• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Pastikan Rasa Takut Anak pada Kotor Bukan OCD

Pastikan Rasa Takut Anak pada Kotor Bukan OCD

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim

Halodoc, Jakarta - Anak-anak berusia lima tahun, biasanya sedang gemar bermain di luar rumah bersama temannya. Mereka mungkin saling mengejar, main masak-masakan, atau banyak lagi. Tak jarang juga saat mereka pulang ke rumah, ibu menemukan baju mereka kotor akibat bermain. Namun, bagaimana jika suatu hari ibu menyadari bahwa Si Kecil tidak suka main kotor-kotoran. Atau bahkan takut terkena kotoran sehingga mereka lebih memilih bermain di dalam rumah?

Ada banyak sekali penyebab anak takut kotor. Namun, jika hal ini dibarengi dengan gejala lain ini bisa menjadi pertanda lain. Jika anak sering mencuci tangan dan merasa ingin selalu bersih, atau memerhatikan hal yang detail dan sering menunjukkan keraguan yang berulang, seperti mengecek isi tasnya untuk memastikan semua perlengkapan sekolahnya sudah ia bawa, ini bisa menjadi sedikit tanda bahwa anak mengalami obsessive-compulsive disorder (OCD). 

Baca juga: Jenis Gangguan Mental yang Dapat Memengaruhi Perkembangan Anak

Namun kamu tak perlu khawatir, semakin cepat kamu menyadari bahwa anak mengalami OCD, maka ini akan lebih mudah untuk segera diatasi.

OCD pada Anak-Anak

Obsessive-compulsive disorder adalah jenis gangguan kecemasan. Obsesi adalah pikiran yang berulang, sementara kompulsi adalah perilaku berulang. Anak dengan OCD memiliki pikiran obsesif yang tidak diinginkan. Gejala yang umum adalah rasa takut untuk menyentuh benda-benda kotor. Kemudian, ia menggunakan ritual kompulsif untuk mengendalikan ketakutan, seperti mencuci tangan yang berlebihan.

Anak dengan gangguan OCD juga kerap memiliki aturan saat bermain dan ia menginginkan agar semuanya berjalan tertib. Mereka memiliki langkah-langkah tertentu untuk diikuti dengan cara tertentu. Jika suatu langkah dilewati atau ada sesuatu yang tidak beres, mereka akan sangat kesal dan sering terlihat sangat cemas.

Ketika anak mengidap OCD, pikiran obsesif dan ritual kompulsif ini menjadi sangat sering dan kuat sehingga mengganggu kehidupan sehari-hari. Namun, OCD umumnya lebih sering dialami oleh remaja.

Penyebab OCD hingga kini tidak diketahui. Penelitian menunjukkan bahwa ini terkait dengan masalah di otak, yaitu tidak memiliki cukup zat kimia yang disebut serotonin di otak. Selain itu, OCD juga cenderung menurun dalam keluarga, sehingga bisa dikatakan bersifat genetik. Namun, OCD juga mungkin terjadi tanpa riwayat keluarga. 

Baca juga: Begini Pemeriksaan yang Dilakukan untuk Deteksi OCD

Jika Anak Mengalami OCD, Orangtua Perlu Lakukan Ini 

Mengasuh anak yang memiliki gangguan OCD bisa jadi sangat menantang. Namun, ada beberapa cara agar orangtua bisa mengatasinya. Pertama, orangtua harus mendapatkan informasi tentang OCD, khususnya yang dialami oleh anak-anak.

Orangtua harus memahami betul informasi tentang OCD, sehingga dengan begitu pola asuh bisa disesuaikan kemudian. Kamu juga bisa mendiskusikan hal ini dengan psikolog atau dokter spesialis kejiwaan melalui aplikasi Halodoc. Mereka akan memberikan saran yang tepat untuk membantu merawat anak dengan gangguan OCD. 

Sementara itu, orang tua juga perlu tahu beberapa fakta tentang mengenai OCD yang terjadi pada anak berikut:

  • Anak-anak dengan OCD sering kurang memiliki wawasan tentang obsesi mereka daripada orang dewasa dan mungkin belum memiliki kapasitas untuk memahami sifat irasional pemikiran mereka.
  • Isi obsesi anak bisa berbeda dari orang dewasa. Ritual atau paksaan anak-anak juga mungkin lebih cenderung melibatkan atau dipusatkan di sekitar anggota keluarga.
  • Pada kebanyakan kasus, pengobatan yang direkomendasikan saat ini untuk OCD onset masa kanak-kanak adalah kombinasi dari terapi perilaku kognitif individu atau kelompok (CBT). Namun, ketika gejala cukup parah, obat-obatan yang menambah tingkat serotonin neurokimia seperti inhibitor reuptake serotonin selektif (selective serotonin reuptake inhibitor - SSRI) akan diberikan. SSRI digunakan dengan hati-hati pada anak-anak dan remaja karena ada beberapa saran bahwa mereka dapat meningkatkan risiko bunuh diri pada kelompok usia ini.

Baca juga: 3 Hal yang Terjadi pada Anak dengan Orangtua OCD

Mempelajari lebih lanjut tentang OCD anak akan membantu mengurangi tingkat stres yang dialami orangtua dan membuatnya lebih mudah untuk mengatasinya dengan latihan di rumah. 

Referensi:
Cedars-Sinai. Diakses pada 2020. Obsessive-Compulsive Disorder (OCD) in Children.
 Nationwide Children’s Hospital. Diakses pada 2020. What Are Signs of OCD in Children and Teens?
Very Well Mind. Diakses pada 2020. How to Recognize Signs of OCD in Toddlers.