Ketahui Mononukleosis, Penyakit yang Dapat Ditularkan karena Berciuman

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Ketahui Mononukleosis, Penyakit yang Dapat Ditularkan karena Berciuman

Halodoc, Jakarta – Ada banyak cara penularan penyakit yang bisa terjadi pada tubuh manusia, salah satunya melalui pertukaran air liur saat berciuman. Salah satu jenis penyakit yang rentan menyerang karena aktivitas ini adalah mononukleosis alias demam kelenjar. Apa itu?

Mononukleosis adalah infeksi yang terjadi karena serangan virus Epstein-Barr (EBV). Penularan virus ini terjadi melalui pertukaran cairan tubuh, terutama air liur. Selain EBV, penyakit yang juga disebut dengan nama demam kelenjar ini juga bisa disebabkan oleh jenis virus lainnya, seperti cytomegalovirus (CMV), toksoplasmosis, HIV, rubella, hepatitis A,B, atau C, serta adenovirus.

Baca juga: Beda dengan Anak-Anak, Ini Gejala Demam Mononukleosis pada Orang Dewasa

Pada awalnya, penyakit ini mungkin hanya menunjukkan gejala yang ringan. Tapi, mononukleosis sebenarnya adalah gangguan kesehatan yang sama sekali tidak boleh diabaikan. Pasalnya, gejala penyakit mononukleosis yang dibiarkan bisa jadi semakin parah dan dapat menghambat aktivitas sehari-hari dalam jangka waktu yang cukup lama.

Agar lebih jelas, simak penjelasan seputar penyebab, gejala, hingga pengobatan penyakit mononukleosis berikut.

Penyebab Mononukleosis

Penyebab utama dan yang paling sering memicu penyakit ini adalah virus Epstein-Barr (EBV). Virus ini bisa menyebar dari satu orang ke orang lain melalui pertukaran dan kontak langsung dengan air liur atau cairan tubuh lainnya. Demam kelenjar alias mononukleosis juga bisa menyerang seseorang yang terpapar virus cytomegalovirus (CMV), toksoplasmosis, HIV, rubella, hepatitis A,B, atau C, serta adenovirus. Virus penyebab penyakit ini bisa ditularkan melalui darah atau sperma dari orang yang sebelumnya sudah terinfeksi.

Ada berbagai aktivitas yang bisa meningkatkan risiko penyakit ini, di antaranya berciuman bibir, kebiasaan berbagai sikat gigi, batuk dan bersin, hubungan intim, transplantasi organ, serta menggunakan peralatan makan bersama tanpa dicuci terlebih dahulu. Kondisi ini bisa terjadi pada siapa saja, namun remaja menjadi kelompok yang paling rentan terhadap penyakit ini.

Baca juga: Hati-Hati, 5 Penyakit Ini Bisa Ditularkan Melalui Ciuman

Penyakit ini mulai menyerang saat air liur yang telah terinfeksi virus EBV masuk ke dalam tubuh. Virus penyebab penyakit ini akan mulai menginfeksi sel di permukaan dinding tenggorokan. Saat infeksi terjadi, tubuh akan secara alami mengeluarkan sel darah putih limfosit B untuk melawan infeksi tersebut.

Sayangnya, sel limfosit B yang berisi virus EBV ditangkap oleh sistem kelenjar getah bening yang tersebar di berbagai bagian tubuh. Hal itu malah kemudian menyebabkan virus tersebar luas di dalam tubuh orang yang mengalami infeksi dan membuat kondisi menjadi lebih buruk.

Gejala Mononukleosis

Setelah memasuki tubuh, virus EBV membutuhkan waktu “menetap” sebelum akhirnya menimbulkan gejala. Biasanya, virus akan menimbulkan gejala setelah dua bulan masuk ke dalam tubuh. Kabar buruknya, kondisi ini sering terlambat disadari karena gejala yang muncul hampir serupa dengan infeksi virus lainnya.

Gejala yang sering muncul sebagai tanda penyakit mononukleosis adalah demam, radang tenggorokan, serta pembengkakan kelenjar getah bening. Kondisi ini juga bisa memicu gejala lain, seperti sakit kepala, mudah lelah dan badan terasa lemas, nyeri otot, nafsu makan menurun, menggigil, hingga muncul bintik berwarna ungu atau merah tua di langit mulut.

Hingga kini masih belum ditemukan pengobatan untuk mengatasi kondisi ini. Tindakan medis pun tidak terlalu dibutuhkan, karena mononukleosis biasanya akan sembuh dengan sendirinya setelah beberapa minggu.

Baca juga: Bukan Penyakit Serius, Mononukleosis Bisa Timbulkan Komplikasi

Untuk mengatasi gejala dan mempercepat penyembuhan, bisa dilakukan dengan istirahat, perbanyak konsumsi air putih untuk menurunkan demam, dan kompres dengan air dingin atau panas.

Cari tahu lebih lanjut seputar mononukleosis dengan bertanya ke dokter di aplikasi Halodoc. Kamu bisa menghubungi dokter melalui Video/Voice Call dan Chat. Dapatkan informasi seputar kesehatan dan tips hidup sehat dari dokter terpercaya. Yuk, download Halodoc sekarang di App Store dan Google Play!