• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Mitos atau Fakta Tubuh Kelebihan Protein Picu Bau Mulut

Mitos atau Fakta Tubuh Kelebihan Protein Picu Bau Mulut

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani

Halodoc, Jakarta - Protein merupakan salah satu nutrisi penting yang dibutuhkan tubuh. Fungsinya sendiri adalah untuk mengatur metabolisme tubuh secara optimal, membentuk sel dan jaringan baru, serta meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Sumber protein dapat diperoleh dari hewan yang dikenal dengan sumber protein hewani, serta dari tumbuhan yang dikenal dengan sumber protein nabati.

Baca juga: Mudah Lapar? Kenali 6 Tanda Kekurangan Protein

Protein yang dibutuhkan oleh tubuh dapat dihitung menggunakan rasio 1 gram protein per 1 kilogram berat badan seseorang. Bukan itu saja, jumlah protein yang dibutuhkan tubuh akan tergantung pada beberapa faktor, meliputi:

  • Usia.

  • Jenis kelamin.

  • Kehamilan dan menyusui.

  • Tingkat aktivitas

Protein memang memiliki peran penting dalam menjaga metabolisme tubuh agar tetap optimal. Namun jika kadarnya berlebihan, hal tersebut tidak akan baik bagi tubuh. Berikut sejumlah dampak kelebihan protein dalam tubuh!

Baca juga: Inilah Manfaat dan Risiko Mengonsumsi Daging Merah

Bau Mulut Menjadi Dampak Kelebihan Protein, Ini Penjelasannya!

Tubuh memerlukan protein yang seimbang. Jika kadarnya berlebihan, kelebihan protein dapat memicu datangnya beberapa penyakit. Salah satu dampak kelebihan protein yang dapat terjadi adalah bau mulut. Kondisi ini terjadi karena kelebihan protein dalam tubuh tidak disertai dengan asupan karbohidrat yang cukup, hingga akhirnya memicu timbulnya bau mulut.

Bau mulut yang menjadi dampak kelebihan protein ini terjadi sebagai efek samping dari ketosis, yaitu proses saat tubuh menghasilkan zat kimia yang memiliki bau tidak sedap. Bukan hanya bau mulut saja yang menjadi dampak kelebihan protein, berikut yang dialami tubuh saat terlalu banyak protein di dalamnya:

  • Naiknya Berat Badan

Terlalu banyak protein yang masuk ke tubuh akan tersimpan sebagai cadangan lemak, yang menjadi pemicu naiknya bobot tubuh dan kegemukan. Jadi, bukan hanya gula yang dapat memicu timbunan lemak dalam tubuh, hal tersebut menjadi dampak kelebihan protein pada seseorang.

  • Kerusakan Ginjal

Tingginya konsumsi protein dalam memicu gangguan ginjal pada orang yang sebelumnya sudah memiliki masalah pada organ ini. Hal ini terjadi, ginjal akan bekerja lebih keras untuk mengeluarkan produk metabolisme protein.

  • Sembelit

Dampak kelebihan protein selanjutnya adalah konstipasi atau sembelit. Untuk mencegah terjadinya hal tersebut, pastikan kebutuhan serat dan air dalam tubuh terpenuhi dengan baik. Selain masalah pada pencernaan, masalah lain yang muncul akibat kelebihan protein dalam tubuh adalah diare, terutama jika protein yang diperoleh berasal dari makanan olahan.

  • Dehidrasi

Risiko mengalami dehidrasi akan meningkat saat tubuh kelebihan protein. Kelebihan protein dalam tubuh akan sejalan dengan tingginya kadar nitrogen di tubuh. Nah,  jumlah nitrogen yang berlebihan ini yang akan dikeluarkan tubuh melalui cairan urine atau keringat.

Saat sejumlah kondisi tersebut terjadi, kamu bisa segera mendiskusikannya dengan dokter di aplikasi Halodoc untuk mengetahui langkah selanjutnya yang harus dilakukan. Ingat, sebaik apapun nutrisi yang dikonsumsi, jika kadarnya berlebihan justru akan mengundang penyakit untuk datang menghampiri. Sebaiknya mulai saat ini kamu harus menjaga asupan nutrisi yang masuk ke dalam tubuh agar tetap seimbang.

Baca juga: Alasan Kekurangan Asupan Protein Sebabkan Hipoalbuminemia

Seberapa Banyak Protein Harian yang Dibutuhkan oleh Tubuh?

Protein sangat penting untuk tubuh manusia, karena peranannya yang sangat penting bagi pertumbuhan, perkembangan, dan perbaikan jaringan dalam tubuh. Protein adalah salah satu dari tiga "makronutrien" utama yang dibutuhkan tubuh, bersama dengan karbohidrat dan lemak. Asupan yang dibutuhkan per harinya akan tergantung pada aktivitas fisik dan kondisi kesehatan seseorang.

Jadi, mengonsumsi protein yang cukup sangat diperlukan guna mencegah malnutrisi. Bukan hanya jumlahnya saja yang patut diperhitungkan, sumbernya pun juga perlu. Disarankan untuk mencukupi asupan protein dari sumber yang baik, seperti ikan-ikanan, kacang-kacangan, atau biji-bijian.

Referensi:
Health Harvard. Diakses pada 2020. When it comes to protein, how much is too much?
Healthline. Diakses pada 2020. Are There Risks Associated with Eating Too Much Protein?
Medical News Today. Diakses pada 2020. How much protein is too much?