Mitos dan Fakta Seputar Bahaya Bulu Kucing

Ditinjau oleh: dr. Gabriella Florencia
Mitos dan Fakta Seputar Bahaya Bulu Kucing

Halodoc, Jakarta - Kucing merupakan salah satu hewan peliharaan yang menggemaskan. Tingkah lakunya yang lucu kadang membuat kita yang awalnya lelah setelah seharian bekerja menjadi segar kembali. Oleh karena itu, hewan ini menjadi salah satu favorit banyak orang. Namun, di balik kegemasan dan kelucuannya, bahaya bulu kucing bisa saja mengintai kita. Apalagi buat mereka yang memiliki alergi terhadap bulu kucing, berhenti memeliharanya mungkin menjadi pilihan tepat. 

Jelas, kita tahu bahwa memiliki hewan peliharaan memiliki banyak manfaat besar. Jadi, apa yang harus kita lakukan? Pertama jelas kamu harus mengetahui dulu fakta-fakta seputar bulu kucing sehingga kamu tidak termakan mitos yang selama ini salah. Nah, berikut ini beberapa mitos dan fakta seputar bulu kucing: 

Baca juga: 6 Manfaat Punya Hewan Peliharaan untuk Anak

Mitos: Beberapa ras kucing menyebabkan alergi dan hipoalergenik

Fakta: Berita buruknya kucing yang bersifat hipoalergenik (menyebabkan lebih sedikit alergi) itu tidak ada. Mungkin beberapa jenis kucing memiliki lebih sedikit bulu yang rontok, namun bukan berarti kamu tidak akan mengalami alergi karenanya. Bukan bulu hewan yang secara langsung memicu reaksi alergi, melainkan serpihan kulit, air ludah, dan urine dari hewan tersebut.

Namun, ketika kucing menjilat dirinya, bulunya pun akan ikut terkena air ludah tersebut. Reaksi alergi bisa terjadi karenanya dan menimbulkan rinitis alergi yang tampak seperti gejala flu. Beberapa reaksi tersebut, yaitu mata gatal, bersin, pilek, dan peradangan pada sinus. Selain itu, bulu kucing dapat memicu serangan asma akibat reaksi alergi.

Mitos: Kucing tanpa bulu, seperti kucing Sphynx, tidak menyebabkan alergi

Fakta: Sayangnya, kucing tanpa bulu seperti kucing Sphynx juga tidak hipoalergenik. Faktanya, tidak ada penelitian ilmiah untuk mendukung gagasan bahwa setiap ras menyebabkan reaksi alergi yang lebih atau kurang parah. Jadi dengan atau tanpa bulu, kucing masih bisa membuat kamu bersin-bersin

Mitos: Bulu kucing tidak membahayakan ibu hamil

Fakta: Secara umum, bulu kucing yang sehat tidak membahayakan ibu hamil. Bahaya bulu kucing bisa terjadi jika kucing yang kamu pelihara mengalami infeksi toksoplasmosis. Penyakit ini disebabkan parasit yang disebut Toxoplasma gondii yang terdapat pada feses (kotoran) kucing yang sudah terinfeksi. Sekitar 2-3 minggu setelah terinfeksi, kucing bisa mengeluarkan parasit pada kotorannya. Saat kucing menjilati bulunya, kemungkinan parasit akan tertinggal pada bulu kucing yang kemudian dapat berpindah pada manusia ketika membelainya. Oleh karena itu, ia bisa membahayakan ibu hamil. Jika parasit ini menginfeksi ibu hamil, maka ia bisa alami gangguan kehamilan seperti keguguran, kelahiran mati, atau toksoplasmosis kongenital yang menimbulkan kerusakan otak, kehilangan pendengaran, dan gangguan penglihatan pada bayi pada saat atau beberapa bulan atau tahun setelah dilahirkan.

Baca juga: Ketahui Komplikasi Akibat Toksoplasmosis

Lantas, Harus Apa untuk Mencegah Bahaya Bulu Kucing?

Ini bisa sangat sulit jika kamu adalah seorang penyayang binatang tetapi memiliki alergi pada hewan peliharaan. Coba chat dengan dokter di Halodoc terlebih dahulu untuk bertanya bagaimana sebaiknya memelihara kucing tanpa mengalami efek samping negatif. 

Cara paling utama saat memelihara kucing adalah dengan menjaga kondisi kesehatan hewan peliharaan dan juga kebersihan diri sendiri setelah melakukan kontak dengan hewan. Pastikan untuk selalu cuci tangan dengan sabun antibakteri setelah menyentuh kucing kesayangan, terutama sebelum menyiapkan makanan. Ajarkan juga hal tersebut pada anggota keluarga yang lain. Sebagai tindakan pencegahan lain, hindari lokasi bermain anak-anak yang mungkin terkontaminasi feses kucing.

Selalu periksakan juga kondisi kesehatan kucing ke dokter hewan. Infeksi dapat dideteksi dengan kunjungan rutin ke dokter hewan. Jika kamu atau anggota keluarga memiliki alergi terhadap bulu kucing, tapi tetap ingin memeliharanya, kamu disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis alergi dan imunologi.

Baca juga: Ini Alasan Hewan Kesayangan Harus Divaksin

Terakhir, pastikan juga agar kucing selalu bersih dan sehat, termasuk bulu dan cakarnya. Kucing senang menggali tanah dengan cakarnya, apabila kamu menemukan kucing melakukan hal tersebut, segera bersihkan kukunya dengan menggunakan sampo khusus. Hindari juga membiarkan kucing menaiki atau tidur di tempat tidur kamu meskipun ia dalam kondisi bersih. Pencegahan adalah langkah terbaik untuk menghindari bahaya bulu kucing. 

Referensi:
The Portugal News. Diakses pada 2019. Hypoallergenic Pets: Myths and Facts.
NHS Choices UK. Diakses pada 2019. Toxoplasmosis.
NHS Choices UK. Diakses pada 2019. Allergies.