Pengidap Diabetes Rentan Alami Kematian Jaringan, Kenapa?

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
diabetes, gangrene, kematian jaringan

Halodoc, Jakarta - Pengidap diabetes sangat rentan mengalami kematian jaringan atau yang disebut gangrene. Kondisi ini merupakan sebuah kematian jaringan tubuh akibat adanya infeksi atau kurangnya suplai darah. Gangrene sangat rentan terjadi pada kaki, karena diabetes dapat menyebabkan kerusakan pembuluh darah. Akibatnya, suplai darah dan oksigen ke jaringan perifer (ujung) berkurang dan juga rentan terhadap infeksi.

Gangrene diabetes merupakan sebuah kematian jaringan yang diakibatkan infeksi dan gangguan pembuluh darah pada pengidap diabetes. Pengidap diabetes yang rentan mengalami kematian jaringan (gangren) biasanya akan mengalami gejala seperti:

  1. Luka sembuh dalam waktu lama.

  2. Ujung luka kehitaman.

  3. Bau menyengat.

Apabila kamu mengalami gangrene, penanganan yang dapat kamu lakukan adalah menstabilkan gula darah supaya infeksi dapat dikontrol dan perawatan luka. Dengan begitu, luka dapat mengering dan sel dapat beregenerasi serta memperbaiki suplai darah ke daerah luka dengan metode hiperbarik atau metode lain. Cara tersebut dilakukan dengan harapan perbaikan luka berjalan dengan baik, sehingga kondisi gangrene yang lebih buruk dapat dicegah.

Baca juga: Kenali 6 Gejala Diabetes 1 dan 2

Namun, pada suatu kondisi ketika gangrene sudah cukup parah, satu-satunya penanganan yang dianggap sesuai adalah dengan melakukan amputasi atau pemotongan jaringan gangrene. Tindakan tersebut dilakukan supaya gangrene tidak meluas.

Komplikasi diabetes seperti kerusakan saraf (neuropati perifer) dan sirkulasi darah yang buruk memang akan menyebabkan berbagai macam masalah di beberapa bagian tubuh. Biasanya, bagian tubuh yang paling rentan terinfeksi akibat luka diabetes adalah kaki. Kerusakan ini dapat menyebabkan kamu tidak merasakan sakit, perih, dan nyeri di bagian kaki, sehingga kamu tidak dapat merasakan sesuatu ketika kaki terluka.

Diabetes juga akan menyebabkan pembuluh darah di kaki menjadi sempit dan mengeras, sehingga sirkulasi darah di dalam tubuh terhambat dan memburuk. Kondisi diabetes dengan sirkulasi darah yang buruk dapat membuat kaki diabetes tidak dapat melawan infeksi dan tidak mempunyai kemampuan untuk penyembuhan luka.

Baca juga: 5 Cara Sehat untuk Atasi Diabetes

Itulah mengapa kebanyakan pengidap diabetes tidak dapat merasakan ketika kakinya mengalami luka. Bahkan, mungkin mereka tidak menyadari bahwa kakinya sudah mengalami cedera sampai kulitnya rusak dan terinfeksi. Saat kaki mengalami luka yang tidak segera diobati, akan memicu ulkus atau gangrene hingga kaki menjadi busuk dan munculah borok. Hal ini nantinya akan menyebabkan kerusakan parah pada jaringan dan tulang. Apabila infeksi tidak dapat dihentikan atau kerusakan tidak dapat diperbaiki, perlu dilakukan amputasi.

Apakah Setiap Luka Harus Diamputasi?

Tidak semua luka pengidap diabetes harus berakhir dengan amputasi. Tindakan amputasi bukan satu-satunya cara mengatasi luka pada diabetes. Biasanya, para tenaga medis di tempat kamu berobat akan memberikan edukasi berupa perawatan luka yang tepat dan benar pada pengidap diabetes untuk meminimalisir komplikasi pada luka yang mereka alami. Maka itu, perawatan luka pada pengidap diabetes sangatlah penting.

Baca juga: Cegah Dampak Diabetes dengan Cara Ini

Apabila sejak awal pengidap diabetes mampu merawat lukanya dengan benar, tidak tindakan amputasi tidak perlu dilakukan. Sebanyak 85 persen pengidap diabetes diamputasi berawal dari luka sederhana yang tidak dirawat dengan baik. Luka tersebut kemudian menjadi melebar dan parah, sehingga menimbulkan komplikasi. Apabila sudah begini, amputasi memang dapat jadi alternatif terakhir.

Sebelum kamu mengambil langkah apapun terkait gangguan diabetes yang kamu alami, ada baiknya kamu mendiskusikannya terlebih dahulu dengan dokter melalui aplikasi Halodoc. Diskusi dengan dokter di Halodoc dapat dilakukan via Chat atau Voice/Video Call kapan dan di mana saja. Saran dokter dapat diterima dengan praktis dengan cara download aplikasi Halodoc di Google Play atau App Store sekarang juga.