31 October 2018

Risiko Kehamilan pada Plasenta Akreta yang Perlu Diketahui Ibu

Risiko Kehamilan pada Plasenta Akreta yang Perlu Diketahui Ibu

Halodoc, Jakarta - Untuk ibu yang akan melahirkan, terutama yang akan melakukan operasi caesar, hati-hatilah terhadap risiko plasenta akreta. Kondisi ini merupakan komplikasi pada kehamilan yang dapat mengancam nyawa dan sejauh ini terus meningkat jumlahnya. Peningkatan ini dikarenakan semakin seringnya seseorang melakukan operasi caesar ketika melahirkan.

Plasenta akreta terjadi karena plasenta yang menempel terlalu dalam pada dinding rahim. Umumnya, tidak berapa lama setelah bayi lahir, plasenta akan lepas dari dinding rahim dan terbawa keluar. Namun jika plasenta akreta terjadi, dapat menyebabkan perdarahan berat pada sang ibu.

Angka ibu yang mengalami plasenta akreta naik sejalan dengan jumlah operasi caesar. Selain itu, ibu hamil juga dapat mengidap plasenta inkreta ketika melahirkan, yaitu plasenta menempel pada otot rahim. Lalu, risiko lainnya yaitu plasenta perkreta yang artinya plasenta tumbuh pada dinding rahim dan terkadang berdekatan dengan organ.

Sejauh ini, penyebab dari plasenta akreta belum diketahui secara pasti. Terdapat dugaan bahwa hal ini berhubungan dengan bekas operasi caesar pada persalinan sebelumnya (plasenta previa). Plasenta akreta mempunyai persentase kejadian sekitar 5-10 persen pada wanita dengan plasenta previa. Lalu, sekitar 60 persen pada wanita yang telah beberapa kali melakukan operasi caesar.

Gejala Plasenta Akreta

Biasanya, plasenta akreta tidak menunjukkan gejala sama sekali. Ibu bahkan tidak mengetahui hal tersebut bisa terjadi hingga saatnya melahirkan. Walau begitu, perdarahan pada Miss V di trimester ketiga dapat menjadi suatu pertanda terjadinya masalah ini. Jika hal tersebut terjadi, segera temui dokter kamu.

Segeralah lakukan USG atau MRI untuk melihat apakah plasenta tersebut mengalami kelainan atau tidak. Selain itu, kamu juga dapat melakukan tes darah untuk mengetahui apakah terjadi peningkatan pada alpha-fetoprotein, yaitu protein yang diproduksi bayi dan akan mengalami peningkatan jika terjadi plasenta akreta.

Penyebab Plasenta Akreta

Belum diketahui secara pasti penyebab plasenta akreta. Namun, disebutkan bahwa hal ini berhubungan dengan kadar alpha-fetoprotein yang tinggi. Kondisi pada lapisan rahim yang tidak normal juga dapat menyebabkan plasenta akreta terjadi, seperti jaringan parut dari operasi caesar sebelumnya atau operasi lain yang berada di rahim.

Kenyataannya, risiko mengidap plasenta akreta pada wanita terus naik setiap mengalami kehamilan, terutama ketika berusia di atas 35 tahun. Risiko lainnya yaitu ketika wanita memiliki posisi plasenta di bagian bawah rahim ketika hamil, mengidap plasenta previa, dan kondisi rahim tidak normal atau terdapat miom.

Menangani Plasenta Akreta

Wanita hamil yang telah terdiagnosis secara dini mengidap plasenta akreta, dokter akan terus mengamati kondisi perkembangan kehamilannya. Saat persalinan pun, dokter akan menyiapkan untuk kondisi darurat. Hal tersebut untuk memastikan persalinan tetap berjalan dengan aman. Persalinan akan dilakukan dengan operasi caesar dan berdasarkan kesepakatan antara sang ibu dengan dokter dikarenakan kondisinya.

Operasi rahim dapat dilakukan untuk seseorang yang berkeinginan untuk memiliki anak kembali atau seseorang dengan kondisi plasenta akreta yang belum terlalu parah. Walau begitu, risiko yang menyebabkan perdarahan hebat, sehingga membahayakan nyawa jika melakukan tindakan operasi caesar dengan memisahkan plasenta dari dinding rahim. Selain itu, jika meninggalkan sebagian besar plasenta untuk mempertahankan rahim dapat mengakibatkan risiko terjadinya komplikasi serius.

Itulah suatu risiko kehamilan ketika mengalami plasenta akreta. Jika kamu mempunyai pertanyaan perihal plasenta akreta, dokter-dokter dari Halodoc siap membantu. Caranya yaitu dengan download aplikasi Halodoc ke smartphone kamu! Kamu juga bisa beli obat di Halodoc, lho. Tanpa perlu keluar rumah, pesananmu akan diantarkan dalam waktu satu jam.

Baca juga: