Pengidap Gagal Ginjal Kronis Juga Bisa Bertahan Lebih Lama

Ditinjau oleh: dr. Gabriella Florencia
Pengidap Gagal Ginjal Kronis Juga Bisa Bertahan Lebih Lama

Halodoc, Jakarta - Gagal ginjal kronis (GGK) atau chronic kidney disease, terjadi ketika ginjal kehilangan kemampuan untuk menjalankan tugasnya, yaitu menyaring darah. Ginjal yang sehat bertugas untuk menyaring darah dengan cara memisahkan zat berbahaya dan cairan berlebih dari dalam tubuh, untuk dikeluarkan melalui urine.

Baca juga: Perlu Diketahui, Ini 5 Komplikasi Gagal Ginjal Kronis

Penyakit ini merupakan penyakit menahun, yang merupakan stadium akhir atau terparah dari gagal ginjal. Itulah mengapa gagal ginjal kronis tidak akan dapat menurun stadiumnya. Tidak ada salahnya untuk mengetahui gejala yang menjadi tanda awal dari kondisi gagal ginjal kronis, seperti lebih mudah lelah, tidak bersemangat, penurunan nafsu makan, gangguan tidur, kulit kering, frekuensi BAK pada malam hari meningkat dan nyeri otot.

Dilansir dari National Kidney Foundation, mendeteksi penyakit ini lebih awal dapat mencegah kondisi menjadi lebih parah. Tidak ada salahnya untuk lakukan pemeriksaan pada rumah sakit terdekat ketika mengalami gejala yang menjadi tanda gangguan pada ginjal. Kini kamu bisa membuat janji dengan dokter secara online melalui aplikasi Halodoc.

Beberapa cara ditempuh agar pengidap gagal ginjal kronis dapat bertahan, yaitu dengan 3 tahap pengobatan berikut ini:

  1. Mengubah Gaya Hidup

Tidak ada salahnya untuk menjalani gaya hidup sehat agar kondisi gagal ginjal yang kamu alami tidak semakin parah. Berhenti melakukan kebiasaan merokok, mengonsumsi makanan yang sehat, menjalankan diet sehat, membatasi asupan garam yang masuk dalam tubuh, melakukan pelatihan fisik dengan menjalankan olahraga secara rutin dan memiliki berat badan yang ideal adalah gaya hidup yang perlu diterapkan oleh pengidap gagal ginjal kronis.

Baca juga: 5 Tanda Awal Gagal Ginjal yang Perlu Diketahui

  1. Penggunaan Obat Sesuai dengan Catatan Medis

Penggunaan obat sebaiknya dilakukan dengan pengawasan dokter atau catatan tim medis. Obat-obatan yang dikonsumsi disesuaikan dengan gangguan kesehatan yang dialami oleh seseorang sehingga menyebabkan kondisi gagal ginjal kronis.

  1. Dialisis

Dialisis merupakan salah satu terapi yang bisa dilakukan oleh pengidap gagal ginjal kronis untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Dilansir dari Stanford Health Care, terapi dialisis terdapat dua jenis yang berbeda, yaitu:

  • Hemodialisis

Metode cuci darah jenis ini cukup populer dan banyak dipilih. Prosedur penyaringan darah dilakukan menggunakan mesin khusus, yang akan bekerja layaknya ginjal. Pada proses hemodialisis, petugas medis memasukkan jarum pada pembuluh darah untuk menghubungkan aliran darah dari tubuh ke mesin pencuci darah. Kemudian, darah kotor disaring pada mesin tersebut, dan darah bersih yang tersaring akan dialirkan kembali ke dalam tubuh.

Prosedur hemodialisis biasanya menghabiskan waktu sekitar empat jam per sesi. Pengidap gagal ginjal kronis yang memilih metode cuci darah jenis ini akan diharuskan untuk menjalani 3 sesi dalam seminggu secara rutin. Pada sebagian besar kasus, hemodialisis menimbulkan efek samping berupa gatal-gatal pada kulit dan kram otot.

Baca juga: Inilah yang Dimaksud dengan Gagal Ginjal Kronis

  • Peritoneal Dialysis (PD)

Peritoneal dialysis (PD) adalah metode cuci darah yang memanfaatkan peritoneum atau selaput dalam rongga perut, sebagai penyaring. Selaput ini dipilih lantaran memiliki ribuan pembuluh darah kecil yang berfungsi selayaknya ginjal. Pada prosedur peritoneal dialysis, sayatan kecil dibuat di dekat pusar untuk jalan masuk kateter atau selang khusus.

Kateter itu nantinya akan ditinggal di dalam rongga perut secara permanen. Fungsinya adalah untuk memasukkan cairan dialisat, yaitu cairan yang mengandung gula tinggi untuk menarik zat limbah dan kelebihan cairan dari pembuluh darah sekitar, ke dalam rongga perut.

Setelah selesai, cairan dialisat yang sudah mengandung zat sisa akan dialirkan ke kantong khusus, yang akan dibuang nantinya, lalu diganti dengan cairan baru.

Referensi:
Stanford Health Care. Diakses pada 2019. Dialysis
NHS UK. Diakses pada 2019. Chronic Kidney Disease
National Kidney Foundation. Diakses pada 2019. About Chronic Kidney Disease