06 November 2018

Pengidap Servisitis Kronis Apakah Bisa Hamil?

Servisitis Kronis, penyakit rahim

Halodoc, Jakarta - Apa kamu pernah mendengar istilah servisitis? Kondisi ini merupakan peradangan yang terjadi pada serviks atau leher rahim. Serviks merupakan bagian paling bawah dari rahim yang terhubung dengan miss V. Servisitis juga dikenal sebagai infeksi serviks, pembengkakan, dan keadaan peradangan pada saluran serviks. Kondisi ini bisa disebabkan oleh infeksi, jamur, atau parasit.

Jika servisitis tidak segera diobati, akan menyebabkan peradangan serviks yang berujung pada kondisi kronis. Peradangan ini dapat ditunjukkan dengan perdarahan dari miss V di luar waktu menstruasi, terasa nyeri pada saat berhubungan intim, serta keluarnya cairan abnormal dan berbau dari miss V.

Servisitis dapat terjadi secara akut, terjadi secara tiba-tiba dan langsung parah, atau secara kronis berkembang dalam waktu yang lama. Sebagian besar pengidap servisitis tidak merasakan gejala apa pun. Namun, jika gejala-gejalanya muncul, dapat berupa seperti:

  1. Buang air kecil yang sering dan terasa sakit.

  2. Nyeri pada panggul disertai dengan demam.

  3. Sakit pada bagian punggung atau perut.

  4. Adanya perdarahan pada miss V setelah berhubungan intim.

  5. Keluar cairan dari miss V yang tidak biasa dan dalam jumlah yang banyak. Cairan ini biasanya berwarna kuning pucat keabu-abuan, disertai dengan bau yang tidak sedap.

Jika kondisi ini tidak segera ditangani, servisitis yang terjadi karena infeksi dapat menyebar hingga ke rongga perut, menimbulkan gangguan kesuburan, mengurangi kekebalan rahim dan miss V, meningkatkan risiko terkena penyakit menular seksual, serta masalah pada janin bagi ibu yang sedang hamil.

Servisitis terjadi dengan beberapa penyebab, antara lain:

  1. Memiliki riwayat penyakit menular seksual.

  2. Adanya bakteri baik yang tidak terkendali di dalam miss V.

  3. Iritasi atau cedera pada miss V akibat dari pemakaian tampon.

  4. Telah melakukan dan aktif berhubungan intim sejak usia muda.

  5. Infeksi virus seperti herpes simpleks atau virus HPV yang menyebabkan herpes genital.

  6. Melakukan hubungan intim yang tidak aman, contohnya terlalu sering berganti pasangan dan melakukannya tanpa menggunakan pengaman.

  7. Reaksi alergi terhadap spermisida (zat yang dapat mematikan sperma) atau bahan lateks dari alat-alat kontrasepsi, serta produk-produk kewanitaan.

  8. Ketidakseimbangan hormon, yaitu kadar estrogen jauh lebih rendah dibanding dengan kadar progesteron. Akibatnya, kemampuan tubuh dalam mempertahankan kesehatan serviks akan terganggu.

Servisitis dapat menjadi parah jika berkembang lebih lanjut, dan ditandai dengan adanya luka yang terbuka atau keluarnya nanah dari miss V. Penanganan penyakit ini dilakukan berdasarkan penyebab dan tingkat keparahannya. Berikut ini adalah beberapa cara yang dapat dilakukan agar tidak terkena penyakit ini, antara lain:

  1. Hindari pemakaian produk-produk kewanitaan yang mengandung parfum. Hal ini dikarenakan produk kewanitaan yang mengandung parfum dapat menyebabkan iritasi pada bagian kewanitaan maupun serviks.

  2. Mempraktekkan hubungan intim yang aman. Seperti tidak berganti-ganti pasangan atau menggunakan pengaman pada saat berhubungan. Hal ini dilakukan untuk mencegah penyebaran infeksi seksual, seperti klamidia, gonore, herpes simplex, HIV, dan HPV.

  3. Jangan menggunakan obat-obatan tanpa anjuran dokter.

  4. Jangan mencuci miss V menggunakan sabun. Diskusikan dengan dokter untuk mengetahui metode dan jenis produk yang cocok untuk kamu.

  5. Lakukan pemeriksaan pap smear secara teratur.

Disarankan untuk segera berdiskusi dengan dokter apabila kamu menemui salah satu gejala servisitis pada organ intim kamu. Dengan Halodoc, kamu bisa berdiskusi di mana dan kapan pun melalui Chat atau Voice/Video Call. Selain itu, kamu juga dapat membeli obat dan akan diantar ke rumah kamu dalam waktu satu jam. Yuk, download aplikasinya segera!

Baca juga: