Masih Terjadi, Benarkah Penyebaran Virus Ebola Sulit Dikendalikan?

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Masih Terjadi, Benarkah Penyebaran Virus Ebola Sulit Dikendalikan?

Halodoc, Jakarta – Ebola adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang gejala awalnya dapat berupa demam mendadak, kelemahan hebat, nyeri otot, dan sakit tenggorokan. Dan itu baru permulaan, tahap selanjutnya adalah muntah, diare, dan dalam beberapa kasus perdarahan internal dan eksternal.

Penyakit ini menginfeksi manusia melalui kontak dekat dengan hewan yang terinfeksi, termasuk simpanse, kelelawar buah, dan kijang hutan. Kemudian, menyebar dari satu orang ke orang lain melalui kontak langsung dengan darah yang terinfeksi, cairan tubuh atau organ, ataupun secara tidak langsung melalui kontak dengan lingkungan yang terkontaminasi.

Bahkan, pemakaman korban ebola bisa menjadi risiko jika pelayat memiliki kontak langsung dengan tubuh almarhum. Masa inkubasi dapat berlangsung dari dua hari hingga tiga minggu dan diagnosisnya sulit. Sejauh ini penyebarannya masih terbatas pada Afrika, meskipun satu jenis telah muncul di Filipina. Petugas kesehatan berisiko jika mereka merawat pengidap tanpa mengambil tindakan pencegahan yang tepat untuk menghindari infeksi.

Baca juga: Alasan Virus Ebola Bisa Jadi Masalah Global

Orang bisa menularkan virus ke orang lainnya selama darah dan sekresi mereka mengandung virus. Bahkan dalam beberapa kasus, penularan bisa terjadi hingga tujuh minggu setelah mereka pulih.

Wabah ebola terjadi terutama di desa-desa terpencil di Afrika Tengah dan Barat, dekat hutan hujan tropis, kata WHO. Negara-negara yang paling sering terkena dampak adalah lebih jauh ke timur, seperti Republik Demokratik Kongo, Uganda, dan Sudan. Wabah ini tidak biasa karena berpusat di Guinea, yang belum pernah terkena dan menyebar ke daerah perkotaan.

Wabah ini dimulai di Nzerekore, sebuah daerah terpencil di Guinea tenggara, namu sekarang telah mencapai ibukota Conakry. Empat orang tewas di negara tetangga Liberia. Sierra Leone telah melaporkan lima kasus yang dicurigai, namun belum ada yang dikonfirmasi.

Baca juga: Sempat Mewabah, Bagaimana Penyakit Ebola Diobati?

Salah satu kematian di Liberia adalah dari seorang perempuan yang menikah dengan warga negara Guinea. Dia meninggal di Liberia, namunterserang penyakit di Guinea. Hindari kontak dengan pengidap ebola dan cairan tubuh mereka adalah cara yang bisa dilakukan untuk pencegahan penularan.

Menurut WHO, jangan pernah menyentuh apapun, seperti handuk bersama yang mungkin terkontaminasi di tempat umum. Penyedia layanan kesehatan harus mengenakan sarung tangan dan peralatan pelindung, seperti masker dan mencuci tangan secara teratur.

WHO juga memperingatkan agar tidak mengonsumsi daging mentah dan kontak dengan kelelawar atau kera yang terinfeksi. Kelelawar buah khususnya adalah konsumsi yang biasa di daerah Guinea, namun justru menjadi sumber di mana wabah dimulai.

Baca juga: Virus Ebola Bisa Menular Melalui Air Mani Pria, Benarkah?

Diperlukan lebih banyak data pengawasan dan penelitian tentang risiko penularan melalui hubungan intim dan khususnya pada prevalensi virus yang dapat hidup dan menular dalam air mani dari waktu ke waktu. Untuk sementara dan berdasarkan bukti saat ini, WHO merekomendasikan:

Semua penyintas ebola dan pasangan seksual mereka harus menerima konseling untuk memastikan praktik seksual yang aman sampai air mani mereka dua kali dinyatakan negatif. Korban harus diberikan kondom. Orang yang selamat dari ebola dan pasangan seksualnya harus melakukan hubungan intim yang aman, seperti penggunaan kondom secara benar dan konsisten.

Kalau kamu terinfeksi ebola, tidak banyak banyak yang dilakukan. Sampai saat ini masih terus dilakukan pengujian terhadap obat baru. Pengidap sering mengalami dehidrasi membuat mereka harus minum larutan yang mengandung elektrolit atau menerima cairan intravena.

Kalau ingin mengetahui lebih banyak mengenai penyebaran virus ebola, bisa tanyakan langsung ke Halodoc. Dokter-dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor, kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.