• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Kenali Gejala dan Cara Pencegahan Difteri yang Dapat Mematikan

Kenali Gejala dan Cara Pencegahan Difteri yang Dapat Mematikan

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani

Halodoc, Jakarta - Virus dan bakteri memang merupakan penyebab umum yang dapat membuat seseorang menjadi sakit. Ketika gangguan tersebut telah menginfeksi tubuh, maka gangguannya mulai bekerja. Salah satu penyakit yang dapat terjadi dan dapat mematikan adalah difteri. Gangguan ini telah beberapa kali menimbulkan kasus yang besar.

Penyebarannya yang terjadi melalui udara dapat mudah menular dari satu orang ke orang lain. Disebutkan apabila penyakit ini dapat mencatatkan kasus baru tiap bulannya, terutama pada tahun lalu. Maka dari itu, kamu harus tahu gejala dan cara mencegah difteri agar mudah untuk diatasi. Berikut pembahasan tentang hal tersebut!

Baca juga: Kenapa Difteri Lebih Mudah Menyerang Anak-anak?

Gejala dan Cara Pencegahan Difteri

Difteri adalah salah satu penyakit yang dapat menyebabkan ancaman serius hingga berdampak pada kematian jika terjadi. Selain itu, selalu ada kasus yang terjadi tiap bulannya di provinsi seluruh Indonesia. Salah satu kasus yang terjadi di Sumatera Utara hingga Oktober 2019 disebutkan 17 orang positif mengalami difteri.

Dari total angka tersebut, 3 orang di antaranya mengalami kehilangan nyawa. Bahkan, catatan tersebut selalu naik tiap tahunnya meski vaksin terhadap difteri sudah tersedia. Maka dari itu, kamu harus benar-benar tahu gejala dari difteri dan cara pencegahan penyakit tersebut. Dengan begitu, gangguan tersebut tidak mudah menyerangmu.

Lalu, apa itu difteri?

Difteri adalah sebuah penyakit yang disebabkan oleh bakteri bernama Corynebacterium diphtheriae. Gangguan ini menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan seseorang. Dalam kasus yang jarang, penyakit ini pun dapat memengaruhi kulit. Gangguan ini termasuk dalam jenis penyakit serius yang sangat menular dan bisa berakibat fatal bagi pengidapnya.

Bakteri ini dapat menyebar dengan sangat mudah, apalagi pada seseorang yang belum pernah mendapatkan vaksin difteri. Maka dari itu, sangat penting untuk mengetahui cara penyebarannya agar dapat menjadi pencegahan difteri untuk menyerang. Penularannya pun dengan cara-cara umum sederhana, seperti:

  • Ketika seseorang menghirup udara yang mengandung percikan air liur pengidap saat bersin atau batuk.

  • Kontak langsung dengan luka borok pada kulit pengidap. Biasanya penularan ini terjadi oleh pengidap yang tinggal di lingkungan yang kurang bersih.

  • Melalui barang yang terkontaminasi oleh bakteri, seperti handuk, alat makanan, dan lain-lain.

Selain penyebarannya yang mudah terjadi, bakteri ini juga dapat menimbulkan gangguan yang fatal. Hal ini disebabkan karena bakteri tersebut menghasilkan racun yang membunuh sel-sel sehat dalam tenggorokan. Pada akhirnya, kumpulan sel mati tersebut dapat membentuk lapisan abu-abu pada tenggorokan. Racun dari bakteri juga dapat menyebar ke aliran darah yang menyebabkan kerusakan pada jantung, ginjal dan sistem saraf.

Dengan mengetahui dampak yang dapat terjadi ketika penyakit tersebut menyerang, maka penting untuk memastikan kamu dan orang di sekitarmu tidak mengalami gejala dari difteri. Selain itu, cara pencegahan difteri juga sangat penting untuk dilakukan.

Baca juga: Ini Penyebab Munculnya Wabah Difteri di Indonesia

Gejala Difteri

Umumnya, butuh waktu sekitar 2 sampai 5 hari untuk gejala difteri muncul setelah masuk ke dalam tubuh. Namun sayangnya, kadang penyakit ini tidak menunjukkan gejala apapun. Secara umum, penyakit difteri dapat dikenali dari gejala-gejalanya yang dapat timbul. Berikut beberapa gejala yang dapat timbul:

  • Sakit kepala.

  • Demam dan menggigil

  • Sakit pada tenggorokan dan saat menelan.

  • Sulit bernapas.

  • Tubuh terasa lemas.

  • Terdapat lapisan yang menutupi tenggorokan dan amandel.

  • Leher membengkak (bullneck).

Difteri termasuk dalam penyakit yang mematikan. Maka dari itu, jika kamu mempunyai pertanyaan terkait gangguan ini, dokter dari Halodoc siap membantu. Selain itu, kamu juga dapat memesan imunisasi untuk difteri di beberapa rumah sakit yang bekerjasama dengan Halodoc secara online. Mudah bukan?

Baca juga: Ini Alasan Mengapa Difteri Mematikan

Pencegahan Difteri

Setelah mengetahui gejala-gejala difteri yang dapat terjadi, kamu juga harus mengetahui cara mencegahnya. Dengan begitu, tubuh kamu benar-benar kuat saat terserang bakteri berbahaya tersebut. Hanya dengan menjaga kebersihan, serta mengonsumsi makanan yang sehat saja tidak cukup untuk mencegah penyakit difteri. 

Pencegahan difteri yang paling efektif adalah dengan melakukan imunisasi. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyarankan untuk imunisasi difteri lengkap sebagai pencegahan sesuai dengan usia. Berikut adalah pembagian waktu vaksin yang dapat dilakukan:

  • Usia kurang dari 1 tahun wajib mendapatkan 3 kali imunisasi difteri (DPT).

  • Anak usia 1 sampai 5 tahun wajib mendapatkan imunisasi ulangan untuk difteri sebanyak 2 kali.

  • Anak usia sekolah wajib mendapatkan imunisasi difteri melalui program BIAS untuk siswa sekolah dasar (SD) kelas 1, kelas 2, dan kelas 3 atau kelas 5.

  • Setelah itu, imunisasi harus dilakukan setiap 10 tahun, termasuk untuk orang dewasa. Apabila kamu belum melakukan imunisasi lengkap, segera lakukan hal tersebut di fasilitas kesehatan terdekat.

ORI (Outbreak Response Immunization)

Selain itu, untuk pencegahan wabah difteri yang terjadi di Indonesia, pemerintah mengadakan program ORI atau imunisasi untuk penanganan kejadian luar biasa pada daerah yang ramai terkena kasus difteri. Program ini diadakan pada tiga provinsi yang tercatat paling banyak mengalami kasus difteri, yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten dari tahun 2017 hingga 2018 silam.

Dengan imunisasi dan ORI, pemerintah berusaha keras agar penyakit ini tidak menimbulkan kasus yang baru. Walau begitu, peran masyarakat sangat penting untuk kesuksesan hal ini. Maka dari itu, pastikan diri kamu dan orang-orang yang kamu sayangi sudah mendapatkan imunisasi untuk pencegahan difteri.

Referensi:
IDAI. Diakses pada 2020. Himbauan Idai Tentang Peningkatan Kewaspadaan Terhadap Kasus Difter
CDC. Diakses pada 2020. Diphtheria