Pengobatan untuk Mengatasi Schistosomiasis

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
 Schistosomiasis, infeksi cacing parasit

Halodoc, Jakarta - Pernah mendengar istilah infeksi cacing yang bernama schistosomiasis sebelumnya? Istilah ini mungkin masih jarang terdengar di telinga kamu. Penyakit yang satu ini merupakan infeksi yang disebabkan oleh cacing parasit yang bernama Schistosoma. Spesies cacing ini sering ditemukan pada air tawar, seperti di danau, kolam, sungai, atau waduk.

Schistosomiasis punya nama lain, yaitu bilharzia. Biasanya, parasit yang menyebabkan schistosomiasis ini menempel pada badan siput. Karena hal itu, orang-orang lebih umum mendengar schistosomiasis dengan demam siput. Jika sudah terjadi, bagaimana langkah pengobatan untuk pengidap schistosomiasis?

Baca juga: Kenali Prosedur Pengobatan untuk Atasi Varises Esofagus

Begini Langkah Pengobatan untuk Atasi Schistosomiasis

Pada kasus yang ringan, penanganan pada awal schistosomiasis dapat dilakukan dengan pemberian obat cacing, yaitu praziquantel. Namun, obat ini hanya efektif dalam melumpuhkan cacing dewasa, dan tidak efektif untuk cacing kecil maupun telur cacing. Untuk itu, perlu pemberian ulang obat setelah beberapa minggu.

Untuk menghindari penyebaran parasit yang satu ini, sebaiknya kamu berhati-hati dengan kebersihan air pada tempat yang kamu kunjungi. Beberapa hal yang dapat kamu lakukan sebagai langkah pencegahan penyebaran demam siput, antara lain:

  • Jangan berenang di sembarang tempat.

  • Menyaring dan memasak air sampai benar-benar matang.

  • Jika kamu menyukai travelling, gunakan celana dari bahan karet sebelum menyusui perairan.

Belum ada vaksin yang dapat mencegah schistosomiasis pada seseorang. Karena hal tersebut, kamu harus selalu waspada jika berada di alam terbuka yang dikelilingi dengan banyak air tawar. Jika kamu merasakan gejala schistosomiasis saat sedang travelling, jangan lupa untuk segera diskusikan dengan dokter ahli Halodoc. Dengan aplikasi ini, kamu dapat dengan mudah mengakses kesehatan hanya dengan smartphone di tanganmu.

Baca juga: 3 Jenis Parasit Cacing yang Hidup dalam Tubuh Manusia

Agar Tidak Terinfeksi, Kenali Gejala Schistosomiasis

Gejala biasanya tidak akan muncul sampai beberapa bulan hingga beberapa tahun setelah pengidap terinfeksi parasit. Namun, pada beberapa pengidap, gejala bisa langsung muncul beberapa saat setelah mereka terinfeksi parasit. Gejala dapat berupa iritasi pada kulit, gatal, ruam merah pada tubuh, serta adanya benjolan pada kulit.

Parahnya, gejala bisa saja muncul setelah beberapa bulan seseorang terinfeksi parasit. Gejala yang muncul pada pengidap kondisi ini akan meliputi demam tinggi, pusing, nyeri pada tubuh, menggigil, gatal yang disertai dengan ruam pada kulit, nyeri saat buang air kecil, batuk, diare, nyeri otot, serta batuk-batuk. Namun, jika infeksi sudah masuk ke dalam tahap kronis, gejala yang muncul meliputi:

  • Rasa nyeri pada dada.

  • Pembengkakan pada daerah perut, kelenjar limpa, atau ginjal.

  • Napas tersengal-sengal disertai dengan batuk.

  • Mudah merasa lelah.

  • Jantung berdetak lebih cepat.

  • Cairan urine dan feses mengandung darah.

  • Muncul lesi pada bagian tubuh yang terkena.

  • Saraf tulang belakang mengalami peradangan.

  • Mengalami sejumlah kerusakan organ, seperti kandung kemih, hati, paru-paru, atau usus.

Baca juga: Masih Perlukah Orang Dewasa Minum Obat Cacing?

Untuk menghindari infeksi yang lebih serius, segera diskusikan dengan dokter jika kamu menemukan gejalanya, ya! Jangan lupa untuk selalu berhati-hati jika menemukan air tawar, karena air ini berpotensi memiliki parasit schistosomiasis. Jangan sampai terlambat untuk melakukan langkah penanganan, karena komplikasi yang membahayakan nyawa bisa saja mengintaimu. Jadi, selalu awasi kesehatanmu di mana pun kamu berada.