Mitos atau Fakta, Lansia Cenderung Alami Nokturia

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Mitos atau Fakta, Lansia Cenderung Alami Nokturia

Halodoc, Jakarta - Sedang lelap tidur tiba-tiba ingin buang air kecil tentu menyebalkan sekali, ya. Apalagi jika hasrat berkemih itu datang terlalu sering. Padahal, saat tidur, tubuh akan menghasilkan urine dalam jumlah yang lebih sedikit, sehingga sebenarnya orang yang sehat tidak akan terganggu rasa ingin buang air kecil pada tengah malam. Dalam medis, buang air berlebih pada malam hari ini disebut nokturia atau nocturnal polyuria. 

Nokturia dapat terjadi pada orang dengan usia berapapun, meski paling umum dialami oleh lansia. Penyebabnya beragam, mulai dari gaya hidup kurang sehat hingga kondisi medis tertentu. Salah satu kondisi medis yang paling sering menyebabkan nokturia adalah infeksi saluran kemih

Baca juga: Sering Berkemih di Malam Hari, Hati-Hati Gejala Nokturia

Infeksi ini menyebabkan sensasi terbakar dan rasa untuk perlu segera buang air kecil pada siang dan malam hari. Selain itu, hal-hal lain yang juga dapat menyebabkan nokturia adalah:

  • Infeksi atau pembesaran prostat.

  • Turunnya kandung kemih.

  • Sindrom kandung kemih yang overaktif.

  • Tumor pada kandung kemih, prostat atau area pelvis.

  • Diabetes.

  • Kegelisahan.

  • Infeksi ginjal.

  • Edema, atau pembengkakan pada kaki bawah.

  • Penyakit neurologis, seperti multiple sclerosis (MS), Parkinson’s disease, atau kompresi saraf tulang belakang.

  • Nokturia juga umum terjadi pada orang-orang dengan kegagalan organ (umumnya gagal jantung atau hati) dan pengidap diabetes.

  • Kehamilan. Nokturia dapat menjadi gejala awal dari kehamilan. Kondisi ini dapat muncul pada awal kehamilan, tetapi lebih umum terjadi kemudian, saat rahim menekan kandung kemih.

  • Sleep apnea. Nokturia dapat menjadi gejala dari obstructive sleep apnea. Hal ini dapat terjadi walau kandung kemih tidak penuh. 

  • Efek samping obat. Beberapa pengobatan dapat menyebabkan nokturia sebagai efek samping, terutama sebagai efek samping dari diuretik (water pills), yang diberikan untuk mengatasi tekanan darah tinggi. 

Baca juga: Alkoholik Lebih Berisiko Terkena Nokturia, Ini Alasannya

Bisakah Diobati?

Pengobatan untuk nokturia dapat meliputi pengobatan, seperti obat anticholinergic, yang dapat mengurangi gejala kandung kemih yang overaktif, atau desmopressin, yang menyebabkan ginjal menghasilkan lebih sedikit urine.

Namun, nokturia dapat menjadi gejala dari kondisi yang lebih serius, seperti diabetes atau infeksi saluran kemih yang dapat memperburuk atau menyebar jika tidak diatasi. Nokturia akibat kondisi penyebab biasanya akan berhenti saat kondisi telah diatasi.

Selain itu, ada beberapa hal yang juga perlu diterapkan pengidap nokturia di rumah, sebagai upaya untuk mempercepat penyembuhan, yaitu: 

  • Mengurangi jumlah air yang diminum sebelum tidur dapat mengurangi keinginan buang air di malam hari. Menghindari minuman yang mengandung alkohol dan kafein juga dapat membantu, serta buang air sebelum tidur. Beberapa makanan juga bersifat diuretik, seperti cokelat, makanan pedas dan pemanis buatan. Latihan kegel dapat memperkuat otot pelvic dan meningkatkan kendali pada kemih.

  • Perhatikan apa yang memperburuk gejala agar dapat menyesuaikan kebiasaan. Beberapa orang merasa terbantu dengan memiliki buku harian yang berisi apa saja dan kapan yang mereka minum.

Baca juga: Poliuria dan Nokturia, Apa Bedanya?

Itulah sedikit penjelasan tentang nokturia. Jika kamu membutuhkan informasi lebih lanjut soal hal ini atau gangguan kesehatan lainnya, jangan ragu untuk mendiskusikannya dengan dokter pada aplikasi Halodoc, lewat fitur Talk to a Doctor, ya. Dapatkan juga kemudahan membeli obat menggunakan aplikasi Halodoc, kapan dan di mana saja, obatmu akan langsung diantar ke rumah dalam waktu satu jam. Yuk, download sekarang di Apps Store atau Google Play Store!