Pemeriksaan yang Dilakukan untuk Diagnosis Amiloidosis

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Pemeriksaan yang Dilakukan untuk Diagnosis Amiloidosis

Halodoc, Jakarta – Amiloidosis adalah penyakit yang terjadi karena adanya tumpukan zat amiloid pada organ-organ di tubuh. Zat amiloid merupakan protein abnormal yang diproduksi pada sumsum tulang dan dapat menumpuk pada jaringan tubuh maupun organ. Penyakit ini tergolong langka, namun jika penumpukan zat amiloid terjadi bisa menyebabkan gangguan pada kinerja dan bentuk organ.

Ada banyak organ tubuh yang bisa terserang amiloidosis, termasuk di antaranya jantung, ginjal, limfa, hati, saluran pencernaan, serta sistem saraf. Kabar buruknya, penyakit ini sering muncul tanpa memicu gejala tertentu. Itu membuat penyakit amiloidosis baru disadari setelah memasuki tahap yang lebih parah.

Baca juga: Awas, 3 Gangguan Jiwa Ini Sering Menimpa Pengidap Gagal Ginjal

Gejala yang muncul seringnya bersifat umum, seperti kesulitan saat menelan, mati rasa pada kaki dan tangan, perut terasa penuh, hingga sering merasa lelah dan lemas. Selain itu, amiloidosis juga bisa memicu nyeri pada persendian, diare, detak jantung tidak normal, berat badan menurun tanpa sebab, serta anemia alias jumlah sel darah merah menjadi rendah. Kondisi ini harus mendapat pengobatan yang tepat untuk menghambat perkembangan penyakit dan meredakan gejala yang terjadi.

Karena kemunculannya sering tidak disadari, dibutuhkan pemeriksaan oleh dokter untuk memastikan penyakit ini. Ada beberapa jenis pemeriksaan yang bisa dilakukan jika seseorang dicurigai mengalami penyakit ini. Di antaranya adalah:

  • Uji Laboratorium

Pada pemeriksaan ini, orang yang diduga mengidap amiloidosis akan diminta untuk menyerahkan sampel darah dan urine. Kemudian, sampel tersebut akan diteliti lebih lanjut di laboratorium. Selain sampel darah dan urin, pemeriksaan mungkin juga perlu dilakukan pada fungsi tiroid dan organ hati.

  • Biopsi

Memastikan amiloidosis juga bisa dilakukan melalui prosedur biopsi. Pada pemeriksaan ini, dokter akan mengambil sampel jaringan lunak dari tubuh. Kemudian, sampe akan diteliti untuk mengecek tanda-tanda amiloidosis. Biopsi bisa dilakukan pada jaringan tubuh bagian lemak perut, sumsum tulang, atau organ.

  • Uji Pencitraan

Orang yang diduga mengidap penyakit ini mungkin juga harus menjalani uji pencitraan. Pemindaian ini dilakukan pada organ yang terserang penyakit sekaligus membantu dokter mengidentifikasi tingkat keparahan amiloidosis yang menyerang.  

Baca juga: 5 Jenis Asupan Makanan untuk Pengidap Anemia

Penyebab dan Faktor Risiko Amiloidosis

Semua orang bisa terserang penyakit amiloidosis. Secara umum, penyakit ini terjadi karena adanya penumpukan zat amiloid pada tubuh. Penumpukan zat ini biasanya terjadi pada jaringan tubuh atau organ-organ yang berperang penting dalam tubuh manusia.  

Risiko penyakit ini disebut lebih tinggi pada beberapa orang. Penyakit ini disebut lebih rentan menyerang pria dibanding wanita, sebab kebanyakan pengidap amiloidosis adalah pria. Selain itu, faktor usia ternyata juga berpengaruh. Orang yang berusia lanjut disebut lebih berisiko mengalami amiloidosis.

Hingga kini belum ditemukan obat yang bisa menyembuhkan amiloidosis. Tapi, perawatan dibutuhkan untuk membantu mengatasi gejala serta mencegah kerusakan lebih lanjut. Salah satu cara yang sering disarankan untuk mencegah perkembangan penyakit ini adalah kemoterapi. Metode ini disebut dapat membantu menghentikan produksi amiloidosis.

Baca juga: Cegah Lemah Jantung Sejak Dini

Cari tahu lebih lanjut seputar amiloidosis dan komplikasi yang bisa terjadi dengan bertanya ke dokter di aplikasi Halodoc. Kamu bisa menghubungi dokter melalui Video/Voice Call dan Chat. Dapatkan informasi seputar kesehatan dan tips hidup sehat dari dokter terpercaya. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang di App Store dan Google Play!