkan kondisi ini, tapi faktor terbesar yang menjadi penyebab adalah kurangnya aktivitas fisik, serta resistensi insulin. Resistensi insulin merupakan suatu kondisi ketika hormon insulin tidak dapat mengolah gula dalam darah dengan baik, sehingga terjadi peningkatan kadar gula dalam darah. Kondisi ini dikenal dengan diabetes melitus. Kondisi lain yang meningkatkan risiko terjadinya sindrom metabolik, antara lain faktor genetik, penuaan, dan riwayat penyakit dalam keluarga seperti diabetes atau penyakit jantung.

Umumnya, sindrom metabolik tidak menunjukkan gejala spesifik. Namun, ada beberapa tanda klinis yang patut diwaspadai, antara lain:

  • Tekanan darah berkisar di angka 140/90 mmHg atau lebih.

  • Lingkar pinggang melebihi batas normal, yaitu antara 80 sentimeter untuk wanita, dan 90 sentimeter untuk pria.

  • Kadar kolesterol baik yang rendah (HDL), kurang dari 40 mg/dL untuk pria, dan 50 mg/dL untuk wanita.

  • Kadar trigliserida yang tinggi dalam darah, yaitu 150 mg/dL atau lebih.

  • Peningkatan risiko penggumpalan darah, contohnya deep vein thrombosis (DVT).

  • Rentan mengalami peradangan, seperti pembengkakan dan iritasi.

  • Kadar gula darah puasa yang tinggi, yaitu 100 mg/dL ke atas.

Kamu dapat melakukan perubahan gaya hidup seperti di bawah ini untuk meredakan atau mencegah sindrom metabolik yang sedang kamu alami, antara lain:

  • Lakukan olahraga ringan setiap hari, berjalan cepat selama 30 menit atau berlari selama 15 menit. Kegiatan tersebut dapat memberikan manfaat kesehatan yang penting.

  • Menerapkan pola makan sehat. Misalnya dengan menambah asupan buah dan sayur, serta mengurangi makanan cepat saji dan makanan dalam kemasan.

  • Jaga berat badan tetap ideal.

  • Perubahan pola makan untuk menurunkan kolesterol, termasuk mengonsumsi lemak tak jenuh bukan lemak jenuh.

  • Berhenti merokok dan batasi konsumsi minuman beralkohol.

  • Kurangi konsumsi garam.

Sindrom metabolik sangat jarang menyebabkan gejala yang mengganggu. Satu-satunya indikasi fisik yang dapat terlihat adalah ukuran lingkar pinggang yang melebihi batas normal. Dalam mendiagnosis sindrom ini, dibutuhkan serangkaian pemeriksaan yang umumnya meliputi pengukuran tekanan darah, berat badan, serta pemeriksaan darah guna mendeteksi kadar gula darah sekaligus kolesterol pengidap kondisi ini.

Apabila kamu sudah mempraktekkan hal-hal di atas, tetapi kondisi kamu belum juga membaik, segera diskusikan dengan dokter. Dengan aplikasi Halodoc, kamu bisa berdiskusi dengan dokter ahli di mana pun dan kapan pun melalui Chat atau Voice/Video Call. Kamu juga bisa membeli obat yang sedang kamu butuhkan dan pesanan kamu akan diantar dalam waktu satu jam. Yuk, download aplikasinya segera di Google Play atau App Store.

Baca juga: