Mitos atau Fakta Idap Iskemia Bisa Terkena Stroke

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Mitos atau Fakta Idap Iskemia Bisa Terkena Stroke

Halodoc, Jakarta - Iskemia adalah kondisi ketika suplai darah ke jaringan atau organ tubuh berkurang karena permasalahan pada pembuluh darah. Akibat pasokan darah yang kurang, maka organ tidak mendapat cukup oksigen. Hasilnya, iskemia mampu membahayakan seseorang dan membuatnya mengalami kondisi seperti serangan jantung hingga stroke.

Pengidap iskemia bisa terkena stroke karena kondisi ini menyerang area otak. Pasokan darah pada arteri otak mengalami hambatan dan mengakibatkan sel otak kekurangan oksigen serta dapat berkembang menjadi kerusakan atau kematian sel otak. Seseorang yang mengalami iskemia otak mengalami gejala, antara lain:

  • Setengah bagian badan menjadi lemah atau lumpuh.
  • Wajah yang tidak simetris.
  • Bicara pelo.
  • Gangguan penglihatan, meliputi kebutaan pada satu mata atau penglihatan ganda.
  • Pusing dan vertigo.
  • Penurunan kesadaran.
  • Kehilangan koordinasi tubuh.

Baca Juga: Kenali Iskemia, Penyebab Kematian Terbanyak di Dunia

Penyebab dan Faktor Risiko Iskemia

Iskemia biasanya terjadi karena ada plak yang sebagian besar mengandung lemak menghambat aliran darah. Seiring waktu, arteri yang tersumbat tersebut mengeras dan menyempit (aterosklerosis).

Selain itu, kondisi yang menimbulkan iskemia adalah bekuan darah yang terbentuk dari pecahan plak dan berpindah ke pembuluh darah yang lebih kecil, sehingga dapat menghentikan aliran darah.

Sementara, beberapa hal yang meningkatkan risiko seseorang untuk alami iskemia, yaitu:

  • Memiliki kondisi medis tertentu, seperti penyakit diabetes, hipertensi, hipotensi, kolesterol tinggi, obesitas, gangguan pembekuan darah, anemia sel sabit, penyakit celiac, dan gagal jantung.
  • Kebiasaan merokok.
  • Kecanduan alkohol.
  • Penyalahgunaan NAPZA.
  • Jarang olahraga.

Baca Juga: Perlu Diwaspadai, Gejala Iskemia Berdasarkan Lokasinya

Diagnosis Iskemia

Cara untuk mendiagnosis penyakit ini, dokter memeriksanya berdasarkan gejala yang ada. Beberapa jenis pemeriksaan yang bisa dilakukan, antara lain:

  • Tes darah, untuk memeriksa kadar kolesterol dalam darah dan profil pembekuan darah.
  • Elektrokardiografi (EKG), untuk merekam aktivitas listrik jantung,
  • Ekokardiografi, untuk melihat struktur bentuk dan gerakan jantung.
  • Angiografi, untuk melihat tingkat keparahan hambatan pada pembuluh darah,

Selain dengan pemeriksaaan tersebut, dokter dapat menyarankan pemeriksaan pelengkap lainnya, berdasarkan area terjadinya iskemia. Untuk area iskemia yang terjadi pada otak biasanya dilakukan CT Scan untuk memastikan apakah iskemia menyebabkan kematian jaringan otak. Jika terjadi di area lain, pemeriksaan yang dilakukan, yaitu:

  • Iskemia pada jantung, meliputi CT scan untuk melihat kemungkinan penyakit jantung koroner, serta tes tekanan (stress test) misalnya dengan EKG, pemeriksaan treadmill saat pasien melakukan aktivitas fisik.
  • Iskemia pada usus dengan USG Doppler untuk memeriksa aliran pembuluh darah.
  • Iskemia pada tungkai, meliputi tes tekanan darah pada pergelangan kaki untuk membandingkan tekanan darah pada lengan dan kaki (ankle-brachial index), serta USG doppler untuk mengetahui kondisi hambatan pada arteri di tungkai.

Pengobatan iskemia Otak Penyebab Stroke

Penanganan iskemia pada otak dapat dilakukan pemberian tissue plasminogen activator (TPA) untuk mengatasi gumpalan darah. Prosedur ini memiliki ketentuan dan syarat tertentu sebelum diberikan, misalnya dilakukan dalam 3 jam setelah terjadinya stroke.

Selain TPA, pemasangan ring (stent) juga dilakukan pada arteri yang menyempit karena plak. Upaya mencegah pembentukan gumpalan darah kembali dalam jangka panjang dapat dilakukan dengan pemberian obat aspirin atau antikoagulan. Setelah penanganan, pasien memerlukan fisioterapi untuk mengembalikan kemampuan motorik, koordinasi tubuh, dan kemampuan bicaranya yang terganggu.

Baca Juga: Kenali Penanganan Iskemia Berdasar Area Terjadinya

Kini kamu paham bahwa pengidap iskemia bisa terkena stroke. Jika ada pertanyaan lain seputar penyakit jantung pada anak, jangan ragu bertanya pada dokter Halodoc. Kamu hanya perlu membuka aplikasi Halodoc dan masuk ke fitur Talk to A Doctor untuk menghubungi dokter kapan saja dan di mana saja via Chat, dan Voice/Video Call. Yuk, segera download aplikasi Halodoc di App Store atau Google Play!