Pernikahan Tidak Akur atau Cerai, Mana yang Lebih Bahaya?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
pernikahan-tidak-akur-atau-cerai-mana-yang-lebih-bahaya-halodoc

Halodoc, Jakarta – Setiap pasangan yang memutuskan untuk menikah tentunya berharap dapat hidup bersama di dalam pernikahan yang harmonis sampai maut memisahkan. Namun kenyataannya, tidak ada pasangan yang luput dari problematika pernikahan. Perbedaan sifat, masalah ekonomi, perselingkuhan dan berbagai macam masalah lainnya bisa membuat suami istri bertengkar dan menjadi tidak akur. 

Bila sudah parah dan tidak bisa ditolerir, perceraian tidak jarang dipertimbangkan. Namun, perceraian tentunya bukanlah sebuah keputusan yang mudah. Apalagi bagi pasangan yang sudah punya anak. Lantas, haruskah pernikahan yang tidak akur dipertahankan atau perceraian merupakan jalan keluar yang lebih baik? Simak penjelasannya di sini.

Menurut Fredric Neuman M.D, Direktur Pusat Kecemasan dan Fobia di Rumah Sakit White Plains, tidak sedikit orang yang datang kepadanya untuk mengeluhkan masalah pernikahan yang dialami. Mereka biasanya menyebutkan sederet perilaku tidak menyenangkan dari pasangan mereka. Terkadang pasangan mereka hanya membuat satu pelanggaran, tetapi yang sifatnya serius, seperti perselingkuhan yang terjadi berulang kali, penggunaan narkoba atau alkohol, dan daftar tersebut masih berlanjut. Berikut ini beberapa hal yang biasanya dikeluhkan oleh orang tentang pasangannya:

  • Perilaku kekerasan (baik pria maupun wanita).

  • Ketidaksetiaan.

  • Pemborosan.

  • Mudah emosi.

  • Egois.

  • Berbohong berulang kali.

  • Menolak berhubungan seks.

  • Menempatkan keluarga lain terlebih dahulu.

Orang-orang yang mengeluh tersebut, biasanya menyimpulkan bahwa pernikahan mereka sudah tidak bisa diselamatkan. Meski demikian, mereka tidak ingin bercerai. Mereka terus berharap bahwa segala sesuatunya tidak terlalu buruk dan kehidupan pernikahan mereka bisa diselamatkan.

Baca juga: Hati-Hati, 5 Hal Ini Dapat Membuat Pernikahan Renggang

Berikut ini beberapa alasan yang diungkapkan mereka ketika ditanya mengapa tidak mau bercerai:

  • Demi anak-anak. Ini adalah alasan yang paling umum mengapa pasangan yang tidak akur justru tetap mempertahankan pernikahan mereka.

  • Keengganan untuk menyerangkan uang dalam tindakan perceraian.

  • Keengganan untuk pindah rumah di mana sudah begitu banyak perawatan yang diinvestasikan.

  • Pesimisme tentang alternatif yang mungkin ada.

  • Ketakutan akan kesepian.

Bila kamu mengalami masalah pernikahan dan bingung keputusan mana yang harus diambil, ada baiknya kamu memperhatikan dampak dari perceraian dan dampak bertahan di pernikahan yang tidak akur berikut.

Dampak Perceraian

Perceraian tidak hanya berdampak di antara pasangan suami istri, tetapi dampak yang lebih besar akan dirasakan oleh anak-anak mereka. Perceraian membawa perubahan besar dalam kehidupan anak-anak, berapapun usia mereka. Menyaksikan kehilangan cinta di antara orangtua mereka, melihat orangtua melanggar komitmen pernikahan mereka, menyesuaikan diri untuk bolak-balik ke dua rumah yang berbeda, semua menciptakan perubahan yang besar bagi anak.

Perceraian juga diduga bisa mengguncang kesehatan mental anak, karena bagaimanapun anak-anak sangat bergantung pada orangtua dan berharap kedua orangtua mereka bisa tetap bersama untuk mendampingi mereka hingga dewasa nanti.

Sedangkan dampak perceraian untuk diri sendiri, juga berkaitan dengan kondisi mental. Kebanyakan orang yang pernah bercerai atau gagal membina rumah tangga, terutama wanita, cenderung takut menjalin hubungan yang baru karena takut mengalami kegagalan kedua.

Baca juga: 7 Efek Buruk Perceraian Bagi Anak

Dampak Mempertahankan Pernikahan yang Tidak Akur

Namun, mempertahankan pernikahan yang tidak akur demi anak pun tidak bisa dibilang keputusan yang bijak. Menurut psikolog Mel Schwartz L.C.S.W yang dilansir dalam Psychology Today, anak-anak cenderung meniru apa yang mereka lihat dalam hubungan orangtua mereka. Anak-anak akan belajar hal yang salah tentang pernikahan. Mereka akan berpikir bahwa pernikahan bukan hal yang menyenangkan, traumatis, bahkan ada kemungkinan ia sulit menjalin hubungan saat dewasa nanti.

Sedangkan bagi pasangan itu sendiri, pernikahan yang tidak akur bisa memicu stres hingga depresi, baik pada ibu maupun ayah. Kondisi ini pun juga sering memicu terjadinya perselingkuhan. 

Baca juga: 5 Tips Untuk Tetap Bahagia Usai Perceraian

Jadi kesimpulannya, baik bercerai maupun mempertahankan pernikahan yang tidak akur memiliki dampak negatifnya masing-masing. Jadi, pertimbangkanlah dengan seksama keputusan mana yang terbaik untuk dirimu sendiri dan untuk anak-anak. Bila kamu sedang mengalami problematika pernikahan, coba bicarakan saja pada psikolog Halodoc. Kamu bisa menghubungi psikolog melalui Video/Voice Call dan Chat untuk minta saran kesehatan kapan saja dan di mana saja. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang di App Store dan Google Play.

Referensi:
Psychology Today. Diakses pada 2019. Why People In a Bad Marriage Stay Married.
Psychology Today. Diakses pada 2019. The Impact of Divorce on Young Children and Adolescents.