• Home
  • /
  • Perlu Diwaspadai, Inilah Komplikasi Akibat Sindrom Rett

Perlu Diwaspadai, Inilah Komplikasi Akibat Sindrom Rett

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Perlu Diwaspadai, Inilah Komplikasi Akibat Sindrom Rett

Halodoc, Jakarta – Sindrom rett merupakan penyakit langka, tetapi harus diwaspadai. Penyakit ini terjadi karena ada kelainan genetik yang memengaruhi perkembangan otak. Kabar buruknya, bayi perempuan lebih berisiko mengembangkan penyakit ini dibanding bayi laki-laki. Sindrom rett umumnya baru akan menunjukkan gejala pada usia 1 sampai 1,5 tahun. 

Pada awalnya, bayi dengan sindrom rett mengalami perkembangan yang normal. Namun seiring bertambahnya usia, perkembangannya pun mulai terhambat. Kondisi ini kemudian memunculkan gejala-gejala penyakit, mulai dari terlambat bicara hingga gangguan bergerak. Gejala yang muncul bisa bervariasi yang tergantung pada tingkat keparahan dan usia saat pertama kali gejala sindrom rett muncul. 

Baca juga: Ketahui Penyebab Terjadinya Sindrom Rett

Komplikasi Sindrom Rett pada Bayi 

Sebagian besar bayi dengan sindrom rett mengalami pertumbuhan yang normal sampai usia 6 bulan. Setelah itu, mulai muncul gejala-gejala yang menandakan adanya kelainan. Namun, perubahan yang signifikan biasanya baru akan terlihat saat anak memasuki usia 1 hingga 1,5 tahun. Kondisi ini sama sekali tidak boleh dianggap sepele karena bisa memicu komplikasi yang bersifat parah. 

Segera lakukan pemeriksaan ke rumah sakit jika bayi menunjukkan tanda-tanda sindrom rett. Gejala yang umum terjadi adalah bayi menjadi rewel, terlambat bicara, jarang merespon jika berinteraksi dengan orang lain, gerakan tangan yang berulang-ulang, serta kepala yang terlihat lebih kecil. Penyakit ini disebabkan oleh mutasi pada gen yang mengatur perkembangan otak. Sayangnya, hingga kini masih belum diketahui pasti apa yang menyebabkan perubahan gen terjadi. 

Sindrom rett bukan merupakan penyakit keturunan. Namun, anak yang lahir dari keluarga dengan riwayat penyakit ini memiliki risiko yang lebih besar untuk mengidap penyakit yang sama. Sindrom rett lebih jarang menyerang anak laki-laki, tetapi bisa lebih parah jika sampai menyerang bayi laki-laik. Pada beberapa kasus, bayi laki-laki dengan gangguan ini, bahkan sudah meninggal sejak dalam kandungan. 

Bayi yang didiagnosis mengalami sindrom rett harus segera mendapat pengobatan. Tujuannya untuk mengatasi gejala yang muncul, sehingga anak akan lebih mudah dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Pengobatan kondisi ini meliputi terapi bicara dan bahasa, konsumsi obat-obatan, fisioterapi, mencukupi asupan nutrisi, serta terapi okupasi. 

Baca juga: Bagaimana Cara Pencegahan Sindrom Rett?

Sejauh ini, tidak ada pengobatan khusus yang dilakukan untuk mengatasi sindrom rett pada anak. Namun, umumnya Si Kecil yang menjalani terapi pengobatan di atas akan bisa lebih baik dalam menjalankan aktivitas. Anak cenderung bisa mengontrol gerak tubuh dan berkomunikasi dengan lebih baik. Meski begitu, kebanyakan pengidap penyakit ini tetap membutuhkan bantuan dalam menjalani aktivitas harian di sepanjang hidupnya. 

Jika ditangani dengan tepat, pengidap penyakit ini tetap bisa mencapai usia dewasa. Kuncinya adalah menjalani pengobatan dengan rutin dan sering berlatih. Ada beberapa komplikasi yang bisa muncul akibat sindrom rett, seperti gangguan tidur, gangguan makan, masalah tulang dan sendi, gangguan perilaku dan kecemasan, gangguan pencernaan, dan komplikasi lain. Pada kondisi yang parah, sindrom rett bisa memicu komplikasi yang bersifat fatal, yaitu paru-paru basah atau gangguan irama jantung. 

Baca juga: Cara Pengobatan Sindrom Rett yang Perlu Diketahui

Cari tahu lebih lanjut seputar penyakit sindrom rett dengan bertanya kepada dokter di aplikasi Halodoc. Kamu bisa dengan mudah menghubungi dokter kapan dan di mana saja melalui Video/Voice Call dan Chat. Dapatkan informasi seputar kesehatan dan tips hidup sehat dari dokter terpercaya. Yuk, download Halodoc sekarang di App Store dan Google Play! 

Referensi:

National Health Service Choices. Diakses pada 2019. Rett Syndrome.
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Rett Syndrome.