• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Penjelasan Lengkap Gangguan Kepribadian Pasif-Agresif

Penjelasan Lengkap Gangguan Kepribadian Pasif-Agresif

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Penjelasan Lengkap Gangguan Kepribadian Pasif-Agresif

Halodoc, Jakarta - Gangguan kepribadian pasif-agresif (PAPD) menyebabkan seseorang mengekspresikan perasaan dan emosi negatif secara halus atau pasif, daripada secara langsung. Hal ini sering kali menimbulkan kontradiksi antara apa yang mereka katakan dan lakukan.

Menurut American Psychological Association (APA), gangguan kepribadian pasif-agresif adalah gangguan yang sudah lama berdiri di mana ambivalensi terhadap diri sendiri dan orang lain diekspresikan dengan ekspresi pasif dari negativisme yang mendasarinya.

Baca juga: Apakah Olahraga Dapat Meminimalisir Gangguan Kepribadian?

Mengenal Gangguan Kepribadian Pasif-Agresif

Dalam definisi APA, istilah "ambivalensi" artinya seseorang memiliki perasaan atau sikap yang kontradiktif terhadap diri mereka sendiri, situasi, peristiwa, atau seseorang.

Dengan kata lain, pengidap gangguan kepribadian pasif-agresif tidak mampu mengungkapkan dan mengekspresikan emosi negatif di dalam dirinya. Mereka tidak mampu mengungkapkan perasaan marah, sedih, penolakan, atau kecewa secara terbuka, sehingga tidak sesuai dengan ucapan dan perilaku.

Contohnya, mereka mungkin dengan antusias setuju bertemu untuk makan siang, namun akhirnya “melupakan” pertemuan tersebut atau tidak muncul tanpa penjelasan.

Orang dengan gangguan kepribadian pasif-agresif cenderung mengekspresikan pikiran dan perasaan mereka secara pasif atau tidak langsung, daripada mengatasinya secara langsung. Pikiran dan perasaan ini sering kali mewakili pola pikir negatif, atau negativisme.

Menurut APA, negativisme adalah sikap yang ditandai dengan penolakan terus-menerus terhadap saran orang lain, atau kecenderungan untuk bertindak dengan cara yang bertentangan dengan harapan, permintaan, atau perintah orang lain, tanpa dapat diidentifikasi. 

Orang dengan gangguan kepribadian pasif-agresif cenderung melanjutkan perilaku pasifnya, meskipun memiliki kemampuan untuk beradaptasi dan mempelajari perilaku baru. Bergantung pada seberapa parahnya, gangguan ini dapat mengganggu kesuksesan seseorang dengan hubungan interpersonal, pendidikan, dan pekerjaan.

Baca juga: Sering Berbohong, Bisa Jadi Alami Gangguan Kepribadian

Apa Penyebab Gangguan Kepribadian Pasif-Agresif?

Masih belum jelas mengapa gangguan kepribadian pasif-agresif bisa terjadi. Namun, gangguan ini diduga terjadi akibat beberapa kombinasi faktor berikut ini:

  • Genetik atau keturunan.
  • Tumbuh di lingkungan yang kasar atau di mana ada penyalahgunaan zat.
  • Sering dihukum saat masih kecil, karena mengungkapkan kemarahan atau emosi negatif atau menentang pikiran atau perasaan.
  • Tidak belajar bagaimana menegaskan diri sendiri selama masa kanak-kanak.
  • Gangguan dalam hubungan anak dengan figur otoritas, seperti orangtua, pengasuh, atau guru.

Selain itu, beberapa orang bisa lebih berisiko mengalami gangguan kepribadian pasif-agresif karena mengidap kondisi kesehatan mental lainnya. Di antaranya seperti, gangguan kecemasan, skizofrenia, gangguan bipolar, gangguan belajar atau perhatian, dan gangguan kepribadian narsistik.

Mengenali Gejala Gangguan Kepribadian Pasif-Agresif

Seseorang dengan gangguan kepribadian pasif-agresif cenderung mengalami keterputusan antara apa yang mereka katakan dan lakukan. Meskipun gangguan dapat bermanifestasi dalam berbagai cara, gejala umumnya meliputi:

  • Menunda menyelesaikan tugas yang awalnya secara sukarela dilakukan.
  • Sengaja membuat kesalahan atau melewatkan tenggat waktu untuk proyek, tugas, atau acara.
  • Sengaja tidak muncul untuk rapat, janji temu, atau acara atau pertemuan sosial.
  • Bertindak terlalu keras kepala.
  • Sengaja salah meletakkan dokumen penting untuk menghindari proyek kerja, perjalanan, janji medis, atau pertemuan keluarga.
  • Mengeluh secara berlebihan tentang kemalangan pribadi.
  • Menolak tugas sosial atau pekerjaan rutin tanpa alasan yang jelas.
  • Mengungkapkan cemoohan atau mengkritik otoritas.
  • Merasa iri dan kesal terhadap yang relatif beruntung.
  • Menjadi argumentatif.
  • Bergantian antara permusuhan dan penyesalan.
  • Memiliki sikap agresif, pesimis, atau sinis.
  • Menyalahkan orang lain atas perasaan atau tindakannya sendiri.
  • Mengalami perasaan tidak mampu atau harga diri rendah.
  • Bertindak dingin atau dendam terhadap orang lain tanpa menjelaskan alasannya.

Baca juga: 5 Gangguan Kepribadian dengan Rasa Cemas Berlebihan

Jika kamu merasa mengalami gejala tersebut, atau ada orang terdekat yang menunjukkan sikap seperti itu, sebaiknya minta bantuan ahli, seperti psikolog atau psikiater. Meski tidak ada pengobatan khusus untuk gangguan ini, psikolog atau psikiater dapat membantu kamu mengidentifikasi, menangani, dan berhenti terlibat dalam perilaku dan tindakan yang kontradiktif.

Agar lebih mudah, gunakan saja aplikasi Halodoc untuk buat janji dengan psikiater di rumah sakit, guna menjalani konsultasi. Bekerja dengan konselor atau psikiater, misalnya, dapat membantu mereka mengembangkan strategi koping yang aman dan efektif yang memungkinkan kamu menikmati hidup yang lebih memuaskan.

Referensi:
American Psychological Association. Diakses pada 2021. Passive Aggressive Personality.
Medical News Today. Diakses pada 2021. What Is Passive-Aggressive Personality Disorder?
Healthline. Diakses pada 2021. Passive Aggressive Personality.