Mitos atau Fakta Perempuan yang Menikah Dini Bisa Kena Plasenta Akreta

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Mitos atau Fakta Perempuan yang Menikah Dini Bisa Kena Plasenta Akreta

Halodoc, Jakarta - Selama masa kehamilan dan persalinan, ada berbagai masalah yang bisa saja terjadi. Salah satunya adalah plasenta akreta, yaitu kondisi ketika pembuluh darah plasenta (ari-ari) atau bagian-bagian lain dari plasenta tumbuh terlalu dalam, sehingga melekat pada dinding rahim. Ini merupakan salah satu masalah kehamilan serius, karena bisa membahayakan nyawa sang ibu. Benarkah kondisi ini disebabkan oleh pernikahan dini?

Kehamilan yang terjadi pada wanita yang usianya terlampau belia memang cukup berisiko, karena organ reproduksinya bisa saja belum siap dengan kehamilan, sehingga ada banyak risiko gangguan kehamilan yang mungkin terjadi. Namun, untuk kasus plasenta akreta, belum ada penelitian yang membahas keterkaitannya dengan kehamilan dini.

Faktanya, penyebab pasti dari plasenta akreta belum diketahui. Kondisi ini diduga berkaitan dengan terjadinya plasenta precia atau bekas operasi caesar pada persalinan sebelumnya. Sebagian besar kasus plasenta akreta terjadi pada wanita yang mengalami plasenta previa, atau yang telah beberapa kali menjalani operasi caesar.

Baca juga: Risiko Kehamilan pada Plasenta Akreta yang Perlu Diketahui Ibu

Yang Terjadi Ketika Mengalami Plasenta Akreta

Setelah seorang wanita melahirkan, plasenta yang normal biasanya akan terlepas dari dinding rahim. Namun, pada plasenta akreta, sebagian atau seluruh plasenta tetap melekat erat pada dinding rahim. Kondisi ini sangat berisiko menyebabkan perdarahan pasca melahirkan yang hebat.

Saat kehamilan berlangsung, plasenta akreta umumnya tidak menimbulkan gejala atau tidak memiliki tanda-tanda yang bisa dilihat secara kasat mata. Sering kali kondisi ini terdeteksi oleh dokter ketika melakukan pemeriksaan USG saat konsultasi kehamilan. Namun, pada sebagian kasus, plasenta akreta dapat menyebabkan perdarahan dari Miss V di minggu ke-28 sampai ke-40 masa kehamilan (trimester ketiga).

Tingkat keparahan plasenta akreta akan bergantung pada ditentukan berdasarkan seberapa lekat plasenta terhadap dinding rahim. Kasus yang paling sering terjadi adalah saat plasenta tumbuh terlalu dalam pada dinding rahim. Kondisi lebih parah, yang disebut plasenta inkreta, terjadi jika plasenta berada semakin dalam pada dinding rahim hingga mencapai otot rahim. Pada kasus yang jarang terjadi, plasenta dapat menembus seluruh dinding rahim hingga melekat pada organ lain, seperti kandung kemih. Kondisi ini disebut plasenta perkreta.

Baca juga: Ini Perbedaan Plasenta Akreta dan Plasenta Previa

Apa yang Menjadi Penyebabnya?

Plasenta akreta diduga berkaitan dengan tingginya kadar protein bernama alpha-fetoprotein (AFP) yang dihasilkan janin, dan dapat dideteksi dari darah ibu hamil. Kondisi lapisan rahim yang tidak normal juga diduga dapat menimbulkan plasenta akreta, seperti jaringan parut pasca operasi caesar atau operasi lain di rahim. Meskipun begitu, penyebab pasti plasenta akreta belum diketahui secara pasti.

Sebenarnya risiko seorang wanita terkena plasenta akreta bisa terus meningkat tiap kali dirinya hamil, terlebih lagi jika berusia di atas 35 tahun. Selain itu,risiko wanita mengalami plasenta akreta juga meningkat apabila:

  • Memiliki posisi plasenta pada bagian bawah rahim ketika hamil, seharusnya plasenta berada di puncak rahim.

  • Mengidap plasenta previa (plasenta menutupi sebagian atau seluruh jalan lahir).

  • Memiliki kondisi rahim yang tidak normal, misalnya terdapat miom.

Komplikasi yang Mungkin Ditimbulkan

Komplikasi serius dapat terjadi setelah persalinan, baik dengan histerektomi maupun tidak. Komplikasi pada operasi yang masih menyisakan sebagian besar plasenta, dapat terjadi infeksi, perdarahan yang membahayakan nyawa, emboli paru atau penyumbatan dari gumpalan darah yang terlepas dan menyumbat pada arteri paru-paru.

Baca juga: Operasi Angkat Rahim untuk Pengobatan Plasenta Akreta

Komplikasi juga dapat terjadi pada kehamilan berikutnya, yaitu keguguran, plasenta akreta terjadi kembali, atau kelahiran prematur. Di sisi lain, operasi caesar dengan histerektomi juga dapat menimbulkan komplikasi berupa infeksi luka operasi, reaksi alergi terhadap obat bius, serta terbentuknya gumpalan darah. Komplikasi lain yang dapat terjadi akibat plasenta akreta adalah kerusakan organ, seperti paru-paru akibat acute respiratory distress syndrome, atau ginjal akibat gagal ginjal.

Itulah sedikit penjelasan tentang plasenta akreta. Jika kamu membutuhkan informasi lebih lanjut soal hal ini atau gangguan kesehatan lainnya, jangan ragu untuk mendiskusikannya dengan dokter pada aplikasi Halodoc, lewat fitur Talk to a Doctor, ya. Mudah kok, diskusi dengan dokter spesialis yang kamu inginkan pun dapat dilakukan melalui Chat atau Voice/Video Call. Dapatkan juga kemudahan membeli obat menggunakan aplikasi Halodoc, kapan dan di mana saja, obatmu akan langsung diantar ke rumah dalam waktu satu jam. Yuk, download sekarang di Apps Store atau Google Play Store!