17 November 2018

Mitos atau Fakta, Preeklamsia dalam Kehamilan bisa Terulang

Mitos atau Fakta, Preeklamsia dalam Kehamilan bisa Terulang

Halodoc, Jakarta – Preeklamsia merupakan sebuah komplikasi yang terjadi pada kehamilan. Preeklamsia ditandai dengan meningkatnya tekanan darah (hipertensi) dan tanda-tanda kerusakan organ lain. Berita buruknya, kondisi ini bisa sangat membahayakan ibu maupun janin yang dikandung.

Gejala dari kondisi ini biasanya muncul di antara 20—24 minggu usia kehamilan atau sampai tak lama setelah bayi lahir. Dalam beberapa kasus, preeklamsia bisa berkembang tanpa menunjukkan gejala apapun atau hanya menimbulkan gejala yang ringan. Preeklamsia yang tidak disadari oleh calon ibu bisa berkembang menjadi eklamsia, yakni sebuah kondisi yang jauh lebih serius dan mengancam.

Salah satu tanda yang cukup khas dari kondisi ini adalah tekanan darah yang terus meningkat. Karena itu, memantau tekanan darah selama kehamilan adalah hal yang penting untuk dilakukan. Waspadailah jika tekanan darah sudah mencapai 140/90 mmHg atau lebih.

Selain hipertensi, ada beberapa gejala lain yang muncul saat seorang ibu hamil mengalami preeklamsia. Mulai dari sesak napas akibat cairan di paru-paru, sakit kepala parah, gangguan penglihatan, mual dan muntah, hingga rasa nyeri di perut bagian atas. Preeklamsia juga bisa menyebabkan ibu hamil mengalami gangguan fungsi hati, pembengkakan di telapak kaki, wajah dan tangan, hingga menurunnya jumlah trombosit dalam darah.

Hingga kini masih belum diketahui secara pasti penyebab terjadinya preeklamsia dalam kehamilan. Namun, sejumlah ahli menduga gangguan ini memiliki kaitan dengan kelainan plasenta, yakni organ yang berfungsi menerima suplai darah dan nutrisi bagi janin yang berada di dalam kandungan.

Preeklamsia pada ibu hamil bisa menyebabkan terganggunya pertumbuhan dan perkembangan darah plasenta. Kondisi ini menyebabkan pembuluh darah menjadi lebih sempit dari seharusnya, sehingga bisa menyebabkan berkurangnya jumlah darah yang bisa dialirkan.

Ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko seorang wanita mengalami preeklamsia. Mulai dari kekurangan nutrisi, riwayat penyakit tertentu, obesitas, ada jeda waktu yang lama dengan kehamilan sebelumnya, misalnya 10 tahun, hingga hamil di bawah usia 20 tahun atau di atas usia 40 tahun. Risiko preeklamsia juga lebih tinggi pada wanita yang baru pertama kali hamil dan pernah mengalami preeklamsia pada kehamilan sebelumnya.

Sudah Pernah Preeklamsia di Kehamilan Pertama, Bisakah Terulang di Kehamilan Kedua?

Pada dasarnya, preeklamsia bisa terjadi pada siapa saja. Namun, ada beberapa golongan wanita hamil yang disebut lebih berisiko mengalami komplikasi ini. Berita buruknya, seorang wanita yang sudah pernah mengalami preeklamsia pada kehamilan pertama, ternyata masih memiliki risiko untuk kembali mengalaminya di kehamilan kedua dan seterusnya.

Sejumlah sumber mengatakan bahwa hampir seluruh preeklamsia di kehamilan kedua terjadi karena preeklamsia di kehamilan sebelumnya. American Journal of Obstetrics and Gynecology menyebut bahwa, sekitar 14,7 persen ibu yang sebelumnya pernah mengalami preeklamsia akan mengalami hal serupa di kehamilan kedua.

Preeklamsia yang terjadi selama kehamilan bisa menyebabkan pertumbuhan janin terhambat. Jika kondisi ibu cukup parah maka ada kemungkinan janin harus segera dilahirkan meski organ dalam tubuhnya belum sempurna. Hal itu bisa menyebabkan munculnya komplikasi serius yang bisa membahayakan bayi, yaitu kesulitan bernapas, bahkan bisa mengakibatkan bayi meninggal saat masih di dalam kandungan.

Cari tahu lebih lanjut mengenai preeklamsia selama kehamilan dan cara mencegahnya dengan bertanya kepada dokter di aplikasi Halodoc. Dokter bisa dihubungi melalui Video/Voice Call dan Chat. Dapatkan tips menjaga kehamilan dari dokter terpercaya. Yuk, download Halodoc sekarang di App Store dan Google Play!

Baca juga: