Awas, Nyeri Saat Berhubungan Intim Bisa Jadi Idap Vaginismus

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Awas, Nyeri Saat Berhubungan Intim Bisa Jadi Idap Vaginismus

Halodoc, Jakarta - Sering disepelekan, sebenarnya kamu harus tahu apa saja penyakit yang rentan menyerang organ saluran reproduksi. Bukan tanpa alasan, karena masalah tersebut berkaitan dengan kesuburan dan kemampuan untuk memiliki sang buah hati. Inilah mengapa kamu perlu memberikan perhatian lebih pada masalah kesehatan yang mengincar organ intim. 

Salah satunya adalah vaginismus, kondisi kejang otot pada bagian otot dasar panggul. Kondisi ini dapat menimbulkan rasa sakit yang membuat seorang wanita tidak memungkinkan untuk melakukan hubungan seks. Ketika berusaha dilakukan penetrasi, Miss V mengencang karena kontraksi otot panggul yang terjadi tanpa disengaja. 

Hal ini bisa menyebabkan kejang otot secara umum yang disertai dengan rasa sakit serta berhentinya saluran pernapasan dalam beberapa waktu. Kelompok otot yang rentan mengalami vaginismus adalah otot pubococcygeus. Kelompok otot ini bertanggung jawab untuk aktivitas seperti buang air kecil, berhubungan seks, orgasme, buang air besar, dan melahirkan. 

Baca juga: 3 Disfungsi Seksual yang Rentan Dialami Wanita

Apa yang Menjadi Penyebab Vaginismus dan Bagaimana Tandanya?

Vaginismus bisa terjadi karena stres fisik, emosional, atau paduan antara keduanya. Pemicu yang berkaitan dengan emosional ini termasuk:

  • Ketakutan pada sesuatu, seperti takut rasa sakit ketika melahirkan.

  • Kecemasan berlebihan yang bisa terjadi pada berbagai aspek.

  • Masalah hubungan, seperti memiliki pasangan yang cenderung kasar atau terlalu sensitif.

  • Pernah mengalami peristiwa yang sangat traumatik, seperti pelecehan seksual.

Sementara itu, pemicu yang berkaitan dengan fisik, di antaranya:

  • Infeksi, seperti infeksi saluran kencing atau infeksi ragi.

  • Kondisi kesehatan, seperti kanker atau lichen sclerosus.

  • Persalinan.

  • Operasi pelvis.

  • Pemanasan yang tidak memadai, sehingga penetrasi menjadi sulit dilakukan.

  • Pelumasan vagina tidak cukup

  • Efek samping penggunaan obat-obatan.

  • Menopause.

Baca juga: Berhubungan Intim Tanpa Foreplay Bisa Sebabkan Dispareunia

Gejala dari vaginismus sendiri bervariasi, bergantung pada masing-masing orang. Namun, yang paling umum termasuk hubungan seksual yang menyakitkan atau dispareunia, penetrasi menjadi sangat sulit, nyeri seksual jangka panjang tanpa sebab yang jelas, kejang otot menyeluruh atau berhentinya pernapasan selama percobaan penetrasi, dan rasa sakit ketika menjalani pemeriksaan ginekologis. 

Vaginismus tidak mencegah seseorang menjadi terangsang secara seksual, tetapi kecemasan mungkin terjadi ketika memikirkan tentang hubungan seks. Pada akhirnya, kondisi ini membuat wanita menghindari melakukan hubungan seksual atau penetrasi. 

Penanganan yang Tepat

Untuk mendiagnosis vaginismus, dokter akan memeriksa riwayat medis pengidap dan melakukan pemeriksaan pada bagian panggul. Perawatan yang dilakukan bertujuan untuk mengurangi pengetatan otomatis pada otot dan pengendalian rasa takut, sehingga penanganan mungkin dilakukan oleh ahli yang berbeda, bergantung pada penyebab yang mendasarinya. 

Baca juga: Engga Selalu Masalah Medis, Dispareunia Berkaitan dengan Emosional

Pengobatan yang dilakukan bisa mengombinasikan seperti latihan kontrol dasar panggul, konseling untuk mengatasi rasa takut dan kecemasan berlebihan, latihan kontrol emosional, dan mengurangi hipersensitivitas wanita terhadap sentuhan. Kondisi ini bisa membantu pengidap mengatasi rasa takut ketika dilakukan sentuhan atau penetrasi. 

Jika kamu merasakan salah satu dari gejalanya, jangan pernah ragu untuk bertanya pada dokter. Bisa saja gejala yang kamu rasakan juga mengarah pada kondisi medis yang berbeda. Kamu bisa bertanya melalui aplikasi Halodoc untuk mendapatkan informasi yang lebih akurat. Aplikasi Halodoc bisa kamu download langsung dari Play Store maupun App Store.