11 December 2017

Sedang Mewabah, Kenali Gejala Difteri dan Cara Mencegahnya

Sedang Mewabah, Kenali Gejala Difteri dan Cara Mencegahnya

Halodoc, Jakarta – Belakangan ini, masyarakat Indonesia sedang dicemaskan oleh mewabahnya penyakit difteri. Menurut data Kementrian Kesehatan, hingga November 2017 tercatat sebanyak 11 provinsi melaporkan kejadian luar biasa difteri dengan 32 kasus di antaranya meninggal dunia. Daftar kasus difteri terus meningkat hingga mencapai ratusan di berbagai daerah.

Sebenarnya sebelum tahun 2017, wabah difteri juga pernah terjadi pada tahun 2009. Penyebab mewabahnya penyakit difteri adalah menurunnya minat orangtua memberikan imunisasi pada anak. Padahal, penyakit difteri ini bisa dicegah sejak dini dengan pemberian imunisasi, lho.

Apa itu difteri?

Difteri adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diptheriae yang umumnya menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan. Terkadang, penyakit ini pun memengaruhi kulit. Termasuk dalam jenis penyakit serius yang sangat menular, difteri pun bisa berakibat fatal bagi pengidapnya.

Penularan Difteri

Bakteri Corynebacterium Diptheriae menyebar dengan sangat mudah, apalagi pada orang yang belum pernah diberikan vaksin difteri. Penularannya pun dengan cara-cara umum sederhana seperti:

  • Ketika seseorang menghirup udara yang mengandung percikan air liur pengidap saat bersin atau batuk.
  • Kontak langsung dengan luka borok pada kulit pengidap. Biasanya penularan ini terjadi oleh pengidap yang tinggal di lingkungan yang kurang bersih.
  • Melalui barang yang terkontaminasi oleh bakteri, seperti handuk, alat makanan, dan lain-lain.

Mengapa bakteri difteri ini bisa berakibat fatal? Alasannya adalah karena bakteri ini menghasilkan racun yang membunuh sel-sel sehat dalam tenggorokan. Akhirnya, kumpulan sel mati ini membentuk lapisan abu-abu pada tenggorokan. Racun dari bakteri juga dapat menyebar ke aliran darah, sehingga menyebabkan kerusakan pada jantung, ginjal dan sistem saraf.  

Gejala Difteri

Umumnya, butuh waktu sekitar 2 sampai 5 hari untuk gejala difteri muncul setelah masuk ke dalam tubuh. Namun sayangnya, kadang penyakit ini tidak menunjukkan gejala apapun. Secara umum, penyakit difteri dapat dikenali dari gejala-gejalanya, seperti sakit kepala, demam dan menggigil, sakit tenggorokan dan suara serak, sulit bernapas, lemas, adanya lapisan yang menutupi tenggorokan dan amandel, pilek, serta leher membengkak.

Pengobatan Difteri

Umumnya, jika seseorang mengalami gejala serta diduga terkena difteri maka ia harus dirawat inap di ruangan isolasi di rumah sakit untuk mencegah penularan. Dua jenis obat yang diberikan adalah antibiotik dan antitoksin. Umumnya, pemberian antibiotik bertujuan untuk membunuh bakteri dan menyembuhkan infeksi. Sedangkan, antitoksin diberikan untuk menetralisir racun yang sudah menyebar dalam tubuh. Selain pengidap, orang-orang yang berada di sekitar pengidap, khususnya orang yang melakukan kontak langsung juga harus diperiksa dan diberikan imunisasi untuk mencegah penularan difteri.

Pencegahan Difteri

Hanya dengan menjaga kebersihan, serta banyak makan sayur dan buah saja tidak cukup untuk mencegah penyakit difteri. Pencegahan paling efektif untuk penyakit ini adalah dengan imunisasi. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyarankan untuk imunisasi difteri lengkap sesuai usia sebagai berikut:

    • Usia kurang dari 1 tahun harus mendapatkan 3 kali imunisasi difteri (DPT).
    • Anak usia 1 sampai 5 tahun harus mendapatkan imunisasi ulangan sebanyak 2 kali.
    • Anak usia sekolah harus mendapatkan imunisasi difteri melalui program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) siswa sekolah dasar (SD) kelas 1, kelas 2, dan kelas 3 atau kelas 5.
    • Setelah itu, imunisasi ulangan dilakukan setiap 10 tahun, termasuk orang dewasa. Apabila status imunisasi belum lengkap, segera lakukan imunisasi di fasilitas kesehatan terdekat.

ORI (Outbreak Response Immunization)

Untuk menanggulangi wabah difteri yang terjadi di Indonesia, kini pemerintah mengadakan pemberian ORI atau imunisasi penanganan kejadian luar biasa pada daerah yang terkena kasus difteri. Mulai tanggal 11 Desember 2017, program ORI akan diadakan di tiga provinsi yang paling banyak terjadi kasus difteri, yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten. Program ini akan diadakan secara berkala pada 11 Desember 2017, 11 Januari 2018 dan 11 Juli 2018.

Hati-hati jika kamu atau orang-orang di sekitarmu mengalami gangguan kesehatan yang menyerupai gejala difteri. Segera periksakan diri ke dokter untuk melakukan pengobatan. Kamu juga bisa mendiskusikan masalah kesehatan dengan dokter melalui aplikasi Halodoc. Hubungi dokter melalui Chat dan Voice/Video Call untuk meminta saran-saran kesehatan kapan saja dan di mana saja. Kamu juga bisa membeli berbagai produk kesehatan di Halodoc. Caranya sangat mudah, tinggal order lewat aplikasi dan pesananmu akan diantarkan dalam waktu satu jam. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang di App Store dan Google Play.